Tunangan Tuan Muda

1436 Words
Lalu, tanpa ekspresi, Jonathan menarik napas panjang dan kembali melanjutkan lari paginya, berusaha mengalihkan pikiranya, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Namun dalam diam, bayangan wajah panik Ayu membayang di pikiranya. **** Malam pun tiba, langkah sepatu berhak tinggi berderap pelan di lantai marmer ruang tamu. Jessica, dengan penampilan anggun dalam balutan gaun biru muda, tersenyum manis ketika pintu besar itu dibukakan oleh Bi Ijah. “Selamat malam, Nona Jessica, silahkan masuk,” Bi Ijah menunduk hormat sambil mempersilakan tamu itu masuk. Dewi, yang duduk di sofa sambil menyesap teh, segera bangkit menyambut. “Jessica, sayang … sudah lama tidak bertemu. Kau semakin cantik saja.” Jessica tersenyum, menyalami Dewi dengan penuh hormat. “Terima kasih tante, saya juga sangat merindukan suasana rumah ini.” Baru beberapa saat mereka berbincang, langkah tenang Jonathan terdengar dari arah tangga, ia turun dengan kemeja putih sederhana, tatapannya dingin, wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Jessica sontak berdiri, wajahnya merona. “Jonathan …” ucapnya lirih. Jonathan berhenti sejenak, menoleh singkat ke arah ibunya. “Saya akan mengajak Jessica ke taman,” katanya datar, tanpa menunggu persetujuan lebih jauh. Dewi tersenyum puas, sementara Jessica, dengan hati berdebar, mengikuti langkah Jonathan menuju halaman belakang. Di bawah rindangnya pohon, mereka duduk di bangku batu berukir. Jonathan bersandar, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Jessica mencoba membuka percakapan, meski jawaban Jonathan selalu singkat, dingin, dan formal. “Tiga tahun di Amerika membuatmu terlihat berbeda, Jo. ” Jonathan hanya diam tanpa menjawab, tatapannya lurus ke depan. Keheningan itu mendadak pecah ketika seekor anak kucing oranye berlari ke arah mereka, mengeong riang , Oyen. Jessica menjerit pelan, tubuhnya menegang. “Astaga! Hewan kotor dari mana ini?!” Tangannya spontan meraih vas bunga dari meja taman, lalu melemparkannya ke arah kucing malang itu, dentuman terdengar, tubuh mungil Oyen terguncang dan terjerembab, mengeong kesakitan. “OYEN!” Ayu yang sejak tadi membantu di teras rumah, segera berlari panik ke arah taman, ia berjongkok cepat, mendekap Oyen erat, wajahnya pucat. “Maaf … maafkan kucing saya, Nona … Tuan … saya akan segera membawanya pergi.” Jessica masih menatap dengan jijik. “Seharusnya hewan seperti ini tidak dibiarkan berkeliaran!” Ayu menunduk, hatinya perih, bibirnya bergetar menahan tangis, dengan langkah gontai tapi penuh kegelisahan, ia membawa Oyen menjauh dari sana. Jonathan, yang sedari tadi hanya diam, sempat menoleh sekilas pada sosok Ayu yang pergi sambil memeluk kucing kecil itu. Sorot matanya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang bergetar samar di balik tatapannya, ia lalu kembali menegakkan tubuhnya, seolah tak pernah terganggu oleh kejadian itu. Jessica meliriknya, berharap Jonathan membela ucapannya, tapi pria itu tetap membisu, membiarkan keheningan menyelimuti malam itu. **** Di teras rumah pelayan, Ayu duduk bersila di atas lantai, sorot lampu temaram menyinari wajahnya yang muram. Di pangkuannya, Oyen terbaring lemah, bulu oranyenya kusut, ada bercak merah samar di bagian kepala yang terkena lemparan tadi. Dengan tangan gemetar, Ayu membersihkan luka itu menggunakan kapas dan sedikit obat luka seadanya. “Maaf