John benar-benar membeli lahan yang disarankan Zie lalu menghabiskan banyak waktunya untuk mulai mempelajari tanaman kayu. Ada banyak sekali jenis, cara perawatan, hingga keuntungan yang kira-kira bisa didapatnya setelah panen. John menikmati tiap informasi baru yang didapatnya dan—tak disangka—merasa antusias.
Zie sendiri akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan menghabiskan banyak waktunya bersama baby Bo. Setelah membantu John memilih lahan dua minggu lalu, Zie menyadari kecintaannya pada dunia investasi yang terasa bagai judi belum pudar. Instingnya juga masih setajam dulu. Setelah menghabiskan dua minggu untuk berpikir, akhirnya Zie memutuskan untuk kembali ke dunia trading. Tempat dia dulu menghasilkan banyak uang.
Tentu saja, kondisinya tidak sebebas dulu. Dia tidak bisa terus menerus mengawasi pergerakan saham atau valuta asing agar bisa “bertaruh” di waktu yang tepat. Ada baby Bo yang juga perlu perhatiannya. Apalagi Zie memutuskan kembali menjalani pekerjaan ini agar tidak perlu meninggalkan baby Bo lagi. Tapi tak ada yang tidak mungkin. Zie bisa membagi waktu.
Sementara itu, gosip mengenai dirinya dan John perlahan mereda. Setidaknya yang didengar Zie. Tampaknya orang-orang mulai lelah membicarakan mereka. Atau mungkin ada gosip yang lebih menarik. Yang jelas Zie sudah tidak pernah mendengarnya lagi. Meski faktanya mereka—Zie, John, dan baby Bo—sering keluar bersama layaknya sebuah keluarga.
Keluarga.
Kata itu membuat Zie merasa ketakutan akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? Dia mulai membayangkan bahwa mereka memang benar sebuah keluarga. Rasanya seperti mimpi indah. Dan Zie takut begitu terjaga, rasa sakitnya membuat dirinya jatuh hingga tak sanggup melangkah lagi.
Pikiran itu terus menguasai benak Zie. Hingga dia sampai pada sebuah pilihan, bahwa dirinya harus pergi secepatnya. Sebelum baby Bo semakin tidak bisa lepas dari John. Sebelum dirinya semakin merasa nyaman.
Ya, seharusnya tidak ada masalah lagi untuk kepergiannya kali ini. Dia akan berpamitan baik-baik dan berjanji akan datang berkunjung. Meski hanya basa-basi, apapun akan Zie katakan agar dia bisa meninggalkan kota ini dengan tenang dan tanpa beban.
Pagi ini berlalu seperti biasa. Zie memasak untuk sarapan mereka bertiga lalu mereka makan bersama. Di antara tiap suapan, John selalu menceritakan yang hendak dilakukannya hari itu. Terutama mengenai perkembangan lahan yang baru dibelinya atas saran Zie. Bahkan meski Zie sudah memperingatkan agar John menghentikan kebiasaan bicara saat makan, tapi lelaki itu sama sekali tak mendengarkan dan selalu antusias hingga sulit bagi Zie untuk terus menegurnya. Bahkan tak sadar Zie juga turut tertular antusiasme John.
Baby Bo yang selalu bangun lebih pagi dari Zie ataupun John lebih banyak menyemburkan buburnya daripada memakannya. Itu salah satu alasan Zie lebih suka menyuapi baby Bo sambil menggendongnya. Tapi hari ini dia menuruti saran John membiarkan baby Bo mencoba makan sendiri.
“Dia mandi bubur,” gerutu Zie.
John tergelak. “Jangan khawatir. Aku yang akan memandikannya. Biar sesekali dia menikmati kebebasan makan sendiri.”
Semuanya berjalan seolah mereka sudah tinggal bersama sejak baby Bo belum dilahirkan. Alasan lain untuk menambah ketakutan Zie. Dengan cekatan John memandikan baby Bo lalu memakaikan bajunya. Dia bahkan tak perlu diingatkan untuk mengusapkan minyak telon dan bedak ke tubuh si balita. Popok yang dipasangnya pun tidak terbalik dan rapi.
