Hany sudah membawa Aira ke depan dan duduk bersimpuh di samping lelaki yang kini sudah SAH menikahinya.
Pelafalan akad nikah yang baru saja diucapkan tadi begitu lantang dan penuh keseriusan. Jangankan semua orang yang hadir, Aira pun merasa dad4nya sesak sekalgus lega. Setidaknya lelaki yang duduk disampingnya ini sudah menjadi pahlawan bagi Aira dan keluarga Ridwan Hanafi.
Sesuai alurnya, setelah akad nikah diucapkan. Pengantin pria memasangkan cincin pernikahan di jari manis sebelah kanan milik pengantin perempuan dan begitu juga sebaliknya.
Zidan Mahesa Putra, Pria lulusan dari Turki itu kembali untuk mengabdi di Tanah Leluhurnya. Ia memiliki misi yang mulia untuk membangun sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang mampu.
Zidan mengambil cincin dari kotak beludru yang memang sudah dipersiapkan kemarin sebelum acara akad ini dilaksanakan. Ia memegang jari Aira dan ingin memasangkannay di jari manis sebelah kanan. Namun, betapa terkejutnya Zidan melihat sebuah cincin sudah terpasang disana.
Napas Zidan sempat terhenti sejenak dan menatap wanita yang sudah ia nikahi secara resmi itu hanya menunduk tanpa ada kontak mata sedikit pun.
Spontan, Zidan langsung mengambil tangan kiri Aira dan memasang di jari manis gadis tersebut. Ia tahu, posisinya hanyalah pengganti dan dijodohkan. Terdengar sangat miris tapi memang itu yang terjadi.
"Silakan cium kening sang pengantin wanita," titah Kyai yang menikahkan mereka.
Zidan mengangguk dan melakukan sesuai dengan perintah. Tidak cuma sebuah kecupan di kening Aira tapi juga diiringi sebuah doa baik yang diucapkan di dalam hati oleh Zidan.
Selanjutnya, Kyai itu meminta Aira melakukan hal yang sama dan terakhir harus mencium punggung tangan Zidan yang kini sudah menjadi suami Aira secara SAH di mata hukum dan agama.
Aira sudah memasangkan cincin di jari Zidan dan terakhir ia mencium punggung tangan Zidan yang hanya ditempelkan di keningnya saja tanpa mau mencium dengan bibirnya.
Pernikahan karena perjodohan itu hanya mereka berdua dan kedua keluarga besar mempelai yang tahu. Nama pengantin pria yang ada di undangan bukanlah pengantin pria yang duduk dengan berani menikahi gadis yang sama seklai tidak ia kenal.
Pesta pernikahan dilaksanakan di Pendopo Ponpes. Acara yang digelar dari pagi hingga malam itu benar -benar ramai dan berjalan dengan lancar.
Prosesi acara adat hanya dilakuakn beberapa langkah saja dan tidak begitu detail karena permintaan Aira yang merubah secara tiba -tiba.
Malamnya, acara sudah selesia. Aira sudah kembali ke kamar pengantin tapi tidak dengan Zidan.
Aira malah berharap Zidan memang tahu diri untuk tidak masuk ke kamarnya dan mereka bisa tidur masing -masing di kamar yang berbeda.
Tapi, Kalau ketahuan Abi. Aira pasti dimarahi dan dinasehati tujuh hari tujuh malam. Soalnya Abi terlihat dekat dan sangat suka dengan lelaki bernama Zidan itu.
Jujur, Aira belum melihat wajah Zidan secara pasti. Kulitnya tidak putih seperti bule. Tetap kulit asli negara ini yang sawo matang. Tubuhnya tinggi dan badannya pas, tidak gemuk dan tidak kurus. Ada brewoknya juga. Mungkin karena terlalu lama di Turki jadi terlalu sering bergaul dnegan unta.
"Astaghfirullah aladzim ..." ucap Aira di dalam hati. Ia sudah membicarakan Zidan yang tidak baik. "Maafkan Aira, Ya Allah. Dia juga makhluk ciptaanmu ..." ucap Aira begitu lirih.
Malam ini, Aira sudah mandi dan menghapus make upnya dibantu oleh perias pengantin sebelum pulang. Aira memakai piyama yang bahannya katun lengkap dnegan dalemannya yang di pakai sceara double.
Dalam pikirannya, setelah menikah itu pasti akan melakukan malam pertama. Karena, Aira sudah khatam dengan ilmu malam pertama yang ia pelajari dari Umi Hany.
Tapi masalahnya sekarang, yang menikahi Aira itu bukan Raka, kekasihnya. Tetapi Zidan, laki -laki yang sama sekali tidak dikenalnya.
Aira menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Suara di depan kamarnya nampak sunyi sekali. Seperti tidak ada pergerakan. Tapi, setahu Aira, ada tamu penting yang datang ke Ponpes milik Kakek Abdullah dan ingin bertemu dengan Zidan, suaminya.
Aira menatap nama ukiran pada cincinnya. Zidan.