Zie pura-pura tersenyum geli mendengar pertanyaan John. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Aku merasa mengenalmu.” Zie menangkup pipinya. “Wajahku memang pasaran.” John menggeleng tegas. “Tidak. Aku merasa memang mengenalmu.” “Baiklah. Jadi kita saling mengenal?” Ada nada menantang dalam suara Zie. John terdiam. “Hanya perasaanmu.” Zie tersenyum menenangkan. “Jadi jangan bebani dirimu untuk sesuatu yang tidak nyata.” Lalu dia berdiri. Mendadak John juga berdiri. Dalam beberapa langkah lebar, dia menghapus jarak antara mereka lalu merangkul pinggang Zie, membuat mata Zie terbelalak kaget. “Kau—mau apa?” Ada nada panik dalam suara Zie saat kedua tangannya menyentuh d**a John lalu berusaha mendorongnya. “Lihat aku!” geram John sambil menangkup rahang Zie dengan tangannya yang bebas lalu

