Sebuah pukulan mendarat di wajah Mandala dan membuatnya terkesiap kaget. Matanya melotot memandang Pamungkas yang kini mengacungkan tinju dengan mengancam.
“Berani kamu menghina keluargaku, mau ku—,”
Kata-kata Pamungkas mendadak terputus, tertelan oleh satu tendangan keras dari Mandala yang tepat menghantam perutnya. Tubuhnya melipat ke depan, wajahnya meringis menahan sakit, napasnya tersengal. Belum sempat ia menegakkan badan, sebuah pukulan kembali mendarat, menghantam wajah dan bahunya tanpa ampun.
Tubuh Pamungkas terhuyung, menabrak meja hingga perabotan di atasnya berjatuhan dengan suara gaduh. Namun Mandala tak peduli. Amarah yang membara di dadanya telah menutup telinga dan pikirannya. Ia terus menghujani Pamungkas dengan pukulan, tiap hantaman memantulkan dentum kemarahan yang lama terpendam, sementara ruangan dipenuhi suara benda berjatuhan dan erangan kesakitan.
“Stop! Berhenti!” Roro Ratri berteriak panik. “Tolong, tolong!”
Tak lama para pelayan datang melerai dan memisahkan perkelahian. Agak susah mengendalikan Mandala yang marah bagai banteng jika Pak Lek Tarno tidak memohon hingga nyaris menangis.
“Ada apa ini?”
Suara Nyai Sundari datang membelah keributan. Matanya menatap dengan terbelalak ke arah Roro Ratri yang menangis, Pamungkas yang terduduk di kursi dengan wajah lebam dan meja makan yang porak poranda. Dengan sigap ia mendatangi Mandala dan melayangkan satu pukulan keras ke wajah anak tirinya.
“Dasar anak ndak tahu diri! Baru datang sudah bertingkah!” desisnya marah lalu berucap ke arah Pak Lek Tarno.
“Bawa dia pergi !”
Mandala menatap dengan benci ke arah Nyai Sundari, tangannya terulur untuk meraba pipinya yang baru saja kena tamparan. Ia menurut saat Pak Lek Tarno memaksanya keluar tapi sebelum itu ia sempat mendesiskan ancaman.
“Ini rumah gue, jangan harap gue akan diam saja kalau diinjak-injak di sini!”
“Pergii!”
Diiringi jeritan Nyai Sundari yang lantang penuh kebencian, Mandala meninggalkan ruang tamu dan menerobos dinginnya pagi. Ada Pak Lek Tarno yang merendengi langkahnya dan mengucapkan penghiburan. Mereka berdua melewati halaman tanpa tahu harus menuju kemana.
Hati Mandala terlalu marah, terlalu terluka untuk berpikir akan kemana membawa kakinya melangkah. Dia bahkan mendengarkan hanya sepintas lalu ucapan Pak Lek Tarno yang menyuruhnya untuk mendinginkan kepala.
Selalu seperti ini setiap kali Mandala bertemu dengan saudara tirinya. Mereka tak pernah akur dari dulu. Masing-masing tahu jika mereka saling membenci. Kini, keadaan makin memanas setelah kematian Pak Hardjo. Rasanya akan mustahil untuk berdamai dengan mereka.
Langkah kakinya terhenti saat mereka mencapai rumah besar berdinding kayu dengan atap asbes. Ada semacam mau menyengat keluar dari dalam rumah. Penasaran dengan apa yang diciumnya, Mandala melangkah mendekati pintu yang terbuka. Pemandangan yang dilihatnya membuatnya tercengang. Ada banyak sekali cabe dalam berbagai karung. Pantas saja dia mencium bau aneh.
Seorang gadis yang ia kenali sebagai pelayan yang ia cium tadi malam, terlihat sibuk menimbang. Beberapa orang terlihat mengantri di depannya. Sementara seorang gadis berambut pendek, yang duduk tak jauh dari gadis itu, sibuk mencatat dan memberikan uang.
“lni tempat penyimpanan dan penimbangan cabe, Den. Para buruh setelah panen cabe akan membawa kemari dan kitalah yang akan menjual ke pasar,” terang Pak Lek Tarno.
