Meja makan panjang dengan taplak putih penuh hidangan lezat yang disusun rapi—sup bening, daging panggang, hingga salad segar.
Ayu berdiri di sisi ruangan bersama Bude Sri, siap sedia jika sewaktu-waktu dipanggil. Jantungnya masih berdetak cepat setelah insiden kecil tadi dengan Tuan muda Jonathan. Tangannya menggenggam celemek erat-erat.
Di ujung meja, duduk Nyonya Dewi, tepat di sampingnya, Jonathan sudah duduk tenang. Posturnya tegap, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Setiap gerakannya teratur, dari cara ia menyendok sup hingga menaruh sendok kembali ke piring.
Nyonya Dewi menoleh, menatap putranya. “Bagaimana perjalananmu, Jo? Capek, ya?” suaranya lembut, namun penuh hati-hati.
“Biasa saja.” Jawaban Jonathan singkat, tanpa menoleh, seolah percakapan hanyalah formalitas.
Ayu yang memperhatikan dari jauh merasa janggal, ada jarak antara ibu dan anak itu, jurang yang begitu dingin.
Bude Sri menunduk, berbisik pada Ayu. “Itu kebiasaan Tuan muda … jarang bicara, sejak kecil, dia memang begitu.”
Ayu hanya mengangguk samar, tapi matanya tak bisa lepas dari sosok Jonathan, ada sesuatu yang menekan di dadanya, rasa ingin tahu bercampur takut.
Di tengah hening itu, suara langkah pelan terdengar, nyonya Ratna —nenek Jonathan— yang datang menginap di rumah itu untuk menyambut cucunya yang pulang dari Amerika, ia masuk dengan tongkat kayu di tangannya.
Mbak Sri dan Ayu buru-buru menunduk, memberi salam hormat.
“Nak Jonathan sudah pulang?” suara Nyonya Ratna berat, penuh kuasa.
Jonathan berdiri, menunduk sedikit pada neneknya, tetap diam tanpa berpatah kata.”
Tatapan tajam sang nenek menyapu meja, lalu berhenti pada Ayu yang berdiri kaku di sudut ruangan.
“Siapa gadis itu?” tanya Nyonya Ratna dingin.
Bude Sri buru-buru menjawab, suaranya bergetar. “Ini keponakan saya, Nyonya … namanya Ayu, karena ibunya meninggal, saya membawanya ke sini.”
Hening sejenak.
Tatapan Nyonya Ratna tak bergeser dari Ayu, membuat udara semakin sesak.
Ayu menahan napas. Hatinya bergetar, tak tahu apa yang sebenarnya dimaksud.
Ruang makan keluarga Hanggono terasa hening, hanya terdengar denting halus sendok bertemu piring.
Ayu, yang membantu Mbak Sri, melangkah hati-hati sambil membawa sup, ia berusaha menunduk, tapi telinganya menangkap jelas percakapan yang berlangsung.
Nyonya Dewi menatap putranya dengan sorot penuh rencana. “Jonathan, Ibu sudah berbicara dengan keluarga Jessica. Mereka menunggu jawaban kita. Pernikahan ini bukan hanya tentang keluarga, tapi tentang posisi yang seharusnya menjadi milikmu. Kau harus masuk ke perusahaan sebelum anak haram itu melangkah lebih jauh.”
“Ini bukan hal yang bisa dianggap main-main,” Tambah Dewi, senyum tipis terukir di bibirnya. “Jessica adalah pilihan terbaik. Dengan menikahinya, begitu kau lulus kuliah, kau bisa langsung masuk ke perusahaan ayahmu dengan posisi penting. Perusahaan Surya Wiguna adalah mitra terbesar ayahmu. Kau harus paham arti penting langkah ini.”
Anak haram, sebutan yang disematkan ibu dan nenek Jonathan kepada saudara tirinya. Jonathan yang sejak tadi hanya makan tanpa suara, meletakkan sendoknya perlahan. Gerakannya begitu tenang, seakan ia mengatur setiap detik.
Jonathan mengangkat wajah, tatapannya dingin, menembus tanpa emosi. “Aku mengerti.”
Nada suaranya datar, tak memberi ruang untuk menebak apakah ia setuju atau menolak.
Nyonya Dewi melanjutkan, suaranya penuh dorongan, “Kau tahu Jo, Mama tidak akan membiarkan istri simpanan itu---atau anaknya menguasai apa yang seharusnya jadi milik kita.”
Jonathan hanya menatap ibunya lama, lalu kembali pada piringnya. “Aku tidak lupa,” ucapnya singkat, seolah kalimat itu saja cukup mewakili segalanya.
