Aku berdiri di depan Mas Galih, hati ini rasanya sakit sekali mendengar kata-katanya yang menyakitkan. "Riana sebagai istri itu tugas kamu!" balas Mas Galih dengan nada yang tajam.
Di depan selingkuhannya dia menghinaku. Kurang apa aku berkorban untuknya, sampai harus menentang kakakku demi bisa hidup dengannya.
Lola, tersenyum puas, menatapku dengan mata yang menyiratkan kemenangan. "Bu Riana, aku minta maaf. Bukan maksud aku mengejek ibu, tapi sebagai istri kepala Desainer perhiasan Refas Jewels harusnya ibu bisa merawat diri di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga," ucap Lola dengan suara sok manis, namun dari tatapannya dia sedang mengejekku.
Mas Galih mengangguk mengiyakan perkataan selingkuhannya. "Riana, dengar itu apa kata Lola. Dia juga sibuk bekerja, tapi dia tetap bisa merawat diri. Kamu itu sudah aku kasih uang, apa salahnya membeli baju yang pantas. Aku itu malu kalau sampai orang tahu istri Galih Wiguna seperti gembel," ucap suamiku mengejekku.
Aku merasa air mataku ingin menetes, tapi berusaha menahannya. Aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku di depan mereka. Aku berusaha tersenyum di depan mereka.
Kutatap Mas Galih dengan mata yang tajam, "Kalau begitu sini aku minta uang untuk membeli baju dan perawatan supaya aku seperti Lola sekretaris kamu," kataku menantangnya sambil mengulurkan tangan.
Wajah Mas Galih terkejut, mungkin dia kaget aku berani meminta uang. Selama menikah dengannya tidak pernah meminta uang darinya. Mas Galih hanya memberiku uang satu setengah juta, itu juga untuk kebutuhan rumah.
Aku tidak meminta lagi karena masih memiliki uang sendiri. Aku mencoba hidup sederhana, dan patuh menjadi seorang istri. "Riana, kamu meminta uang? Memangnya uang yang aku kasih itu tidak cukup untuk membeli baju dan perawatan salon," bentak Mas Galih tidak terima.
Aku tersenyum miris, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Dia bilang uang satu juta setengah bisa untuk membeli baju dan perawatan salonku? Seandainya, dia tahu berapa uang yang aku gelontorkan untuk perawatan wajah dan tubuhku dulu, Mas Galih pasti langsung pingsan.
Gajinya saja tidak ada seperempat dari biaya perawatanku. Aku meninggalkan kemewahan karena bosan dengan hidup yang sempurna, hanya demi seorang pengkhianat dan pecundang seperti Mas Galih.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Mas, kamu bilang aku harus cantik seperti sekretaris kamu. Coba kamu tanyakan dia melakukan perawatan kecantikan habis berapa?" tanyaku seraya melihat ke arah Lola.
Gadis itu terlihat kikuk, aku membalikkan perkataannya karena menghinaku. Aku terus menatapnya sampai dia menjawab berapa uang yang dia keluarkan untuk perawatan kecantikan. "Habis lima juta," jawab Lola dengan ragu.
"Mas, kamu dengar. Lola harus mengeluarkan uang lima juta untuk perawatan, sini aku minta uang lima juta juga. Aku jamin bakal cantik seperti yang kamu mau," kataku menantangnya.
Mas Galih terkesiap, aku yakin perawatan kecantikan Lola dia yang membayarnya. "Sudah ... Sudah, suami lagi sakit. Malah meminta uang untuk perawatan," ucapnya mengalihkan pembicaraan, suaranya yang semula keras kini berubah menjadi sedikit melunak.
Aku tersenyum miris, dia tidak mau membayar perawatan aku tapi ingin aku cantik. Aku tidak akan membiarkan dia menghinaku lagi.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, dan terlihat dua petugas polisi masuk ke dalam ruangan Mas Galih. Suamiku terkejut dengan wajah pias, begitu juga dengan Lola ketakutan dia sampai mepet ke tubuh suamiku. Aku sengaja tidak menegur mereka, membiarkan mereka ketakutan karena harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Selamat siang, Pak Galih," ucap salah satu petugas polisi dengan nada yang tegas. "Kami ingin meminta keterangan Anda terkait dengan kecelakaan lalu lintas yang terjadi tadi pagi."
