Angin bertiup kencang, membuat pepohonan yang tumbuh di pekarangan meliuk-liuk nyaris roboh. Hujan deras mendera, menciptakan bunyi berirama saat beradu dengan genteng. Suara katak bersahutan dengan curah air dari langit.
Pagi-pagi buta, Sekar dengan memakai sepatu but pendek dan jas hujan plastik warna kuning, menerobos air yang turun dari Iangit menuju sebuah motor yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Bibirnya gemeletuk menahan dingin. Dengan cekatan ia naik ke boncengan belakang dan membiarkan sang pengendara membawanya melaju menerobos hujan.
Semalaman dia merasa cemas karena hujan turun terus-menerus selama dua hari akan berakibat buruk pada tanaman padi mereka. Sebenarnya pagi ini ia harusnya berada di tempat penimbangan cabe tapi masalah sawah membuatnya tidak tahan untuk menengok.
“Minten, kamu nanti menunggu di luar saja, biar aku ke sawah sendiri,” teriaknya keras pada si pengendara motor yang ternyata seorang gadis berambut pendek.
“Iya, Mbak. Saya jaga motor tapi jangan lama-lama, nggih?”
Membutuhkan waktu dua puluh menit perjalanan menembus hujan, akhirnya mereka tiba di tengah persawahan.
“Mbak, saya takut nanti bahaya. Ada petir segala macam. Tunggu reda.” Minten berucap kuatir.
Sekar mendongak, menatap langit berhujan dan mengangguk. “Iya, aku ndak jadi ke tengah sawah. Cuma mau lihat aja dari pinggir sini.”
Selama hampir satu jam, Sekar berdiri di tepi sawah, matanya menyapu barisan padi yang basah oleh hujan semalam. Ia memperhatikan aliran air yang menggenang, menelusuri pematang-pematang yang licin dan rapuh. Beberapa rumpun padi tampak rebah, batangnya terkulai tak berdaya disapu derasnya arus kecil yang melintas. Hatinya tercekat, membayangkan hasil panen yang bisa berkurang banyak jika keadaan ini berlanjut.
Sekar menoleh ketika mendengar sapaan ramah namun penuh nada cemas. Beberapa buruh tani datang dengan langkah tergesa, jas hujan mereka basah kuyup, wajahnya serius memandang sawah yang sama. Dari raut mereka jelas, kekhawatiran itu bukan hanya milik Sekar seorang. Semua orang tahu, sawah ini adalah urat nadi kehidupan mereka, dan setiap batang padi yang rubuh berarti sedikit rezeki yang hilang.
“Ndak ada masalah serius, sebaiknya hari ini ndak usah kerja. Ayo, pulang sana!” Sekar memerintahkan mereka pulang.
Mereka tidak mau meninggalkan Sekar sendirian di sawah jadi mau tidak mau, Sekar berjanji akan pulang sesegera mungkin. Setelah melihat para buruh pulang, Sekar meminta Minten mengantarkannya ke gudang cabe. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan di sana seperti menimbang dan memilah.
Selama tiga tahun menjadi bagian dari keluarga Almarhum Pak Hardjo, Sekar terbiasa bekerja dari satu tempat ke tempat lain. la sudah berjanji akan melunasi hutang-hutangnya dengan bekerja. Karena itu dia tidak pernah mengeluh meski harus tetap bergerak di hari berhujan yang dingin.
“Setelah menjanda, jangan harap hutangmu lunas begitu saja. Bekerja untuk keluarga Hardjo dan tentu saja tetap menyandang predikat janda.”
Penegasan dari Nyai Sundari, sang istri tua membuat Sekar dengan terpaksa tinggal di rumah mereka. Tentu saja, tidak gratis dan ada harga dari setiap hal yang mereka lakukan.
***
“Den Mas, ini diminum kopinya. Semalam itu saya masuk angin jadi ketiduran, lupa jemput.”
