Bab 1. Pengorbanan yang sia-sia
"Riana, kamu budeg, ya!" bentak kakak iparku yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang merah karena emosi.
Aku terlonjak kaget, tidak mendengar panggilannya karena aku sedang menyalakan air. Aku cepat-cepat membasuh tanganku yang kotor karena sabun, sambil memandang ke arahnya dengan rasa takut.
Mbak Maya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya tajam menatapku dengan penuh kebencian. "Ada apa, Mbak?" tanyaku, sambil menyeka keringat di kening dengan tangan yang masih basah.
"Dasar pemalas, apa kamu tidak tahu kalau suami kamu sekarang mengalami kecelakaan!" terangnya sambil membentakku. Sudah makanan sehari-hari selama menikah 2 tahun, aku dicaci maki oleh keluarga suamiku.
Aku merasa jantungku berhenti sejenak, pikiran buruk tiba-tiba memenuhi pikiran. "Apa! Mas Galih kecelakaan," pekikku terkejut, menatap ke arah Mbak Maya dengan mata yang lebar.
Tadi pagi, Mas Galih bilang akan ada meeting di daerah Puncak. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada suamiku. Semoga Mas Galih tidak apa-apa.
Mbak Maya mengangguk, dengan wajah yang masih emosi. "Iya, apa kamu budeg. Aku harus memberitahu kamu berulang kali!" bentaknya, membuat telingaku berdenging.
Aku tidak peduli dengan kata-katanya, aku langsung bergegas keluar dari rumah, meninggalkan cucian yang masih terendam air. Aku tidak sempat mengganti bajuku, yang masih basah dan kotor.
Dengan panik, aku menyetop ojek yang kebetulan lewat di depan rumah. "Pak, rumah sakit Medikal," kataku ke tukang ojek, sambil mencoba menahan air mata.
Bapak tukang ojek itu melihatku dengan pandangan aneh, membuatku merasa tidak nyaman. "Pak, kenapa?" tanyaku bingung.
Aku sedang buru-buru, tapi bapak tukang ojek itu melihatku seperti itu. "Neng, apa tidak ganti baju dulu?" tanya tukang ojek itu, terus memandang ke arah daster lusuh yang aku pakai.
Aku baru sadar melihat keadaan diriku, dan dasterku juga dalam keadaan basah. "Pak, tidak sempat. Suamiku kecelakaan, aku harus segera ke rumah sakit," kataku, dengan suara bergetar.
"Ya sudah, cepetan naik neng," kata tukang ojek.
Aku bergegas naik ke atas jok, bahkan aku lupa tidak memakai sandal karena panik dan takut terjadi sesuatu dengan suamiku. Selama perjalanan menuju rumah sakit, banyak pengendara motor yang melewati kami, seakan mengejakku. Mungkin karena penampilanku yang lusuh dan tidak terawat.
Aku menghiraukan tatapan mereka dan fokus memandang ke arah jalan yang panjang dan sibuk. Setiap detik terasa seperti jam, membuatku semakin panik.
Setelah satu jam perjalanan, kami sudah sampai di depan rumah sakit. Aku merogoh saku di daster lusuhku. Kebetulan masih ada uang receh kembalian habis beli sayur.
"Pak, maaf uangnya receh semua," kataku tidak enak hati, memandang ke arah tukang ojek.
"Tidak apa-apa, Neng. Semoga suaminya tidak apa-apa," jawab tukang ojek, mengulas senyum.
"Terima kasih, Pak," jawabku membalas senyum bapak tukang ojek itu.
Setelah memberikan ongkos ke tukang ojek, aku bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Dan, sekali lagi aku menjadi bahan tontonan pengunjung rumah sakit. Aku bisa melihat mata mereka menatapku, membuatku sedikit malu.
Aku sampai dihampiri Satpam rumah sakit, mungkin mereka mengira aku seorang pengemis. "Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Satpam itu, sambil memandang ke arahku dengan rasa ingin tahu.
"Pak, aku sedang mencari suamiku di rawat di ruangan berapa? Dia mengalami kecelakaan tadi pagi," terangku dengan tubuh gemetar.
"Oh, yang kecelakaan tadi pagi mereka pasangan pria dan wanita, Mbak. Apa korban kecelakaan pria itu suami mbak?" tanyanya, sambil memandang ke arahku dengan serius.