Mandala mengangguk, matanya mengawasi sekitar. Saat itulah matanya bersirobok dengan gadis yang sedang
menimbang cabe. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Teringat olehnya ciuman tadi malam dan Mandala berani bersumpah jika gadis itu tidak pernah dicium sebelumnya.
“Siapa nama gadis itu?” Mandala bertanya pada Pak Lek Tarno sambil menunjuk Sekar.
“Ooh, itu Mbak Sekar. Dia itu—,”
“Pak Lek, jangan diam aja to. Bantu kami!” Gadis berambut pendek berteriak memanggil Pak Lek Tarno dan membuat laki-laki tua itu tidak menyelesaikan perkataannya.
“Iyo, iyo. Aku datang,” jawan Pak Lek Tarno balas berteriak. Lalu memandang Mandala yang berdiri diam di sampingnya. “Den Mas, saya tinggal dulu, nggih.”
Mandala tidak menjawab, hanya bersandar santai pada tiang rumah yang terbuat dari kayu, membiarkan tubuhnya seakan melebur dengan dinginnya permukaan. Tatapannya mengikuti orang-orang yang hilir mudik membawa karung berisi cabe, langkah-langkah mereka cepat namun teratur. Suasana sibuk itu seperti riuh pasar kecil yang hidup di halaman rumah.
Namun di sela keramaian itu, pandangannya kerap kembali pada Sekar. Gadis itu sibuk dengan pekerjaannya, rambut hitamnya diikat sederhana dengan ekor kuda, dress lusuh membalut tubuhnya. Meski begitu, ada pesona yang tak bisa disembunyikan. Mandala, meski enggan mengakuinya keras-keras, tahu betul bahwa kecantikan Sekar tetap menonjol—bukan karena perhiasan atau busana, melainkan karena dirinya sendiri.
Matanya memandang dengan tertarik saat Sekar meninggalkan timbangan dan melangkah menuju pintu samping. Mandala melangkah perlahan mengikutinya. Sekar berhenti di samping pohon pisang dan berusaha memotong daun dengan pisau di tangannya. Rupanya, dahan terlalu tinggi untuknya. Sekali pun ia berjinjit dan melonjak tetap saja tidak terpotong.
“Sini gue bantu.” Merebut pisau dari tangan Sekar dan membuat gadis itu berjengit kaget, Mandala mulai memotong beberapa daun pisang.
“Cukup?” tanyanya saat melihat Sekar hanya terdiam.
“lya cukup,” jawab gadis itu sambil memandangi daun yang berjatuhan di tanah.
Mengabaikan Mandala yang berdiri dengan pisau di tangan, Sekar membungkuk untuk memungut daun. Dalam hati ia merasa terkejut dengan kedatangan anak tirinya di gudang cabe. Peristiwa ciuman tadi malam masih membekas di hatinya dan ia berharap tak bertemu lagi dengan Mandala. Siapa sangka, justru pemuda itu kini ada di sampingnya. Sekar menegakkan tubuh dan mengulurkan tangannya yang bebas.
“Ape?” tanya Mandala tak mengerti.
“Pisau.”
“Ooh, lo mau pisau ini?” ucap Mandala sambil menyunggingkan senyum kecil. “Boleh, sini cium aku dulu.” Dia
menggoda sambil menyodorkan pipinya.
Sekar merasa dilecehkan, wajahnya memerah menahan marah. “Kamu ini pemuda kota tak tahu sopan santun!”
Mandala mengedikkan bahu. “Sudah banyak yang bilang gitu ke gue dan lo nggak perlu tegasin lagi. Ayo, mau pisau kagak? Sini cium gue.”
Sekar berkacak pinggang dan menjawab dengan lantang. “Kamu pikir aku perempuan apa? Enak saja minta-minta cium!”
“Hei, bukannya lo pelayan di rumah gue? Kalau lo nggak mau dipecat, udah seharusnya lo turuti apa kata gue!”
Sekar menyipitkan mata, tatapannya tajam menusuk ke arah Mandala yang berdiri angkuh seakan dunia tunduk padanya. Dalam hati, rasa benci bergejolak, membuat dadanya terasa panas. Bukan sekali ini ia berhadapan dengan pemuda-pemuda jahil yang mencoba menggodanya. Namun biasanya, semua hanya berhenti pada rayuan usil yang mudah ia abaikan.