Sementara itu Zie merapikan kekacauan yang dibuat si balita lalu mencuci piring bekas makan mereka. Setelah dia selesai, John juga baru selesai memakaikan sepatu baby Bo.
“Butuh bantuan?” tanya Zie di ambang pintu kamar yang digunakannya bersama baby Bo. Rasanya masih agak canggung membiarkan John berada di kamarnya. Di antara barang-barangnya yang feminim.
“Aku belum menyiapkan barang-barang baby Bo yang akan kubawa hari ini,” katanya sambil mendudukkan si balita di atas ranjang setelah selesai dengan sepatunya.
Saat itulah Zie memutuskan masuk ke kamar dan mendadak menyesal. Kamar itu sangat kecil. Terlalu kecil untuk mereka bertiga hingga rasanya Zie bisa merasakan sentuhan John—hentikan!
“Kau yakin dengan rencana ini?” Buru-buru Zie bertanya sebelum otaknya semakin berkelana. “Belum terlambat untuk berubah pikiran.”
John menyeringai. “Ini pasti sangat menyenangkan. Baby Bo dan si kembar akan bersenang-senang.”
“Mungkin sebaiknya aku dan Julia pergi bersama kalian. Kalian berdua tidak mungkin sanggup menjaga tiga balita itu.”
“Rileks, Zie.” John tergelak. “Ada pengasuh si kembar juga. Dan ini hanya wahana permainan untuk balita. Kami pasti baik-baik saja dan bersenang-senang.”
“Nah, itu.” Zie bertepuk tangan dengan bersemangat. “Kami juga akan bersenang-senang bersama kalian.”
John menggeleng tegas. “Tidak. Kalian butuh waktu untuk diri kalian sendiri, Ladies. Terutama Julia. Apa kau tidak kasihan padanya yang harus mengurus para balita sepanjang waktu?”
Senyum Zie langsung pudar. John tahu betul cara membuatnya menyerah.
John menyeringai. “Kalau begitu tidak ada perdebatan lagi. Sekarang aku mau mandi.”
***
Tadinya Zie ingin terus merasa bersalah karena membiarkan John dan Bastin yang menjaga para balita. Tapi rasa bersalahnya tak berlangsung lama. Pergi bersama teman wanita dan melakukan segala kegiatan wanita benar-benar sebuah kenikmatan yang nyaris dilupakan Zie. Ini mengingatkannya pada masa-masa dulu. Masa-masa sebelum menikah. Saat dirinya hanya Zie yang menikmati kehidupannya.
Setelah memanjakan diri dengan segala jenis perawatan, mereka pergi berbelanja. Atau hanya sekedar berkeliling tak tentu arah, memanjakan mata. Lalu berhenti mengistirahatkan kaki dan menikmati segala jenis makanan yang menarik perhatian.
Tak terasa, matahari sudah bergulir ke barat. Langit sudah sore saat mereka memutuskan menghentikan acara jalan-jalan di area pertokoan. Kedua tangan mereka penuh dengan barang-barang belanjaan.
“Ternyata tempat parkirnya sangat jauh,” gerutu Julia.
“Lebih tepatnya kita yang berjalan terlalu jauh,” Zie menyeringai.
“Kau benar.” Julia tergelak. “Tapi sepadan dengan kesenangannya. Toko roti di sana benar-benar yang terbaik.” Julia menunjuk belakang mereka dengan ibu jarinya.
Zie menepuk perut lalu mendesah. “Sepertinya aku harus diet setelah ini.”
Julia berdecak. “Yang benar saja. Kau masih menyusui.”
Zie yang hendak menanggapi mendadak menghentikan langkah. Itu membuat Julia juga turut berhenti lalu menoleh ke tempat yang dipandang Zie.
“Astaga, sepertinya kita lewat jalan yang salah,” bisik Julia menyadari keramaian apa yang tampak beberapa meter di depan mereka.