Aku mengeryit kening, yang kecelakaan pasangan. "Pak, Namanya Mas Galih," kataku.
"Iya, Mbak. Namanya Pak Galih Wiguna," jawab satpam, sambil mengangguk. "Tapi, Mbak..."
Aku merasa ada yang tidak beres, memandang ke arah satpam dengan rasa takut. "Apa, Pak?" tanyaku, sambil mencoba menahan napas. Apa mungkin suami meninggal dunia dalam kecelakaan itu.
"Mbak, tenang dulu. Polisi yang membawa mereka ke rumah sakit, memberikan keterangan kalau mereka lalai dalam berkendara. Saat ditemukan sang wanita tidak memakai sehelai baju pun," terang Satpam terlihat ekspresi wajahnya kasihan melihatku.
Seketika lututku lemas, aku mencoba memegang tembok yang kebetulan tidak jauh dariku. "Mbak, apa mbak tidak apa-apa?" tanya satpam itu khawatir, memandangku kasihan.
Aku menggelengkan kepala, berusaha kuat. "Aku tidak apa-apa, Pak. Tolong antarkan aku ke kamar rawatnya," kataku dengan suara terbata-bata, seraya menahan air mata yang sudah menggenang di mataku.
"Baik, Mbak. Tapi, Mbak harus kuat," ucap Satpam terlihat peduli, dan simpati.
Aku mencoba tersenyum, walau hati ini hancur. Satpam itu mengajakku menuju kamar rawat Mas Galih, saat berjalan melewati lorong. Rasanya telapak kakiku sedang menginjak duri tajam, apalagi hati ini.
Tepat di depan pintu kamar, satpam itu meninggalkanku. Aku terdiam sejenak, aku mencoba mengumpulkan sisa tenagaku. Tapi, saat aku akan membuka kamar rawat Mas Galih, samar aku mendengar suara orang tertawa.
Aku mencoba membukanya sedikit dan mengintip. Bagai tersambar petir, aku melihat suamiku sedang bermesraan di ranjang pasien. Dia tidak mengalami luka parah, hanya terlihat kakinya di perban.
"Mas, gimana kalau istri kamu tahu kalau kita kecelakaan saat kita sedang ...." Wanita itu menjeda ucapannya sambil mengerlingkan mata dengan nakal.
Aku menahan napas, dadaku sesak. "Kamu jangan pikirkan istri bodohku itu, dia itu penurut sekali dan bucin. Nanti, aku akan bilang kalau saat kecelakaan kamu yang menolongku. Dia itu gampang dikibuli, pasti dia percaya," jawab Mas Galih dengan entengnya.
"Iya, seh. Aku lihat foto istri kamu tampangnya bodoh, aku jadi tidak sabar menikah dengan kamu, Mas," ucap wanita cantik itu sambil mengelus pipi Mas Galih.
Suamiku tertawa dengan jumawa. "Kamu tenang saja, aku pasti akan menikahi kamu secepatnya," jawab suamiku.
Tapi, saat itu juga, aku merasa hatiku patah. Aku seperti mengalami mimpi buruk, suamiku yang aku cintai tega melakukan hal itu. Aku sudah berkorban banyak, sampai aku menentang Kak Refas kalau Mas Galih bukan pria baik.
Aku mencoba menahan air mata, tapi tidak bisa. Kepalaku rasanya ingin meledak, rasanya sakit sekali. Aku ingin berteriak, ingin menghancurkan semuanya, tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri di sana, membeku, sambil menatap suamiku yang sedang bermesraan dengan wanita lain.
"Tapi, gimana dengan istri kamu. Kalau dia tidak setuju kita menikah?" tanya wanita itu, ekspresi wajahnya dibuat sedih memandang ke arah Mas Galih dengan mata yang berkaca-kaca.
Mas Galih mengelus rambut panjang wanita itu dengan lembut, sambil tersenyum dengan percaya diri. "Kalau dia tidak mau, aku akan menceraikannya. Tapi, mana mungkin dia mau bercerai denganku. Aku ini pria tampan, dia itu cinta mati sama aku," ucapnya, membalas tatapan wanita itu dengan penuh cinta.