Mas Galih mencoba menenangkan diri, tapi wajahnya masih terlihat tegang. "Apa yang ingin Anda tanyakan, Pak?" jawabnya dengan nada yang tidak terlalu yakin.
Petugas polisi itu mengeluarkan sebuah buku catatan dan mulai membaca. "Kecelakaan itu terjadi karena Anda mengemudi mobil dalam keadaan tidak fokus, dan melanggar peraturan lalu lintas. Kami juga menerima laporan bahwa Anda bermesraan dengan seorang wanita di dalam mobil saat itu."
Lola semakin mepet ke tubuh Mas Galih, wajahnya merah karena malu. Aku hanya tersenyum puas.
"Apakah Anda mengakui perbuatan itu, Pak?" tanya petugas polisi itu dengan nada yang tegas.
Mas Galih mencoba membela diri, tapi petugas polisi itu tidak membiarkan. "Kami sudah memiliki bukti, Pak. Anda harus bertanggung jawab atas perbuatan Anda."
Aku merasa puas, akhirnya karma itu datang juga. Aku tidak perlu lagi membalas dendam, karena hukum sudah mengambil alih.
Dari luar, pintu dibuka dengan keras. Ibu dan Mbak Maya datang, wajah mereka penuh dengan kekhawatiran. "Ada apa ini?" tanya ibu mertuaku menatap ke arah polisi.
Petugas polisi itu memperkenalkan diri. "Selamat siang, Ibu. Kami adalah polisi dari unit lalu lintas. Kami datang untuk menginvestigasi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak Ibu, Galih Wiguna."
Ibu mertuaku terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat. "Kecelakaan? Apa yang terjadi?"
"Anak Ibu, Galih, terlibat dalam kecelakaan lalu lintas tadi pagi. Kami menerima laporan bahwa dia mengemudi mobil dalam keadaan tidak fokus dan melanggar peraturan lalu lintas," jelas petugas polisi profesional.
Mbak Maya menatap ke arahku dengan mata yang penuh dengan kebencian. Aku hanya tersenyum, membiarkan mereka menghadapi masalah ini.
Ibu mertuaku mencoba membela anaknya. "Oh, saya tahu. Kalian datang pasti ingin memberikan uang asuransi untuk anakku?" tanya ibu mertuaku dengan percaya diri.
Petugas polisi itu tersenyum. "Tidak, Ibu. Kami datang untuk meminta keterangan dan melakukan investigasi lebih lanjut. Anak Ibu juga akan dikenakan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku."
Mas Galih yang tadinya diam, kini mencoba membela diri. "Ibu, aku tidak salah. Aku hanya..."
Petugas polisi itu memotongnya. "Kami sudah memiliki bukti, Pak. Silakan Anda ikut kami ke kantor polisi untuk proses lebih lanjut."
Ibu mertuaku menghalangi petugas polisi dengan cara berdiri di depan ranjang Mas Galih sambil merentangkan tangannya. "Eh, jangan bawa anak saya. Apa kalian tidak lihat anak saya sedang sakit," bentak ibu mertuaku dengan kasar.
Petugas polisi itu mencoba menjelaskan. "Ibu, kami memahami keadaan anak Ibu, tapi kami harus melakukan prosedur sesuai dengan hukum. Anak Ibu harus ikut kami ke kantor polisi untuk proses lebih lanjut."
Mbak Maya mencoba membantu ibu mertuaku. "Pak, bagaimana kalau istrinya saja yang bapak bawa ke kantor polisi," ucap Mbak Maya dengan nada yang manis. "Adik saya sedang sakit, sebagai istri Riana harus bisa menggantikan suaminya. Kalau harus di penjara, biar dia yang menggantikan."
