Aira masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Apa benar yang ia lihat sekarang benar atau hanya ilusi semata. Tepat di depan Aira ada sosok laki -laki yang sama sekali tidak asing. Lelaki yang seharusnya menikahi Aira satu bulan yang lalu. Lelaki yang seharusnya menjadi suami Aira. Lelaki yang seharusnya mengucap akad nikah. "M -Mas Ra- Mas Raka?" ucap Aira dengan suara terbata. Kedua mata Aira masih menatap lekat sosok lelaki di depannya. "Aira ... Ini aku, Raka ..." ucap Raka dengan suara lembut yang benar -benar membuat Aira bingung dan sedikit ketakutan. "Ini beneran kamu, Mas?" tanya Aira masih tidak percaya. "Iya. Ini aku ..." jelas Raka. "Ka -Kamu bukannya su -sudah ..." Aira menghentikan ucapannya. Rasanya tidak mungkin ia lanjutkan kalimat itu. Tubhnya malah

