BRAKK!
Gebrakan meja itu hanya membuat tangan Leon yang memegang pen membeku sesaat. Tapi hanya itu. Detik selanjutnya dia kembali sibuk mencorat-coret kertas di atas meja kerjanya tanpa sekalipun mendongak untuk sekedar menoleh ke arah sumber suara. Atau lebih tepatnya ke arah orang yang menyebabkan suara keras itu.
“Leon!”
Seruan bernada frustasi itu juga tak berhasil meruntuhkan sikap tak acuh Leon. Seolah dirinya sendirian dalam ruangan itu, Leon terus membolak-balik dokumen yang menjadi pusat perhatiannya dan sesekali melabuhkan catatan.
“Dasar sialan! Kau tidak bisa membisu selamanya! Kau tidak bisa mengabaikanku selamanya!”
Kalimat terakhir wanita itu berhasil menarik perhatian Leon. Dengan senyum mengejek di bibirnya, dia mendongak menatap mata hitam wanita yang tengah membungkuk dengan menopangkan kedua telapak tangan di meja kerja Leon.
“Kau ingin aku memperhatikanmu?” Leon terkekeh. “Maaf, aku sudah punya pacar.”
“Kau mengerti bukan itu maksudku, b******n!”
Salah satu alis Leon terangkat. Dengan senyum miring yang terkesan mengejek, dia kembali menunduk menatap jalinan kata di atas kertasnya. “Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan memaki-maki orang yang hendak kau pintai tolong.”
“Aku tidak minta bantuanmu,” kali ini suara si wanita lebih rendah, berubah menjadi desis penuh emosi. “yang aku inginkan hanya jawaban. Di mana John?”
“Aku tidak tahu,” sahut Leon enteng.
Brak!
Kembali wanita itu menggebrak meja dengan keras. Leon pasti heran kalau tangannya tidak terasa panas dan memerah sekarang.
“Kau pasti tahu! Kau yang selalu bersamanya. Pekerjaan kalian akan kacau kalau kau tidak tahu cara menghubunginya!”
Sekilas Leon kembali mendongak menatap mata hitam Rana, istri John. “Terima kasih atas kepercayaanmu akan kemampuanku mengurus bisnis kami. Tapi sejauh ini aku baik-baik saja.”
“Aku tidak peduli dengan bisnis sialanmu! Yang kupedulikan hanya John. Katakan saja di mana dia! Apa susahnya? Aku tidak memintamu mengantarku ke sana!”
Dengan sengaja Leon menggosok telinganya menunjukkan dia terganggu dengan seruan-seruan keras Rana. “Masalahnya... aku tidak tahu di mana John. Jadi bagaimana aku bisa memberitahumu? Apa kau tidak keberatan aku berbohong dan memberimu alamat acak yang terpikir di kepalaku?”
Napas Rana terengah saat dia beradu tatapan dengan Leon. Butuh waktu lama baginya agar bisa menenangkan diri lalu menegakkan tubuh. “Baiklah. Kalau begitu beri aku nomor ponsel yang dia gunakan sekarang.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Aku akan datang lagi dan lagi hingga kau lebih suka memecahkan kepalamu sendiri.”
Leon mengerutkan kening dengan sorot tak suka di matanya. “Kalau aku menurutimu kau akan menyingkir jauh-jauh?”
“Tentu saja.” Rana berusaha menahan senyum senangnya. Sepertinya tak percuma dia terus datang merecoki Leon. Pada akhirnya lelaki itu sampai pada titik lelah.
“Kau sudah janji,” tegas Leon dengan tatapan tajam lalu menuliskan deretan nomor ke atas kertas kosong dan segera menyerahkannya pada Rana. “Sekarang pergilah,” usirnya, sama sekali tak berusaha bersikap lembut.
“Aku juga tidak sudi lebih lama di sini,” kali ini Rana yang tersenyum sinis lalu berbalik keluar dari ruangan Leon.
Beberapa menit kemudian begitu Rana sampai di luar kantor L&J Group milik John dan Leon lalu masuk ke mobilnya, senyum lebar Rana tak bisa disembunyikan lagi. Duduk di balik kemudi, Rana menatap girang rangkaian nomor yang ditulis Leon.
“Hebat sekali. Akhirnya si Leon mengalah juga. Tak kusangka.” Rana terkikik senang.
Tapi kegembiraanya tak berlangsung lama saat dia menyadari sebuah kejanggalan.
