Bab 7

1404 Words
Zie terus mondar-mandir dalam rumahnya. Sesekali ia menggigit kuku ibu jari dengan perasaan frustasi. Apa ikut John kembali ke kota ini adalah keputusan yang tepat? Ditambah John akan tinggal serumah dengannya padahal yang paling Zie inginkan saat ini adalah menjauh dari lelaki itu dan hanya menjalani kehidupan tenangnya bersama baby Bo. Rasanya Zie belum lama menikmati kesendiriannya saat suara mobil memasuki pekarangan. Tubuh Zie menegang namun dia menyamarkan itu dengan duduk santai di sofa ruang tamu. Klek. Pintu terbuka menampakkan John yang datang sambil menenteng satu tas besar. Dia mengibas-ngibaskan tetes air dari rambut dan bahu jaket kulitnya. “Hujan?” refleks Zie bertanya. “Baru gerimis. Tapi menurut ramalan cuaca malam ini akan hujan deras dan berangin.” “Oh, mobilku...” “Bastin tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tapi aku sudah menemukan seseorang yang bisa membantuku membawa mobilmu. Jadi aku harus pergi sekarang sebelum hujan semakin deras.” Jemari Zie saling meremas di pangkuan saat John meletakkan tasnya di lantai dekat pintu. “Terima kasih,” gumamnya. John tersenyum. “Sama-sama. Mana kunci mobilnya?” Lalu pintu tertutup dan Zie kembali sendirian. Pandangannya mengarah pada tas besar John. Bertanya-tanya dalam hati apa sebaiknya membiarkan saja tas itu di sana atau membantu membawakannya ke kamar yang masih kosong. Tapi akhirnya Zie menggeleng dengan tegas lalu berdiri menuju dapur. Dia harus membuat makan siang untuk baby Bo sebelum putranya itu bangun. *** Baru pukul tiga sore tapi langit sudah gelap karena mendung yang menggantung. Hujan mengguyur deras disertai angin keras semakin menambah kelam suasana. Bolak-balik Zie mengintip dari jendela depan, menunggu dengan perasaan cemas. Sesekali dia juga menoleh ke arah jam dinding, bertanya-tanya mengapa sampai selama ini. “Papa... papa... pa...” Baby Bo berceloteh dengan lengan pendeknya terentang lurus ke arah pintu sementara jemari mungilnya membuka lalu menutup beberapa kali. Zie tersenyum seraya membelai rambut halus baby Bo. “Mama iri. Biasanya anak mama ini cuma bilang ‘mama... mama...’ saja. Sekarang ada orang yang kamu panggil papa.” “Papapa...” Baby Bo terkikik saat menoleh ke arah Zie sambil menempelkan mainan berbentuk buah jeruk ke bibirnya. “Mama juga khawatir.” Akhirnya Zie mengakui. “Semoga dia baik-baik saja.” Seolah menjawab doa Zie, suara samar mobil yang memasuki halaman membuatnya refleks menegakkan tubuh. Dan benar saja, Zie bisa melihat di antara derasnya hujan melalui jendela kaca samping pintu, ada mobil putih John yang memasuki halaman. Menuruti naluri, Zie bangkit dari lantai tempatnya bermain dengan baby Bo lalu menghampiri pintu sambil menggendong si balita. John menggunakan payung begitu keluar dari mobil lalu melintasi halaman menuju beranda. Tapi payung itu tak bisa benar-benar melindunginya dari derasnya hujan yang seolah ditumpahkan langsung dari langit. Jaket kulitnya tetap basah begitu dia menjejakkan kaki di teras. “Kau baik-baik saja?” John menyeringai. “Tentu saja. Hujan deras ini tidak akan membunuhku.” “Aku sama sekali tidak suka leluconmu.” Nada suara Zie berubah tajam. Dia sudah pernah merasakan kehilangan hingga lelucon tentang kematian dalam situasi seperti ini terdengar menghina. Tanpa menunggu tanggapan, Zie langsung berbalik masuk kembali ke ruang tamu tempat mainan baby Bo berserakan. “Zie, maaf. Aku tidak menyangka kau sekhawatir itu.” John menggosok belakang lehernya dengan salah tingkah saat menghampiri Zie dan si balita. Sejenak Zie menghela napas sebelum mendongak membalas tatapan mata hitam pekat John. “Aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku berbicara sekasar itu. Aku memang sulit mengendalikan mulutku dalam suasana hati yang buruk.” Dia berusaha tersenyum. John balas tersenyum tapi detik selanjutnya keningnya berkerut. Sejenak tadi dia merasa senang karena Zie mengkhawatirkan dirinya. Tapi begitu ingat bahwa dirinya sangat mirip dengan almarhum suami Zie, hatinya serasa dicubit. John sama sekali tidak mengerti perasaan apa itu. “Aku bawa makan siang.” John mengangkat kantong kresek di tangannya untuk mengalihkan pikiran. “Ehm, atau makan sore. Sate dan lalapan ayam goreng. Aku tidak tau mana yang kau suka.” “Aku tidak mungkin menolak keduanya.” Tanpa bisa dicegah, mata Zie berbinar. Rasanya sudah lama sekali dia tidak makan enak sejak memutuskan pergi kemarin sore. Beberapa saat kemudian, keduanya bersandar kekenyangan di kaki sofa. Sementara si kecil tampak antusias