Darahku mendidih, dia pikir aku wanita bodoh yang tidak akan bisa meninggalkannya. Aku tersenyum kecut, pria yang aku bela di depan kakakku sudah menginjak harga diriku. Dia tidak tahu seluruh fasilitas yang dia pikir diberikan kantor seperti rumah, mobil karena hasil kerja kerasnya. Nyatanya aku yang memohon ke Kak Refas demi harga diri suamiku. Sebenarnya, rumah dan itu milikku.
"Eh, Sayang. Jangan dicerai, aku masih membutuhkannya. Aku butuh pembantu gratis, nanti aku akan menjadi nyonya dia yang jadi pembantu," ucap wanita itu sambil tersenyum licik, dan penuh kemenangan.
Mas Galih tertawa, dia menarik pinggang ramping wanita itu dengan erat. "Ok, deh. Aku ikuti mau kamu, asalkan kamu jangan tinggalin aku. Ingat kamu tidak boleh jalan lagi sama Pak Niko, aku cemburu," ucapnya tegas
"Sayang, Pak Niko itu yang mengejar-ngejar aku. Cintaku hanya untuk kamu," jawab wanita itu, seraya mengecup pipi Mas Galih.
Tiba-tiba, aku merasa ada yang menyentuh pundakku. Aku menoleh, dan melihat seorang perawat. "Mbak, apa mbak tidak apa-apa?" tanya perawat itu.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Sus," kataku. Suster itu mengangguk, lalu dia membuka pintu kamar rawat Mas Galih.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Aku akan memainkan peranku, berperan sebagai istri yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Aku akan membiarkan Mas Galih berpikir dia memiliki kendali atas diriku, tapi sebenarnya aku yang sedang mengatur permainan ini.
Aku mengikuti suster masuk ke dalam ruangan suami, aku sengaja berpura-pura sedih. "Mas Galih," teriakku histeris sambil memandang ke arah Mas Galih yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Suster terlihat bingung saat melihatku menangis meraung.
Mas Galih terkejut, memandang ke arahku dengan mata yang lebar. Lalu, dia melepaskan tangannya dari pinggang wanita selingkuhannya. "Riana, sejak kapan kamu datang?" tanyanya dengan gugup, mencoba menyembunyikan wanita lain di belakangnya.
Aku tersenyum tenang, lalu melirik kearah wanita itu. "Baru saja, Mas. Syukurlah kamu baik-baik saja," kataku.
Mas Galih terlihat menarik napas lega. "Oh, Riana perkenalkan dia sekretarisku namanya Lola. Dia yang menyelamatkanku, seandainya tidak ada dia mungkin mas tidak selamat," ucap Mas Galih terlihat dibuat sedih.
Wanita itu memandang ke arahku dengan mata yang penuh kebencian, tapi aku hanya tersenyum.
"Bu, perkenalkan namaku Lola Amaria sekretaris Pak Galih." Lola mengulurkan tangan ke arahku, dengan senyum yang manis. Aku menatap sinis, dia menggantung tangannya di udara tidak berniat membalas uluran tangannya. Sampai wanita itu menarik kembali tangannya dengan kesal.
"Mas, karena kamu tidak apa-apa. Aku pulang dulu, sekarang ada sekretaris kamu. Biar dia yang mengurus kamu," kataku dengan santai, menatap Mas Galih dengan mata yang dingin.
Mas Galih terbelalak kaget. "Riana, kamu bicara apa! Lola itu hanya sekretarisku, kamu itu istriku, jadi kamu yang harus merawatku!" bentak Mas Galih dengan emosi, dia menatapku dengan mata tajam. Tapi, sekarang aku tidak takut lagi. Dia pikir aku akan ketakutan saat dia marah, dan minta maaf padanya seperti sebelum-sebelumnya.
"Pak, mungkin Ibu Riana kelelahan. Lihat sampai dia berpakaian seperti itu," ucap Lola mengejekku dengan pandangan meremehkanku.
Mas Galih terlihat baru sadar, dia melihatku dari ujung kaki sampai kepala. "Riana, kamu kesini dengan pakaian seperti itu?" tanyanya terlihat dia tidak percaya.
Aku tersenyum dingin. "Mas, apa kamu lupa? Aku memakai baju seperti ini karena aku harus mengurus rumah, keluarga kamu dan juga kamu!" kataku, sambil memandang ke arah Lola dengan mata yang sinis.