Seorang laki-Iaki tua berpakaian kaos oblong dan celana kain gombrong hitam sedengkul masuk ke kamar Mandala dan meletakkan secangkir kopi di atas meja. Wajahnya yang keriput mengernyit memandang sosok laki-laki muda yang berbaring menelungkup di atas ranjang jati.
“Den Mas, jangan marah,”ucap laki-laki itu sekali lagi.
Terdengar erangan malas dari mulut laki-laki di atas ranjang. Tak lama tubuhnya berbalik dan menatap orang yang berdiri di dekat pintu.
“Pak Lek, ini masih pagi. Kenapa ribut sekali,” ucapnya dengan suara serak. Matanya mengerjap terbuka dan memandang keadaan kamar yang terang benderang karena lampu dinyalakan.
“Sudah bukan pagi lagi, Den. Sudah siang ini jam sepuluh. Itu, Mbok Sumi sudah menyiapkan sarapan nasi pecel sama peyek.”
Mandala merenggangkan tubuh. “Nanti saja, Pak Lek. Gue masih mau tidur.”
Pak Lek Tarjo menggelengkan kepala melihat tingkah anak majikannya. Sudah beberapa tahun Mandala tidak datang ke rumah ini dan sekarang sosok anak laki-laki telah berubah menjadi pria dewasa yang tinggi dan tampan.
“Den Mandala, ayo. Nanti Mbok Sumi nyusul kemari kalau kita ndak buru-buru ke dapur untuk sarapan.” Berucap pelan, Pak Lek Tarjo mengambil bantal yang terjatuh di lantai dan meletakkannya ke atas ranjang. Melangkah menuju jendela dan membukanya. Hujan sudah reda, tertinggal hawa dingin yang tertiup angin.
Mau tidak mau Mandala bangkit dari ranjang. Ia merasa sangat lelah dan mengantuk tapi ia tahu kebiasaan di rumah ini, tidak ada yang bangun siang sepertinya. Semua bangun pagi untuk bekerja ke sawah atau kebun.
Setelah membersihkan wajah dan menguncir rambut panjangnya dan mengganti pakaian dengan kaos dan celana kaki sedengkul, Mandala melangkah menuju ruang makan. Keadaan rumah masih sunyi seperti dulu seperti saat ayahnya masih hidup. Kini bahkan mungkin lebih sepi lagi.
Langkah Mandala terhenti dan ia tertegun menatap sepasang laki-laki dan perempuan muda yang sedang duduk di kursi dan sedang menyantap sesuatu dari atas piring. Senyum tersungging di mulutnya saat ia melangkah mendekati mereka.
“Wah-wah, tumben sekali lihat kalian bersama di hari pertama gue dateng? Kenapa? Mau nyambut kedatangan gue?”
Mengabaikan dua orang di depannya yang memandang dengan mata melotot, Mandala mengenyakkan diri ke kursi, tepat di depan mereka. Tangannya menyambar toples berisi peyek kacang, membuka tutupnya dan mengambil dua potong peyek lalu memakannya dengan lahap.
“Hah, si pengacau dari Jakarta akhirnya datang ke rumah ini.”
Laki-laki muda berwajah tampan dengan bentuk muka persegi dan rambut yang dipotong rapi memandang Mandala dengan tatapan benci. Ada semacam bekas luka di kening kanannya.
“Iyalah, kemana lagi dia pergi, Mas. Sudah pasti kemari setelah Ayah ndak ada, toh.”
Perempuan muda di sampingnya menimpali dengan sinis.
Mandala menatap tajam ke arah dua sosok yang berdiri di hadapannya—saudara tiri yang selama ini hanya menjadi bayangan samar dalam hidupnya. Pamungkas, yang berdiri tegap, memiliki garis wajah yang sekilas mengingatkan pada dirinya. Hanya saja bentuk dagu, hidung, dan guratan tegas di wajahnya membuat perbedaan itu jelas. Meski begitu, darah yang sama mengalir, dan Mandala bisa merasakannya.