Ayu yang berdiri di sisi meja menahan napas. Ada sesuatu di balik suara Jonathan yang tenang—sesuatu yang lebih menusuk daripada kemarahan. Dingin, tak terbaca, namun jelas menyimpan tekad.
Nyonya Dewi tersenyum tipis, merasa yakin putranya mengerti. “Bagus. Kau tahu apa yang harus dilakukan.”
Jonathan tidak menjawab. Hanya matanya yang kembali kosong, dingin, menatap ke arah gelas di depannya.
Ayu menunduk lebih dalam. Hatinya berdebar, seakan ia baru saja menyaksikan sisi keluarga itu yang kelam—ambisi yang dibungkus keheningan, dan tekad yang beku tanpa ekspresi.
****
Perpustakaan pribadi Jonathan terletak di lantai dua, luas dan sunyi, dipenuhi rak-rak kayu tua berisi ratusan buku yang berjajar rapi. Lampu meja dengan cahaya kekuningan menerangi wajahnya yang dingin, sedang sepasang matanya menelusuri halaman buku tebal berbahasa Inggris.
Jonathan duduk bersandar di kursi kulit hitam, dari balik kaca jendela besar di sisi ruangan, Jonathan menangkap gerakan samar di taman yang diterangi cahaya lampu taman.
Gadis itu—Ayu. Masih dengan rambut yang diikat sederhana, ia berjalan tergesa di antara semak dan rerumputan. Suaranya terdengar samar, melayang naik bersama angin malam.
“Oyen … oyen … kamu dimana …” panggilnya lirih, penuh cemas.
Jonathan meletakkan buku di pangkuannya, lalu memiringkan tubuh sedikit untuk memperhatikan. Mata hitamnya menatap tanpa ekspresi, seperti mengamati makhluk asing yang begitu asing sekaligus … menarik.
Ayu jongkok di dekat pohon mawar, menyibak rumput dengan tangan kecilnya. Sesekali ia menghela napas, lalu kembali bersuara, “Oyen, kamu di mana? Jangan nakal, ya …”
Jonathan tidak bergerak. Sorot matanya tetap dingin, tapi di balik itu ada sesuatu yang bergetar—rasa ingin tahu. Ia mengetuk kaca jendela dengan jarinya, sekali, pelan. Suara itu terlalu jauh untuk didengar Ayu.
Jonathan tersenyum tipis, samar, bukan senyum manis, melainkan seperti seseorang yang baru menemukan hiburan kecil di tengah kejenuhan panjang.
Di luar, Ayu akhirnya berjongkok sambil memeluk tubuh mungil berwarna oranye yang berlari ke arahnya. “Oyen! Jangan bikin aku khawatir …” bisiknya sambil menempelkan wajah ke bulu kucing kecil itu.
Dari balik kaca, Jonathan menutup kembali bukunya, lalu berdiri. Bayangan tubuhnya memanjang di balik cahaya lampu perpustakaan. Sekilas, sorot matanya mengeras, seakan mengingatkan dirinya sendiri— "Semua ini tidak penting, dia hanya gadis kampung" batinya berkata.
Jonathan melangkah meninggalkan jendela, mencoba mengurai rasa ketertarikan terhadap 'gadis kampung' itu.
****
Keesokan paginya.
Di jalan setapak berlapis batu alam, langkah cepat Jonathan terdengar mantap. Dengan kaos olahraga hitam dan celana training, ia berlari tenang, napasnya teratur, sorot matanya lurus ke depan.
Di sisi lain, pintu samping rumah terbuka tergesa, Ayu keluar sambil menenteng tas sekolah dan menumpuk buku-buku di pelukannya, wajahnya panik, bibirnya berdesis pelan, “Ya ampun, telat lagi …” Rok abu-abunya berkibar tertiup angin ketika ia berlari menuruni tangga kecil.
Dan di situlah keduanya berpapasan, hampir bertabrakan.
Ayu hampir saja menjatuhkan bukunya ketika melihat sosok tinggi Jonathan mendekat dari arah berlawanan. Tubuhnya berhenti sepersekian detik, lalu ia menunduk cepat, berusaha menyempitkan diri ke sisi jalan.
“Mohon maaf permisi, Tuan …” ucapnya lirih, hampir tak terdengar, sebelum kembali berlari.
Jonathan melambatkan langkahnya, pandangannya mengikuti sosok gadis itu—seragam putih abu yang membalut tubuh mungil, wajah muda yang cantik sedikit pucat karena terburu-buru, mata yang menunduk penuh gugup, semua itu menorehkan sesuatu di pikirannya, sekilas, seperti bayangan yang sulit diabaikan. Lagi dan lagi, sosok Ayu membuat Jonathan bergejolak.