“Kau gila!”
Zie hanya tersenyum geli mendengar seruan yang dilontarkan Julia entah untuk yang keberapa kalinya. Bahkan setelah Zie menang telak yang berhasil membuat para lelaki itu melongo tak percaya hingga kini mereka sudah aman di dalam mobil menuju jalan pulang, Julia masih tak berhenti menyerukan dua kata itu.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Bagaimana kalau mereka tidak bisa menerima kekalahan lalu—” Julia tercekat. “menyakiti kita?”
“Aku bisa berkelahi.”
Pernyataan singkat Zie membuat Julia ternganga. Selama beberapa saat dia kehabisan kata dan hanya fokus mengemudi.
“Kau mau... bercerita padaku?” Akhirnya Julia berkata ragu.
Selama ini Zie tidak pernah mengungkit masa lalunya. Bahkan fakta mengenai suami dan papanya yang meninggal baru didapat Julia setelah mereka lama berteman.
“Aku bukan anak orang kaya. Tapi aku selalu bercita-cita jadi orang kaya. Di usia lima belas, waktu itu kelas dua SMP, aku berhenti sekolah dan mulai mengenal poker.” Zie tersenyum kecil saat mengenang. “Kata orang, aku punya insting berjudi yang bagus. Dan keberuntungan. Aku nyaris tidak pernah kalah.
“Tapi kau benar. Terkadang orang-orang seperti mereka tidak bisa menerima kekalahan. Terutama dari gadis kecil sepertiku waktu itu. Jadi ya, aku pernah dipukuli. Hingga akhirnya aku belajar berkelahi dan sanggup menghadapi mereka.”
Sejenak Julia masih menunggu. Namun Zie tak mengatakan apapun lagi. Dia mengerti itu pasti sudah terlalu banyak bagi Zie untuk mengungkapkan masa lalunya.
“Aku benar-benar tidak menyangka,” Julia berkata. “Kau terlihat, yah seperti ibu satu anak kebanyakan. Yang hidup sendirian.” Julia bergerak tak nyaman, khawatir menyinggung. “Kadang seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tapi ternyata—kau tahulah.”
“Ternyata aku wanita yang liar ya?”
“Tidak, maksudku bukan begitu.”
Zie terbahak melihat Julia jadi salah tingkah. “Aku tidak keberatan dengan sebutan itu. Karena memang benar.” Dia menyandarkan punggung lalu memusatkan perhatian pada jalanan di depan melalui kaca mobil. “Bisa dibilang aku hidup bebas. Yah, meski aku sendiri punya batasan, tapi aku hidup di dunia malam. Poker, minuman, taruhan, berkelahi, semua itu keseharianku. Hingga akhirnya aku jatuh cinta.” Suara Zie menghilang di akhir kalimat. Bayangan wajah lelaki yang berhasil mencuri hatinya muncul.
Kehidupan awal pernikahan mereka indah. Meski pernikahan itu tidak mendapat restu dari orang tua suaminya yang tidak mau menerima wanita liar seperti Zie, tapi sang suami tetap memilih Zie. Bagaimana hati Zie tidak melambung semakin tinggi?
Tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Tragedi itu terjadi dan merenggut mimpi-mimpinya. Hingga akhirnya Zie memutuskan pergi dan dengan hati perih, bertekad menganggap suaminya sudah mati.
“Pasti berat ditinggal dalam keadaan hamil seperti itu,” kata Julia prihatin.
Bukan ditinggal. Tapi aku yang pergi.
“Yah, begitulah.” Sekarang Zie yang merasa tak nyaman karena harus membohongi wanita sebaik Julia. “Dan sejak ada baby Bo, aku jadi tidak bisa bersikap seliar dulu. Kau pasti mengerti perasaan takut hal buruk yang kau lakukan berimbas pada anakmu. Jadi yang bisa kulakukan hanya bersikap seperti ibu tunggal kebanyakan. Waswas memikirkan masa depan dan kebahagiaan baby Bo.”
“Ya, aku mengerti.” Julia tersenyum. “Tapi kau wanita yang mengagumkan Zie. Kalau aku di posisimu, mungkin aku tidak akan bisa bertahan.”