Di sisi lain, berdiri Roro Ratri. Mandala terpaksa mengakui, paras perempuan itu begitu mirip dengan ibunya—begitu dekat hingga membuat dadanya bergetar samar. Ada sesuatu yang menusuk batinnya setiap kali melihat sorot mata Roro Ratri. Dengan senyum tipis dan sikap santai yang menyembunyikan badai dalam dirinya, Mandala menuding keduanya, seolah ingin menegaskan bahwa ia tahu siapa mereka dan tak lagi peduli pada rahasia yang disimpan terlalu lama.
“Kalian ini dari dulu nggak berubah, selalu sinis. Emangnya salah kalau gue datang kemari, nama gue tertera sebagai pemilik rumah ini.”
Roro Ratri mendengkus. Tangannya bersendekap dan mata memandang Mandala dengan tatapan tidak suka. Dari dulu, ia tak pernah menyukai kehadiran Mandala yang ia anggap sebagai biang onar. Anak Jakarta manja yang tidak tahu bagaimana harus bersikap sopan santun.
“Cuma warisan tok yang ada di kepalamu, kan?” ketus Roro Ratri sengit.
“Apalagi, ndak ada lagi di niat dia selain itu.” Kali ini Pamungkas menimpali.
Mandala tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan keduanya. Tangannya menyambar teko berisi teh panas dan menuang isinya dalam cangkir Ialu meminumnya perlahan.
“Ah, minum teh panas saat hujan gini emang nikmat tapi gue lebih suka kopi,” gumam Mandala pelan.
Tak lama datang seorang wanita berumur lima puluhan dengan rambut memutih di sebagian kepala. Wajahnya
tersenyum sumringah saat melihat Mandala.
“Aduh, Den. Sudah besar, ya? Lama ndak datang.” Bi Sumi meletakkan nampan berisi tempe dan ayam goreng ke atas meja lalu menghadap Mandala. “Bibi kangen.”
Mandala tersenyum lebar, matanya menghangat memandang wanita di hadapannya. “Bi Sumi, peyek buatanmu
masih seenak dulu.”
“Kalau gitu makan yang banyak, Den. Tiap hari bibi buatin peyek buat makan.”
“Bi Sumi!” tegur Roro Ratri dengan suara lantang dan membuat Bi Sumi serta Mehesa mendongak bersamaan.
“Iya, Mbak,” ucap Bi Sumi ke arah anak majikannya.
Roro Ratri menunjuk Bi Sumi dengan tegas. “Pergi ke dapur sekarang, jangan sok akrab dengan dia, ndak patut!”
Mandala menggebrak meja. “Roro Ratri, lo keterlaluan, ye? Bi Sumi ini orang tua dan lo nyuruh-nyuruh dia kayak b***k!”
Bi Sumi yang ketakutan melihat anak majikannya saling berteriak akhirnya pamit ke dapur. Dia melangkah dengan menunduk, menghindari pandangan Roro Ratri yang mengancam.
“Ini rumah kami, terserah kami mau apa?” jawab Roro Ratri tak mau kalah.
“Hah, jadi begini sikap orang-orang kaya di desa yang mengaku priyayi?” Mandala mencondongkan tubuh, menatap benci secara bergantian ke arah Roro Ratri dan Pamungkas yang kini duduk tegang di atas kursinya. “Kalian itu kayak orang nggak sekolah!”
Apa?” Roro Ratri bangkit dari kursinya. “Kamu gembel ndak tahu malu. Kalau bukan karena kamu anak Romo, sudah pasti—,”
“Pasti apa!” sergah Mandala. “Mengusirku? Coba saja kalau berani!”
Pamungkas serta merta bangkit dari kursi dan menghampiri Mandala. “Jangan berteriak dengan adikku!”
Mandala bangun dan berdiri berhadapan dengan saudara laki-laki yang sudah lama tak ia temui.
“Emangnya lo mau apa kalau gue teriak sama dia!” ucap Mandala sambil menuding ke arah Roro Ratri. “Adik lo jahat mulutnya, perlu di sekolahin.”
Plak!