Aku tersenyum miris, mereka benar-benar tidak tahu diri. Disini aku menjadi korban pengkhianat suamiku, sekarang malah dijadikan sebagai pengganti suami di bawah ke kantor polisi.
Petugas polisi itu melihat ke arahku. "Ibu Riana, apakah Anda bersedia menggantikan suami Anda ke kantor polisi?"
Aku tersenyum dengan manis. "Tidak, Pak. Saya tidak bersedia. Saya ingin suami saya yang bertanggung jawab atas perbuatannya."
Ibu mertuaku dan Mbak Maya terkejut dengan jawabanku. Begitu juga dengan Mas Galih dan Lola. "Apa? Kamu tidak mau membantu suamimu?" bentak ibu mertuaku.
Aku menggelengkan kepalaku dengan santai, menatap ke arah petugas polisi. "Pak, yang melanggar itu bukan suami saya saja. Tapi, dia bersama dengan wanita itu." Aku menunjuk jariku ke Lola, yang sedang bersembunyi dibalik punggung suamiku. Lola langsung pucat saat petugas polisi itu melihat ke arah Lola.
"Pak polisi, saya tidak tahu menahu. Saat itu saya hanya menumpang," jawab Lola dengan tubuh gemetar.
Petugas polisi itu mencatat sesuatu di buku catatannya. "Baik, kami akan memeriksa kebenaran pernyataan Anda. Dan, Pak Galih, apakah Anda mengakui perbuatan itu?"
Mas Galih mencoba membela diri, tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. "Oh, iya, kata bapak mereka melanggar peraturan lalu lintas karena saat kecelakaan mereka sedang bermesraan. Dan, aku juga dengar salah satu dari mereka tidak ada yang mengenakan sehelai pakaian pun," kataku.
Wajah Mas Galih dan Lola semakin pucat. Petugas polisi itu menatap ke arahku dengan serius. "Ibu Riana, apakah Anda ingin membuat laporan polisi terhadap wanita itu?"
Aku menatap ke arah Lola dengan mata yang dingin. "Ya, Pak. Aku ingin menuntut wanita itu atas perbuatan yang telah merusak rumah tanggaku."
Petugas polisi itu mengangguk. "Baik, kami akan memproses laporan Anda. Silakan Anda ikut kami ke kantor polisi untuk membuat laporan resmi."
"Riana, jangan!" teriak Mas Galih, tapi aku menghiraukannya. Aku berbalik hendak mengikuti pak polisi.
Tapi, Ibu mertua dan Mbak Maya menarik tanganku dengan kasar. "Pak, ini urusan rumah tangga. Sebaiknya jangan dibawa-bawa ke polisi," kata Mbak Maya seraya mencubit lenganku dengan keras.
Aku meringis kesakitan, tapi aku tidak menunjukkan kelemahan. Pak polisi mengerutkan kening, terlihat curiga. "Apakah Ibu Riana tidak apa-apa?" tanya petugas polisi itu.
Mbak Maya mencoba membela diri lagi. "Pak, namanya rumah tangga. Ada keributan dan kesalah pahaman itu wajar, untuk urusan ini biar kami selesaikan secara kekeluargaan."
"Iya, Pak. Ini hanya kesalahpahaman istri saya saja," timpal Mas Galih.
Petugas polisi itu melihat kearahku. "Saya tidak bisa memutuskan itu, Ibu Riana. Apakah Anda ingin membuat laporan polisi atau tidak?"
Aku tersenyum. "Ya, Pak. Saya ingin membuat laporan polisi. Saya ingin menuntut Mas Galih dan wanita itu atas perbuatan mereka yang sudah menodai pernikahan kami," tegasku.
Petugas polisi itu mengangguk. "Baik, silakan Anda ikut kami ke kantor polisi untuk membuat laporan resmi."
"Riana, aku mohon jangan lakukan itu. Aku akan melakukan apapun, asalkan kamu mau tidak menuntut aku dan Lola," ucap Mas Galih dengan wajah memohon.
Aku tersenyum dalam hati, kalian masuk dalam perangkapku.