Zie hanya balas tersenyum sebagai tanggapan. Julia salah menilai dirinya. Dia bukan wanita mengagumkan. Dia hanya pengecut yang melarikan diri dari masalah. Dan kali inipun dia akan melakukannya lagi. Melarikan diri dari John sebelum John mengetahui—atau mengingat kebenarannya.
***
Tidak banyak yang perlu dilakukan Leon hari ini. Pukul tiga sore, dia sudah bersandar malas di kursi kantornya sambil melirik jam dinding. Tidak ada pekerjaan ternyata sangat membosankan. Atau menyedihkan. Karena faktanya dia memang hanya memiliki pekerjaan sebagai temannya.
Jemari Leon mengetuk-ngetuk meja. Pandangannya tidak lepas dari pintu masuk. Dalam suasana sepi seperti ini, mendadak wajah Rana memenuhi benaknya.
Sial! Siapa yang ingin Leon bohongi? Wajah Rana memang selalu mengganggunya. Terutama dua minggu terakhir sejak Leon memberinya nomor ponselnya sendiri. Rana tak lagi datang mengganggu sesuai janjinya. Padahal yah—Leon berharap dia datang. Tapi ternyata tidak. Dan itu membuat Leon uring-uringan sepanjang waktu.
Leon mendesah lalu memejamkan mata. Kenangan saat pertama kali dirinya bertemu Rana memenuhi benaknya. Saat itu Rana baru lulus kuliah. Dia datang mencari John ke kantor ini—yang belum sebesar sekarang—untuk menagih janji hadiah kelulusan.
Mungkin itu yang disebut cinta pada pandangan pertama. Leon langsung menyukainya begitu melihat wanita penuh senyuman itu. Tapi lambat laun, Leon menyadari Rana sama sekali tak melihatnya. Setidaknya sebagai seorang lelaki. Dia hanya menganggap Leon sebagai rekan kerja John. Seluruh perhatian Rana hanya terpusat pada John.
Lama kelamaan Leon merasa kesal. Dia kesal pada Rana yang tidak berhenti memandang John padahal John tidak balas memandangnya. Dia juga kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengalihkan perhatian dari Rana meski Rana sama sekali tak menyadari perhatiannya. Akhirnya yang dilakukan Leon bukannya menunjukkan perasaannya, tapi selalu berusaha memancing pertengkaran dengan wanita itu.
Mendadak Leon berdiri. Gerakan tiba-tiba yang nyaris membuatnya tersandung.
Kenapa harus menunggu Rana memperhatikannya? Sebagai lelaki seharusnya Leon yang mencari perhatian Rana, kan? Toh John sudah secara jelas menunjukkan bahwa dia tidak menganggap Rana sebagai istrinya. Jadi apa lagi yang dirinya tunggu?
Beberapa menit kemudian, Leon sudah berada di dalam mobilnya. Sejenak dia menghela napas sebelum mencari nomor yang sudah disimpannya sejak lama namun tak berani dia hubungi. Nomor yang dua minggu lalu menghubunginya dengan sangat singkat. Dan yang didapat Leon hanya teriakan frustasi.
Kenangan itu berhasil membuat Leon lebih tenang. Sambil tersenyum geli membayangkan wajah kesal Rana, Leon menunggu panggilannya tersambung. Dan ternyata Rana menerimanya setelah dua deringan. Padahal dia sudah bersiap menghubungi Rana dengan nomornya yang lain kalau ternyata wanita itu memblokir yang ini.
“Halo,” sahut Rana tanpa curiga.
Senyum geli Leon semakin merekah. Sepertinya Rana tidak menyimpan nomornya. “Temui aku di restoran langganan John jam 7 malam.”
Sejenak hening. Lalu Rana bertanya ragu. “Leon?”
Leon tak menyangka Rana langsung mengenali suaranya. Hal itu membuatnya senang. Namun dia berusaha membuat kata-katanya terdengar datar dan malas. “Ya.”
“Kenapa aku harus menemuimu?!” pekik Rana. “Aku sudah bersumpah tidak akan—”
“Aku punya informasi mengenai John.”
Hal itu berhasil menarik perhatian Rana. “Apa yang kau inginkan? Kau pasti tidak akan memberitahu apapun secara cuma-cuma.”