Berbeda dengan Mandala. Pemuda itu jauh lebih berani, tindak-tanduknya sering kali melewati batas sopan. Cara bicaranya yang dingin bercampur sinis membuat Sekar merasa dipermainkan, seakan dirinya hanyalah sasaran ejekan. Ada sesuatu pada keberanian kurang ajar itu yang membuat Sekar muak sekaligus terpaksa waspada.
Suara gedebum benda jatuh membuat mereka menoleh. Seekor kucing sedang mengejar sesuatu yang sepertinya tikus atau binatang lain. Membuat daun-daun bergoyang dan ada sebuah pepaya jatuh dari pohon.
“Lo tahu nggak, kalau lo tuh terlalu cantik buat jadi pelayan.”
Sekar tersadar dari keasyikannya memandang kucing dan menoleh ke arah Mandala.
“Wajah lo mulus, bukan putih tapi semacam kuning dan bersih. Hidung lo mancung dan bibir lo sensual.” Kali ini Mandala bahkan lebih berani, mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut Sekar dan gadis itu mengelak seketika.
“Jangan macam-macam kamu, aku teriak nanti!” ancam Sekar.
Mandala mengangkat sebelah alis lalu tertawa terbahak-bahak. “Teriak apa? Mau gue perkosa? Asal tahu aja gue yang punya rumah besar ini, lo pikir orang-orang akan berani nuduh gue kalau mereka tahu siapa gue sebenarnya?”
Sekar merasa wajahnya memanas. Ia benar-benar muak dengan sikap arogan pemuda di depannya. Hanya karena merasa sebagai orang kaya, tega bersikap semena-mena.
“Aku tahu siapa kamu, ndak usah marah-marah dan pamer kekayaan sama aku,” desis Sekar menahan geram. “Lebih baik mulai sekarang kita ndak usah bicara lagi.”
Dengan daun pisang di tangan, Sekar melangkah meninggalkan Mandala.
“Wei, cewek sombong. Sini, lo. Gue belum selesai ngomong!”
Sekar tak mengindahkan panggilan Mandala, bergegas memasuki pintu dan hampir saja terjungkal saat merasa bahunya ditarik ke belakang. Mandala melotot dan Sekar pun tak mau kalah. Ketegangan terasa menguar di antara mereka.
“Den Mas, Mbak Sekar? Kok ngobrol di tengah pintu?”
Suara Pak Lek Tarno membuat keduanya tersadar. Sekar menoleh, dan mengacungkan daun di tangan. “Aku mau pulang ngasih daun buat Mbok Sum. Tolong gantikan aku sebentar, Pak Lek.”
Pak Lek Tarno mengangguk saat Sekar melewatinya. Gadis itu bergegas menuju pintu depan dan menghilang di baliknya. Meninggalkan Mandala yang tertegun dengan pisau di tangan.
“Pak Lek, cewek itu kenapa belagu banget?”
Pak Lek Tarno bertanya kebingungan. “Belagu itu apa Den Mas?”
Mandala menggaruk kepalanya dengan tangannya yang bebas. “Sombong, Pak Lek. Cewek itu sombong banget.”
“Ooh, ya ndak toh. Menurut saya, Mbak Sekar orangnya baik sekali. Mungkin karena kalian belum saling kenal.”
“Huft, pelayan aja sombong. Gimana jadi majikan?” gerutu Mandala.
Pak Lek Tarno menatap Mandala tak mengerti. “Loh, memang Den Mas ndak tahu siapa Mbak Sekar?”
“Pelayan, kan?”
Pak Lek Tarno menggeleng. “Bukan Den Mas, Mbak Sekar itu istri muda dari Almarhum Ndoro Kakung.”
Seperti ada yang menampar sisi kepalanya, saat Mandala mendengar penjelasan dari Pak Lek Tarno. Sama sekali ia tak menyangka jika gadis cantik dan muda itu adalah istri ayahnya. Dia tahu, ayahnya meninggal saat malam pertama dengan istri barunya tapi ia sama sekali tidak menyangka jika sang istri itu adalah Sekar.
Berbagai perasaan berkecamuk di hati Mandala, tentang Sekar, tentang almarhum ayahnya dan keberadaannya di rumah ini yang tidak diinginkan. Siapa sangka, pada malam pertama dia di rumah masa kecilnya, ia mencium istri dari ayahnya sendiri.