Tidak biasanya Leon mengalah dengan mudah, tak peduli Rana terus datang mengganggu dan bertekad membuat lelaki itu tuli. Jadi kenapa mendadak sekarang dia menyerah begitu saja?
Penasaran, Rana mengeluarkan ponselnya dari tas lalu mengetik rangkaian nomor itu dan menekan tombol panggil. Dengan jantung berdebar Rana menunggu. Tak butuh waktu lama. Setelah tiga deringan, panggilannya diterima.
“Halo.”
“J-John?”
“Kita baru bertemu beberapa menit lalu dan kau sudah merindukanku, rupanya.”
Refleks Rana menjauhkan ponselnya dari telinga seolah benda itu baru saja menyengat telinganya. Bibirnya terbuka tak percaya dengan pandangan mengarah ke layar ponsel. Lalu detik berikutnya, dia berteriak frustasi.
“ARRGHHH!”
Terdengar tawa keras di telepon yang Rana tahu berasal dari Leon sebelum sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh lelaki itu.
Rana memukul-mukul stir mobil dengan geram sambil bersumpah dalam hati akan membuat hidup Leon tak tenang sampai John kembali.
***
Sudah seminggu mereka tinggal bersama. Seperti yang John katakan, gosip menyebar semakin panas. Zie merasa tidak nyaman dengan semua itu sementara John tampak tak peduli.
Hubungan Julia dan Zie kembali terjalin dan semakin akrab. Keduanya sudah bertekad akan berpura-pura pertengkaran mereka tak pernah terjadi. Julia sangat senang John berhasil membawa Zie kembali. Satu-satunya yang tak ia dan Bastin setuju adalah pilihan John untuk tinggal serumah dengan Zie dan menyebabkan gosip itu kian berkobar.
“Kalau istrimu tahu, bagaimana?” desak Julia kesal.
“Dia tidak akan pernah tahu. Lagipula aku tidak selingkuh dengan Zie seperti yang dikatakan gosip itu.”
“Setidaknya apa kau tidak memikirkan perasaan istrimu? Sebagai seorang wanita aku merasa sangat kecewa, John.”
“Mungkin itu lebih bagus,” gumam John pelan.
“Apa? Sebenarnya ada apa dengan pernikahanmu?”
John hanya tersenyum namun tak menjawab pertanyaan Julia. “Jangan sampai Zie tahu aku sudah menikah, oke? Satu orang tahu dan yang lainnya juga akan tahu. Aku tidak ingin dia dicap perebut suami orang. Jadi hanya kalian di kota ini yang tahu bahwa aku sudah menikah.”
Julia menatap Bastin meminta dukungan namun sang suami hanya mengangkat bahu. Akhirnya Julia menyerah dan tak pernah mengungkit mengenai istri John lagi meski tatapannya selalu menyiratkan tidak setuju.
Kini John sibuk di ruang tamu dengan berbagai gambar dan kertas berserakan di atas meja. Sementara Zie baru bergabung dengan lelaki itu setelah memandikan baby Bo.
“Jangan letakkan barang-barang penting seperti itu. Atau baby Bo akan merusaknya,” tegur Zie seraya mendudukkan baby Bo di lantai, cukup jauh dari John lalu mendekatkan mainannya pada si balita.
“Aku sudah hampir selesai,” kata John tanpa mengalihkan perhatian dari apapun yang sedang dibacanya dengan serius.
Zie melihat itu sebagai kesempatan. “Sudah kuduga ini ide yang buruk. Seharusnya kau tidak tinggal di sini bersama kami. Baby Bo akan mengacaukan pekerjaanmu.”
John berdecak. “Kupikir kau sudah menyerah bertekad untuk mengusirku pergi dari rumah ini. Ternyata belum.”
Zie mengerucutkan bibir lalu memilih fokus untuk bermain dengan baby Bo. Beberapa kali dia harus mengangkat si kecil kembali ke antara mainannya saat dia merangkak dengan bersemangat ke arah John. Tapi tentu saja, baby Bo hanya bisa dijauhkan beberapa kali. Setelahnya dia mulai merengek untuk mendapatkan keinginannya.
“Kenapa masih lama?” tanya Zie dengan nada menuduh seraya menggendong baby Bo lalu mendekati John.
“Aku agak bingung memutuskan ini,” katanya seraya menunjuk gambar-gambar yang terhampar di meja. “Aku masih ada dana untuk membeli satu lahan lagi. Tapi tidak yakin harus memilih yang mana.” John menunjuk satu gambar sebuah bioskop yang sudah tak beroperasi lagi. “Ini di tengah kota. Seharusnya cukup mudah untuk dijual lagi setelah diperbaiki. Tapi aku tidak yakin bangunan apa yang harus menggantikan bioskop yang cukup menguntungkan.”