Di sana, di depan salah satu area pertokoan yang sudah tidak digunakan, ada sekelompok orang yang tampaknya sedang berjudi dan mabuk-mabukan. Bukan hanya para pemuda berandalan. Banyak beberapa wanita juga. Mungkin wanita penghibur.
“Sebaiknya kita lewat jalan lain,” bisik Julia lagi.
“Tunggu,” gumam Zie lalu berjalan mendekati orang-orang itu.
“Kau gila!” seru Julia pelan sambil berusaha menyusul Zie. “Kau ingin menawarkan diri untuk digilir para pemabuk itu?”
“Tentu saja tidak. Aku masih waras.” Zie menyeringai dan kembali memusatkan perhatian pada orang-orang itu.
Sudah lama dia tidak melakukannya. Dan dalam kamus Zie, yang seperti ini baru namanya benar-benar bersenang-senang.
Julia tampak panik begitu mereka semakin dekat. Tapi dia tidak mau pergi sendirian. Jadi yang dilakukannya hanya menutup mulut dan terus membuntuti Zie sambil dalam hati berdoa semoga Zie tidak berniat bunuh diri.
“Wah, apa yang dilakukan dua Nona cantik ini di sini? Apa kalian tersesat?”
Zie bisa mencium bau alkohol dari mulut lelaki botak yang menyambut kedatangan mereka. Tapi pandangannya masih fokus menunjukkan dia belum sepenuhnya mabuk. Sebagai tanggapan, Zie tersenyum manis.
“Tidak, kami tidak tersesat. Apa kira-kira masih ada satu tempat untukku dalam permainan? Aku punya beberapa ratus ribu di kantongku dan berencana melipatgandakannya.”
Orang-orang itu menatap Zie dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu tergelak.
“Lebih tepatnya kau seperti ingin menghamburkan uangmu, Nona. Semoga kau tidak menyesal begitu satu sesi permainan selesai dan sadar uangmu sudah habis.”
“Aku tidak akan menyesal,” sahut Zie penuh percaya diri.
“Bagaimana bos?”
Yang dipanggil Bos, tampak tak terpengaruh dengan sekitar. Dia hanya menatap Zie dengan sorot malas lalu mengedikkan dagu ke meja. “Beri dia tempat duduk.”
Suaranya dalam dan agak serak. Andai tidak ada janggut lebat yang membuat rahangnya terlihat hitam, dia mungkin cukup tampan. Yah, Zie tidak sepenuhnya yakin. Suasana sekitar mereka remang.
Salah satu orang berdiri lalu Zie duduk di tempatnya. Julia berusaha berdiri sangat dekat di belakang Zie dan sesekali menatap sekitar dengan waswas. Takut kalau ada yang lepas kendali lalu bersikap tidak sopan pada mereka. Demi Tuhan! Ini memang tempat orang-orang bertindak sesuka hati. Mereka seperti dua kelinci yang masuk dengan sukarela ke sarang serigala.
“Aku tidak punya banyak waktu. Jadi hanya bisa bermain satu sesi. Jadi akan kupertaruhkan semua uang di sakuku.” Zie mengeluarkan enam lembaran uang seratus ribuan dari sakunya dan meletakkannya di meja.
Terdengar siulan panjang. Entah siapa. Tapi jelas meremehkan.
“Dan...” lanjut Zie. “kuharap kalian mau bersikap jantan dengan tidak menggunakan kartu di saku atau lengan baju kalian. Itu sangat memalukan hanya demi bisa mengalahkan seorang perempuan, iya kan?”
Suasana yang tadinya riuh penuh ejekan seketika hening. Sementara Julia tidak paham yang dimaksud Zie, para lelaki menatap Zie dengan pandangan baru. Mereka mulai memperhitungkan kemampuan Zie. Jelas dia bukan orang baru dalam permainan poker.
Lelaki yang dipanggil Bos tersenyum kecil. Setidaknya Zie menganggap gerakan bibir di antara janggut lebat itu sebagai senyuman.
“Jangan khawatir, Nona. Aku sendiri yang akan mematahkan tangan mereka jika ada yang berbuat curang.”
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