Tuan Muda yang Dingin

1292 Words
Sore itu langit di Jakarta berwarna keemasan, Ayu melangkah pulang, tas di punggung, ketenangan Ayu pecah seketika. Seekor anak kucing meringkuk di tengah jalan—dan tanpa pikir panjang, Ayu berlari menolongnya. Ban mobil berdecit, rem menjerit, dan tubuhnya tersentak jatuh ke aspal, kucing tetap erat di pelukan. Pintu mobil terbuka keras, seorang pria berlari, panik “Ayu!” Satu detik itu cukup untuk mengubah semuanya. Ayu menoleh, matanya melebar. “Mang Asep …?” Ya, sopir keluarga Hanggono itu langsung menarik Ayu ke pinggir jalan, memastikan gadis itu tidak terluka. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya, Mang Asep lalu berlari masuk ke mobil kembali, meminggirkan kendaraan dengan cepat sebelum menciptakan kemacetan. Begitu berhenti, Mang Asep menoleh ke kursi belakang. Seorang pemuda tampan dengan wajah tegas duduk bersandar, matanya terpejam, tubuhnya tampak lelah. “Maaf, Tuan,” ujar Mang Asep dengan nada penuh hormat. “Saya akan mengecek kondisi Ayu sebentar.” Tanpa membuka mata, pemuda itu hanya menjawab singkat. “Silakan.” Nada suaranya datar, dingin, seolah tak peduli. Itulah Jonathan Hanggono, tuan muda yang baru kembali dari Amerika, masih diliputi jet lag dan enggan terlibat dalam hiruk-pikuk sekelilingnya. Mang Asep bergegas keluar lagi, menatap Ayu yang masih terduduk di trotoar, dekapannya tak mau lepas dari anak kucing mungil itu. “Itu sangat berbahaya, Yu! Kamu bisa celaka tadi!” suaranya meninggi, lebih karena panik daripada marah. Ayu menunduk, suaranya kecil, nyaris malu. “Maaf, Mang …” Mang Asep menekuk keningnya, kemudian memeriksa dengan cemas. “Kamu ada luka gak, Yu? Sikutmu, kakimu?” Ayu menggeleng, menahan senyum tipis meski hatinya masih berdebar. “Gak ada, Mang. Saya gak kenapa-napa. Beneran.” Mang Asep menghela napas panjang, lalu berkata, “Tunggu di sini ya. Saya minta izin dulu sama Tuan muda, siapa tahu kamu boleh ikut menumpang sampai rumah. Biar aman.” Namun Ayu cepat-cepat berdiri, menolak dengan gugup. “Gak usah, gak usah, Mang. Saya jalan aja. Lagian … gak enak kalau harus menumpang …” Suara Ayu melemah, pandangannya sekilas melirik ke arah mobil hitam yang berhenti di dekat tempatnya berdiri. Di balik kaca mobil—pemuda tampan di foto keluarga itu, yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari cerita Bude. Jonathan Hanggono. Dan tanpa sadar, d**a Ayu kembali berdebar. Ayu berdiri kikuk di pinggir jalan, seragam putih abunya kini sedikit berdebu, lututnya terasa perih karena terjatuh, namun lengannya tetap erat memeluk anak kucing yang baru saja ia selamatkan. Matanya menunduk, malu sekaligus lega, ia berusaha menenangkan napasnya yang masih tersengal. Mang Asep berjalan menuju mobil hitam itu kembali, ragu-ragu sebelum akhirnya membuka pintu bagian belakang. “Tuan muda,” ucapnya hati-hati, “gadis itu … Ayu, dia keponakan Mbak Sri, dia juga tinggal di rumah pelayan, apa boleh dia sekalian ikut naik ke mobil?.” Tidak ada jawaban, hanya suara tarikan napas yang berat. Jonathan Hanggono, dengan jas kasual rapi dan wajah tampan yang dihiasi garis lelah perjalanan panjang, membuka matanya perlahan. Tatapan itu dingin pada awalnya, setengah malas, setengah acuh. Namun begitu matanya menangkap sosok Ayu di pinggir jalan—seragam sederhana, rambut sedikit berantakan, wajah pucat, namun kecantikan alami membuat Ayu terlihat mempesona, Ayu masih menggenggam erat anak kucing kecil—tatapan Jonathan seketika berubah, lebih intens dan fokus. Sesaat, waktu seperti berhenti. Mata Ayu dan Jonathan bertemu, bagi Ayu, tatapan itu bagai pisau—tajam, menembus, membuat lututnya hampir goyah. Ada jarak antara mereka, gadis desa polos yang kini berdiri kotor di trotoar, dengan pemuda berwibawa yang baru pulang dari Amerika. Namun di balik sorot mata Jonathan yang dingin, ada ketertarikan samar—campuran heran, kagum dengan kecantikan gadis SMA itu. Ayu cepat-cepat menunduk lagi, tangannya makin mengerat memeluk anak kucing itu, seolah jadi tameng dari tatapan Jonathan Hanggono yang menusuk. “Silahkan”. Ucap Jonathan, ia mengalihkan pandangannya, kembali menyandarkan kepala ke sandaran kursi, seolah tak peduli. Namun dalam hatinya, bayangan wajah gadis remaja