“Pintar. Datang saja. Nanti kau akan tahu.” Lalu dia menutup telepon, sengaja menghalangi apapun protes Rana.
Sekarang waktunya pulang dan ganti pakaian. Leon punya satu jam sedikit merapikan diri untuk kencan malam ini.
***
“Mama... mama...!”
Baby Bo melonjak-lonjak dalam gendongan John begitu Zie keluar dari mobil. Sambil tersenyum senang, Zie menghampiri mereka berdua yang berdiri di teras lalu meraih si kecil ke dalam dekapannya.
“Sayang!” Zie menciumi wajah baby Bo. “Kangen Mama, ya?”
“Ma... ma... mama!”
“Anak Mama ini merepotkan Papa John, kan?” Dua minggu lalu Zie benar-benar tidak bisa memanggil John dengan sebutan papa. Tapi akhirnya dia mulai terbiasa. Salah satu hal yang membuat Zie semakin yakin harus pergi.
“Kenapa kedengarannya kau ingin baby Bo merepotkanku?” John mengerutkan kening.
Zie menyeringai. “Karena aku berharap kau menyesal membawanya pergi lalu tak ingin melakukannya lagi.”
“Itu tidak mungkin,” John tersenyum mengejek.
“Baiklah, terserah. Oh, bisa tolong bawakan barang belanjaan di mobil?”
“Kuharap kau ingat membelikan sesuatu untuk papa baby Bo.”
DEG.
Zie mendekap baby Bo lebih erat saat John mengatakan itu. Papa baby Bo. Andai John tahu yang sebenarnya. Buru-buru Zie berbalik membelakangi John seraya berkata, “Ada beberapa kemeja untukmu. Semoga cocok karena aku tidak yakin apa ukurannya pas.”
Di ruang tamu, Zie menurukan baby Bo ke lantai. John menyusul dan meletakkan kantong-kantong belanjaan tak jauh dari mereka. “Wah, Bo. Papa dapat kemeja.”
“Jaja...”
Baby Bo menjulurkan tangan hendak meraih salah satu kantong. Zie mengambilkan yang berisi mainan lalu memberikannya pada si kecil.
“Kemeja,” koreksi Zie. “Dan yang ini robot.”
Baby Bo melongo dengan raut khasnya begitu berhasil mengeluarkan robot berbentuk hewan dan kantong. Lalu detik selanjutnya dia terkikik geli sambil memukul-mukulkan robot itu ke lantai.
“Bukan begitu cara mainnya.” John tertawa.
Zie juga tertawa sambil memasang baterai lalu menyalakan robot yang bisa berjalan dan bersinar itu. Sekali lagi, wajah melongo baby Bo menjadi tontonan yang menggemaskan.
“Ini pas sekali.”
Perhatian Zie beralih pada John yang sedang mencoba kemeja bergaris yang dibeli Zie. Tak disangka, sangat pas membalut tubuhnya. Bahkan terlihat keren dibiarkan terbuka dengan kaus pas badan yang dikenakan John.
“Apa yang tajam ini?” tanya John sambil meraih ke belakang leher.
“Labelnya,” Zie tersenyum geli lalu mendekati John dan melingkarkan lengannya ke sekeliling leher John. Sebuah gerakan refleks yang tak disadarinya. “Nah, selesai.”
Begitu labelnya lepas, dia menunduk menatap John yang juga balas menatapnya dengan sorot aneh. Saat itulah Zie sadar apa yang dilakukannya. Selama beberapa detik yang terasa lama sekali, mereka hanya saling memandang dengan jantung berdebar cepat.
“Mama... mama...!”
Suara si kecil berhasil menyadarkan Zie. Dengan kaget dia menjauhkan lengannya dari John lalu mundur menempel pada si kecil.
“Maaf,” gumamnya salah tingkah.
Tak ada tanggapan. Penasaran Zie mendongak menatap John dan menyadari sorot aneh itu masih memenuhi matanya. Apa itu gairah?
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak—”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Pertanyaan John seketika membuat Zie bungkam. Jantungnya yang tadi berdebar cepat langsung seolah berhenti berdetak.
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