“Kenapa bukan merenovasi bioskopnya?” tanya Zie tertarik. Jiwa berjudinya menggelegak saat memperhatikan tiap gambar.
“Sudah ada Le Cinema tak jauh dari sana. Fasilitasnya sangat lengkap dan tiket masuknya lumayan murah. Pasti tidak akan ada yang mau datang ke bioskop baru dengan harga tiket sama. Tidak mungkin bisa memberikan harga lebih murah lagi kecuali bersedia rugi.”
“Pilihan apa lagi yang kau punya?” John senang Zie bersedia dia ajak diskusi. “Yang ini. Ini dekat dengan area perumahan yang sedang dibangun. Aku bisa memikirkan beberapa bangunan yang cocok di tempat itu. Tapi sayangnya si pemilik mematok harga sangat tinggi dan tidak bisa ditawar. Itu hampir tiga kali lipat lahan di tempat lain dengan luas dan lokasi yang sama.”
“Apa uangmu tidak cukup?” Baby Bo kembali merengek dalam gendongan Zie.
“Turunkan saja, aku sudah selesai.” John membereskan kertas-kertas di meja lalu memberikan satu lembar pada baby Bo yang menerimanya dengan mulut terbuka senang. “Uangnya ada. Tapi jiwa bisnisku tidak bisa menerima harga setinggi itu,” John terkekeh.
Zie mengerutkan kening dengan serius lalu menunjuk gambar lain. “Kalau yang ini?”
“Ah, ini malah sebaliknya. Harganya sangat murah. Tapi lokasinya sangat terpencil. Aku tidak yakin bisa dibangun tempat tertentu yang menguntungkan. Itu sebabnya si pemilik berani menjual dengan harga sangat rendah.”
“Kudengar di tv akan dibangun jalan tol dari sini ke sini.” Zie menunjuk peta yang juga terhampar di meja. “Kurasa rutenya akan melewati tanah yang dijual ini. Kau akan untung besar kalau membelinya.”
Sejenak John menatap yang ditunjuk Zie lalu mendongak ke arah wanita itu. “Kalau, Zie?”
Zie angkat bahu. “Pekerjaanmu kan memang bertaruh. Memangnya kau tidak pernah rugi karena apa yang kau bayangkan ternyata tidak sesuai kenyataan? Misal lahan yang sudah menghabiskan banyak biaya perawatan ternyata sama sekali tidak menghasilkan apapun?”
John melipat kedua tangan di depan d**a lalu bersandar di sisi sofa. “Ya, benar. Tidak jarang aku rugi. Tapi sebelum bertaruh seperti katamu, aku selalu memastikan kalaupun rugi, aku tidak akan rugi banyak.” Lalu John menunjuk lahan kosong yang hanya ditumbuhi tanaman rumput liar. “Tapi ini, kalau tol itu tidak melewati tanah ini, apa yang harus kulakukan dengannya agar aku tidak rugi atau minimal, tidak rugi banyak?”
“Sepertinya kau harus mulai mencari tahu tanaman kayu yang paling menguntungkan di sekitar sini.” Zie tersenyum lebar dengan mata berkilat penuh semangat. “Beli lahan ini selagi masih murah harganya lalu tanami tanaman kayu misal jati. Kau hanya akan repot awalnya saja ketika menjaga tanamannya tumbuh. Setelah itu tinggalkan. Tiga atau lima tahun lagi, kau sudah bisa memetik hasil. Atau jika benar-benar beruntung, lahan ini akan dibeli dengan harga sangat tinggi untuk pembangunan jalan tol.”
John terdiam. Keningnya berkerut sangat dalam memikirkan ucapan Zie. “Aku belum pernah investasi kayu.”
“Selalu akan ada awal dari segalanya.”
Setelah terdiam selama beberapa saat, akhirnya John tersenyum. “Oke, aku ikuti saranmu. Dan kita lihat, sejauh mana insting berjudimu bisa menguntungkan.”
Zie balas tersenyum. Namun dalam hati dia menatap John sedih.
Mungkin aku tidak akan pernah tahu. Karena tiga atau lima tahun lagi, jelas kita sudah tidak akan bersama-sama.
Ya, Zie sudah bertekad, jika John memilih menetap di kota itu, dirinya yang akan pergi. Tapi sebelum lelaki itu memutuskan, Zie akan bertahan.
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