memandangi guyuran hujan. Zie sengaja membiarkan pintu terbuka lebar namun menjadikan meja sebagai penghalang di pintu agar si balita tidak bisa keluar dan hanya berdiri sambil bertumpu pada meja memandangi hujan. “Enak sekali.” Zie tersenyum. “Untung kau terpikir untuk membeli makanan. Aku saja lupa kalau ternyata dapurku kosong.” Sejenak John seolah terhipnotis. Wajah Zie yang biasanya memucat tiap melihatnya kini berbinar. Bibirnya tersenyum dengan lepas. Bukan sekedar senyum terpaksa. “Terima kasih,” lanjut Zie salah tingkah karena John tidak menanggapinya dan hanya diam menatapnya. Zie menunduk lalu menyibukkan diri dengan membereskan bekas makan mereka. “Ah, iya.” Akhirnya John berkata. “Sebenarnya begitu pemilik rumah menyerahkan kunci padaku, aku langsung menggeledah seluruh tempat ini. Aku berusaha mencari petunjuk kira-kira ke mana kau akan pergi. Karena itu aku tahu tidak ada makanan di sini.” “Oh,” Zie meringis malu. “Seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Aku bukan pendendam.” Zie bermaksud melucu tapi John menanggapinya dengan serius. “Tapi kau pergi begitu saja. Itu tampak seperti balas dendam.” “Ehm, bukan bermaksud begitu. Aku hanya—khawatir kita semua akan jadi canggung. Jadi pilihan terbaik adalah pergi.” Ditambah sudah merusak pertemanan dengan Julia. Bagaimana bisa aku masih bertahan? lanjut Zie dalam hati. “Kabur dari masalah tidak akan pernah berakhir baik, Zie.” Ucapan John membuat tangan Zie yang sedang mengelap lantai membeku. Tapi dia bisa segera menguasai diri dan melanjutkan menumpuk piring dan gelas kotor mereka lalu berdiri menuju dapur tanpa menanggapi. Beberapa saat kemudian setelah urusan dapur selesai, tak ada lagi yang bisa Zie lakukan selain ke ruang tamu menemani baby Bo. Akhirnya dengan berat hati dia menuju ke sana lalu tertegun melihat baby Bo duduk di pangkuan John sambil sesekali tangan mungilnya menepuk d**a dan telapak tangan John dengan antusias. Sampai kapan aku akan terbiasa melihat itu? “Mama datang,” gumam John pada si balita begitu dia melihat Zie. “Mama... mama... ma...!” pekik baby Bo senang. Hati Zie serasa dicubit. Andai dalam situasi berbeda, bukankah mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh? Menahan perasaannya, Zie memilih duduk bersandar pada sisi meja yang masih menghalangi pintu sementara John duduk bersandar pada sisi sofa. Jarak yang terentang di antara mereka lumayan jauh. Tapi terasa tidak cukup jauh bagi Zie. “Aku dengar kau memanggil baby Bo ‘Kei’.” “Iya, Keivan.” “Lalu kenapa ‘baby Bo’?” “Bo, bocah.” Zie tersenyum sendiri sambil menatap si balita yang asyik mengoceh sendiri. “Refleks saja. Aku memang selalu memanggilnya begitu bahkan saat masih dalam kandungan.” John turut tersenyum sambil membelai rambut halus baby Bo. “Dia pasti akan protes begitu sudah mengerti.” “Aku pasti akan berhenti memanggilnya begitu setelah dia cukup besar. Tapi sekarang, biar aku menikmatinya.” “Lalu nama lengkapnya?” Seketika Zie membeku tapi berpura-pura tenang saat berkata, “Fabian. Keivan Fabian.” “Kau pasti bercanda?” John tergelak. “Apa ada yang salah?” Zie mengerutkan kening seolah tidak memahami maksud John. “Nama belakangku juga Fabian. Jonathan Fabian.” “Wow, kebetulan sekali.” Zie tertawa pelan. “Tapi memang nama Fabian cukup umum.” John menatap Zie cukup lama dengan sorot ragu. Pertanyaan Julia terngiang dalam benaknya. “Apa—itu nama belakang papanya? Suamimu, maksudku.” Mendadak Zie berdiri. “Bisakah kau jaga baby Bo lebih lama? Aku ingin mandi.” “Aku menemukan ini saat menggeledah kamarmu.” Zie berhenti. Dengan keraguan yang serasa menekan dadanya, dia menoleh ke arah John, menatap mata pria itu selama dua detik sebelum mengalihkan perhatian pada benda di tangannya. Jantung Zie serasa akan lepas begitu ia menyadari apa yang dipegang John. “Sekarang aku mengerti kenapa kau sangat membenciku, Zie. Pasti sangat menyakitkan tiap melihatku, kan? Apa kau sangat mencintainya?” Butuh tekad dari segenap hatinya agar ia bisa bergerak lalu merampas foto itu dari tangan John. Lalu tanpa mengatakan apapun, dia bergegas melarikan diri ke dalam rumah. John hanya diam menatap kepergian Zie lalu menunduk menatap baby Bo yang menyeringai ke arahnya. Otaknya berputar cepat. Bagaimana kebetulan bisa datang berkali-kali? “Apa mungkin kau itu benar-benar keponakan Paman John?” bisik John sangat pelan agar tidak didengar Zie. “Dari saudara kembar yang tidak pernah kukenal?” ----------------------------- ♥ Aya Emily ♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD