Ceklek ...
Pintu kamar pengantin itu terbuka. Aira yang sudah mulai mengantuk pun hanya mendengar saja pintu itu terbuka dan tertutup lagi tanpa mau melihat siapa yang datang.
Menurut Aira, pasti Zidan, lelaki yang kini menjadi suaminya.
Kedua matanya terlalu lengket untuk terbuka dan Aira malah merekatkan guling kesayangannya ke dalam dad4 dengan erat.
Zidan melirik ke arah Aira yang berbaring di atas ranjang tanpa terganggu. Lampu kamar itu masih menyala dan kelambu ranjang belum ditutup. Senyumnya tipis saat menatap sang istri yang tidak menyambutnya.
"Aku akan tetap mencintaimu dan selalu menjagamu, Aira. Itu janjiku sejak kecil." Batin Zidan di dalam hatinya.
Zidan masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya lalu ikut berbaring di ruang kosong tepat di samping Aira.
Aira sudah meletakkan guling di bagian tengah sebagai batas mereka. Tanpa diobrolkan sebelumnya. Zidan sudah tahu.
Malam telah berganti menjadi pagi. Langit masih gelap tapi suara sholawatan menjelang adzan shubuh sudah bersahutan di Masjid.
Zidan terbangun, memang sudah waktunya bangun. Ia turun dari ranjang dan membersihkan diri lalu memakai koko dan menatap ranjang di bagian Aira tidur. Aira masih terlelap dan belum berubah juga posisi tidurnya. Tangannya yang sudah ingin memegang knop pintu pun terpaksa berbalik mendekati ranjang bagian sisi Aira tidur.
Sebagai imam, Zidan harus membangunkan Aira dan menyuruhnya sholat shubuh walaupun, Aira mengerjakannya di rumah. Ini adalah kewajiban bukan pilihan.
Zidan mendekati Aira. Wajahnya cantik sekali. Ia memakia kerudung instan warna hitam. Sejak dulu, Aira memang cantik, wajahnya khas asia yang kalem sekali.
Saat Kakek Abdulla memintanya menggantikan pengantin pria Aira, Zidan bersujud syukur karena pada akhirnya ia bisa mendapatkan Aira, cinta pertamanya.
"Aira ..." panggil Zidan begitu lembut.
"Aira ... Bangun Aira ... Sudah pagi. Kamu gak shlat shubuh?" panggil Zidan dengan lembut.
Memanggil dengan suara tidak mempan, sepertinya, Aira butuh sentuhan sedikit di bagian lengan. Mungkin jika ada sentuhan dan guncangan sedikit ia bakal terbangun.
Lagi pula mereka sudah suami istri, tidak masalah kalau saling menyentuh juga.
Zidan memberanikan diri memegang lengan Aira dan menggoyangkan lengan itu dengan pelan.
"Aira ... Bangun sayang ..." panggil Zidan dengan suara lembut sekali.
Zidan sampai bersujud di depan ranjang Aira agar Aira mendengar.
"Eumm ... Apa sih ... Masih pagi ini ..." ucap Aira sewot.
Ia mengerjapkan kedua matanya dan setengah sadar menatap Zidan yang ada di depannya. Sangat dekat sekali.
"Ngapain kamu!" teriak Aira begitu kaget langsung terbangun dan menarik selimutnya untuk menutup bagian dad4 yang sama seklai tidak terbuka.
"Emmm ... Maaf kalau mengganggu tidur kamu, Aira." Suara Zidan melemah. Ia merasa bersalah sekali membuat Aira marah.
Aira sempat menatap kedua mata Zidan yang teduh dan selalu menenangkan. Kenapa dengan mata itu? Kenapa dia begitu sabar dan tenang. Tidak. Dia hanya suami pengganti. Sudah tentu dia tidakk memiliki perasaan apapun dan pastinya dia memiliki tujuan tertentu saja.
"Aku cuma mau bangunkan kamu saja. Tidak ada niatan lain. Karena adzan shubuh sebentar lagi bergema," ucap Zidan tetap dengan nada lembut.
Aira menarik napas dalam. Pikirannya sudah berburuk sangka tadi. Padahal ia sudah memakai pakaian rapat sekali.