berdebu itu terlanjur terekam, menarik simpati sampai relung hatinya. Mang Asep menoleh ke Ayu. “Ayo, Yu. Kamu ikut naik aja, biar sekalian sampai rumah. Jangan keras kepala.” Ayu menggeleng cepat, suaranya kecil tapi tegas. “Beneran, Mang, saya jalan aja …” Ayu buru-buru melangkah mundur, menahan debar di dadanya. Dengan cepat ia menyelinap ke trotoar, meninggalkan mobil itu. Dari balik kaca gelap, mata Jonathan masih mengikutinya—dingin, namun ada ketertarikan tersembunyi. **** Ayu sampai di rumah keluarga Hanggono, langkahnya sedikit gontai, anak kucing mungil yang ia selamatkan masih berada di pelukannya. Begitu memasuki dapur belakang, Bude Sri langsung menoleh kaget. Wajahnya berubah pucat melihat lutut Ayu yang kotor dan lecet, dan ekspresi gugup yang sulit disembunyikan. “Astaghfirullah, Yu! Kamu kenapa?!” Bude Sri segera menghampiri, memegang bahu keponakannya dengan panik. Ayu buru-buru menggeleng. “Gak apa-apa, Bude … tadi cuma jatuh dikit.” “Jatuh di mana? Kok bisa luka begini?” suara Bude Sri mulai meninggi, nadanya campuran antara marah dan cemas. Mang Asep baru saja masuk lewat pintu samping. “Bude, barusan anak ini hampir saya tabrak. Untung sempat saya menghindar cepat. Kalau tidak …” ia menghela napas panjang, enggan membayangkan kemungkinan buruk yang tadi hampir terjadi. Mata Bude Sri membelalak, hampir tak percaya. “Ya Allah, Yu! Kamu tuh gimana sih?! Mau bikin Bude mati berdiri karena kaget?!” Ia langsung memeriksa tangan dan kaki Ayu, memastikan tak ada luka serius. Ayu hanya menunduk, pipinya merona malu. “Maaf, Bude … Ayu cuma mau nolong anak kucing ini. Dia ada di tengah jalan … Ayu gak kepikiran apa-apa lagi.” Bude Sri mendesah berat, lalu menatap anak kucing kecil itu. Mata tuanya melembut, meski tetap ada rasa khawatir. “Kamu ini… hati kamu baik, tapi jangan sampai kebaikan itu bikin nyawa mu melayang.” Mang Asep menambahkan, suaranya rendah. “Tadi Tuan muda juga ada di mobil, Bude. Baru pulang dari bandara. Saya sampai minta izin ke beliau untuk berhenti sebentar ngecek kondisi Ayu.” Ayu tersentak kecil, bayangan tatapan Jonathan Hanggono tadi masih jelas membekas di benaknya—tatapan singkat, dingin, tapi entah mengapa membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Bude Sri menarik napas panjang. “Ya sudah, ganti baju, cuci muka, terus bantu Bude di dapur, jangan dipikirin macam-macam, ingat, Yu … kita di sini hanya numpang hidup.” Ayu mengangguk, meski hatinya berkata lain. Malam itu, saat ia membantu Bude Sri di dapur, bayangan wajah Jonathan Hanggono kini tak lagi sekadar gambar, ia sudah melihatnya nyata, mendengar suaranya. **** Aroma sup hangat dan daging panggang memenuhi ruang makan. Ayu sibuk menata hidangan, namun langkahnya terhenti. Di depannya berdiri sosok yang selama ini hanya ia lihat di foto besar ruang tamu—Jonathan Hanggono. Dengan berpakaian kaos putih casual, wajah tampan yang dingin, mata tajam menatap sekilas— Jonathan cukup untuk membuat napas Ayu tersangkut, jantungnya berdetak tak beraturan. Ayu menunduk cepat, berusaha menggeser diri ke kiri, tapi Jonathan bergerak seiring langkahnya. Jantungnya berdetak kencang, tangan menggenggam baki sekuat tenaga, ia mencoba ke kanan—lagi-lagi Jonathan mengikuti, seolah menantangnya. Udara seketika terasa berat, tubuhnya membeku, wajah menunduk dalam, suaranya nyaris berbisik “Maaf … telah menghalangi jalan, Tuan … silakan lebih dulu.” Hening menyelimuti ruangan, hanya detak jam dan napas Ayu yang terdengar. Jonathan tetap diam, berdiri tegak, menatap gadis sederhana itu. Ada sesuatu yang berbeda—bukan sekadar pelayan baru. Keberanian terselip di balik kepasrahannya, menantang tatapannya. Lalu, dengan suara rendah, tenang, namun terdengar menusuk, Jonathan akhirnya bersuara. “Kau … hampir membuat sup itu jatuh, pegang lebih kuat.” Ayu menelan ludah, tangannya semakin erat menggenggam baki. “I-iya, Tuan …” Jonathan melangkah melewati Ayu tanpa sepatah kata, dan duduk di meja makan dengan tegap. Matanya terus memandang lekat-lekat sosok Ayu yang sibuk menyajikan makanan, Ayu menyadari tatapan itu---- tuan muda telah pulang, entah cerita apa yang menanti Ayu di rumah itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD