"Semua wanita pasti senang dipanggil Humaira," ucap Zidan dengan lembut. "Apa kamu keberatan dipanggil Humaira?" tanya Zidan lagi untuk memastikan. "Lho ... Tadi, Aira udah bilang kan? Kalau Aira suka dipanggil Humaira," jelas Aira lagi. "Iya. Aku tahu soal itu," jelas Zidan spontan. "Soal itu apa?" tanya Aira tak paham. "Eum ... Panggilan Humaira untuk kamu," jelas Zidan mencari alasan. "Oh ... Kalau Mas suka dengan panggilan itu. Aira dengan senang hati menerimanya," ucap Aira dnegan wajah memerah karena malu. Aira hanya ingin berdamai dengan dirinya sendiri, seperti pesan Umi Hany sebelum Aira pergi ke Kampung ini dan tinggal berdua saja dengan Zidan. Aira mulai sadar, kalau takdir dari Allah itu memang hal terindah di waktu yang tepat. Tinggal bagaimana Aira bisa menerima dengan