"Lain kali tidak perlu sentuh Aira!" ucap Aira ketus.
"Baik Aira. Maaf. Aku mau ke Masjid dulu untuk sholat hubuh," pamit Zidan yang berdiri dari sujud di depan Aira dan langsung berbalik meninggalkan Aira. Setidaknay Aira sudah bangun dan pasti melaksanakan sholat wajib untuk mengawali pagi yang baru ini.
Aira masih terdiam di ranjang. Rupa Raka masih terngiang di kepalanya. Setiap pagi, lelaki itu pasti menelepon Aira dan membangunkan Aira untuk sholat shubuh bersama. Bahkan dua hari sebelum kejadian, Raka malah mengajak video call dan sholat shbuh berjamaah secara virtual.
Sudahlah. Aira tidak perlu mengingat lagi. Kata Umi, Aira harus ikhlas walaupun memang berat. Cukup mendoakan yang terbaik untuk Raka yang suah tenang disana.
Aira segera turun dari ranjang. Adzan shubuh sudah bergema. Seperti biasa, ia merapikan tempat tidur dan melipat selimut. Tatapannya lekat pada ranjang sebelah yang juga sudah rapi. Bantal dan selimut serta spreinya sudah rapi.
***
Zidan menunggu pagi di Masjid. Ia berbincang dengan Abi Ridwan berdua saja. Kakek Abdulah sudah kembali ke kamar. Kesehatannya sedang tidak baik -baik saja. Apalagi semenjak Umi Nyai meninggal. Kakek Abdullah lebih banyak diam di dalam kamar.
"Gimana malam pertamanya?" tanya Abi Ridwan sambil tersenyum simpul pada Zidan.
"Abi tuh, kayak gak pernah muda aja," jawab Zidan begitu singkat.
Ia tidak mau menjatuhkan nama Aira di depan Abi Aira. Sikap Aira yang ketus juga tidak mungkin ia ungkapkan. Biarlah waktu yang menjawab dan Zidan akan mengusahakan yang terbaik untuk Aira hingga Aira luluh pada dirinya.
"Pasti gagal sih. Biasanya malam pertama itu gagal. Baru sebulan lagi bisa unboxing," ucap Ridwan tertawa mengejek.
"Hmmm .. Abi lebih pengalaman kayaknya ..." jawab Zidan menahan senyum simpul.
"Zidan, Abi cuma pesan. Jaga Aira baik -baik ya. Aira itu putri kesayangan Abi ... " jelas Abi Ridwan dengan penuh harap.
"Pasti Bi. Zidan akan jaga Aira. Zidan akan bahagiakan Aira. Seharsunya Zidan yang berterima kasih pada Abi, telah memberikan kesempatan untuk Zidan hidup bersama dengan Aira. Zidan sangat mencintai Aira ..." ucap Zidan mantap.
"Abi tahu soal itu. Karena Abi sudah kenal kamu, makanya Abi dan Kakek Abdullah menyandingkan kamu dengan Aira. Abi yang seharusnya berterima kasih padamu Zidan. Tanpa kamu, keluarga kami pasti sudah malu karena undanagn pernikahan sudah disebar," jelas Ridwan lagi.
"Iya Bi. Eum ... Bi, Memangnya, calon suami Aira terkena bencana?" tanya Zidan lagi.
"Benar, Rumahnya tersapu badai tsunami. Berita pun gencar memberikan informasi, dan Aira mendapatkan kabar buruk itu mendadak sekali. Kalau Aira belum bisa membuka hati, kamu yang sabar," jelas Ridwan lagi.
"Iya Bi. Lalu? Kabar calon suami Aira? Apa benar meninggal?" tanya Zidan lagi.
Soal ini Zidan benar -benar belum tahu. Bagaimana kalau calon suami Aira itu tidak meninggal dan meminta Aira kembali.
Apa yang harsu dilakukan oelh Zidan nantinya?
Hanya embusan napas dalam Ridwan yang terdengar.
"Kami belum memastikan soal itu Zidan. Smeoga saja, tidak ada maslah setelah pernikahan ini .." Ridwan mengatur napasnya perlahan. Ada kecemasan sedikit di raut wajah Ridwan.