ya, Oyen … semua salah aku, kalau saja aku bisa menjagamu lebih baik …” Suaranya serak, hampir pecah, air mata yang ia tahan akhirnya jatuh, membasahi bulu kucing kecil itu, oyen mengeong lirih. Di luar, dari balik jendela lantai dua perpustakaan, Jonathan berdiri tegak memperhatikan setiap gerak Ayu yang terlihat jelas dari sudut pandangnya, tirai tipis menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan sorot matanya yang dingin. Namun, di balik tatapan itu, —ada ketertarikan , ia memperhatikan bagaimana gadis muda itu merawat kucing kecil dengan penuh kasih sayang. Hening, Jonathan menyandarkan bahunya pada bingkai jendela, matanya masih menatap Ayu lekat-lekat dari kejauhan, sosok Ayu kini memenuhi pikiranya. **** Sepulang sekolah dengan seragam putih abu yang masih melekat di tubuhnya, Ayu menggendong Oyen di dalam tas kain sederhana, Oyen merengek pelan karena luka di kepalanya akibat lemparan Jessica hari kemarin. Pintu klinik hewan berdering ketika Ayu mendorongnya, Ayu melangkah ragu ke meja resepsionis, sementara Oyen mengeluarkan suara lirih. “Selamat pagi, mau periksa kucingnya?” sapa petugas ramah. Ayu mengangguk cepat. “Iya, Mbak … kakinya terluka, tolong, bisa diperiksa?” Tak butuh waktu lama, dokter hewan memeriksa Oyen dengan teliti. Setelah itu, ia menyodorkan daftar biaya perawatan: suntikan, perban, vitamin, dan rawat inap sehari. Ayu menelan ludah, matanya menatap angka yang tertera di kertas itu, jumlahnya jauh lebih besar dari uang yang ada di sakunya. Ekspresi Ayu jelas menggambarkan ketidakmampuanya membayar, dokter menyadarinya. “Kalau hanya dibersihkan dan diberi obat luar, bisa lebih murah … tapi kemungkinan sembuhnya akan lebih lama,” jelas dokter hati-hati. Ayu menunduk, suaranya lirih nyaris bergetar. “Kalau begitu … biar saya rawat sendiri saja di rumah, Dok terima kasih.” Ayu menggendong Oyen kembali, meski hatinya perih karena merasa tak mampu memberi yang terbaik untuk kucing kesayangannya. Saat ia hendak keluar, sebuah suara berat dan tenang menghentikan langkahnya. “Maaf … kalau hanya karena biaya, biarkan saya yang bayarkan perawatannya.” Ayu tersentak, ia menoleh, dan matanya bertemu dengan sosok pria muda berpenampilan rapi namun sederhana. Wajahnya tampan, tegas dengan sorot mata teduh, di tangannya ada kotak pembawa kucing, dan dari dalam terdengar suara kucing lain yang mengeong lemah. Ayu memandangnya dengan bingung. “Tidak usah, Mas … saya tidak bisa menerima—” Pria itu tersenyum tipis, tulus tanpa kesan meremehkan. “Saya juga di sini untuk kucing saya, saya tahu rasanya tidak berdaya melihat mereka sakit, anggap saja … ini sesama pecinta kucing yang saling menolong.” Hati Ayu bergetar, ia masih menunduk, bimbang antara gengsi dan rasa syukurnya, Oyen mengeong pelan di pelukannya, seolah ikut memohon agar Ayu menerima uluran tangan itu. Ayu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menarik napas dalam, tatapannya turun ke Oyen yang masih meringkuk lemah di pelukannya, perlahan ia mengangguk. “Baiklah, kalau begitu … saya terima. Tapi, Mas …” suaranya pelan namun tegas, “saya janji, suatu hari nanti saya akan mengganti uang ini. Anggap saja … saya meminjam sementara.” Pria itu menatapnya sejenak, sorot matanya seakan menilai ketulusan Ayu. Lalu, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. “Kalau begitu, saya anggap pinjaman, tapi jangan merasa terbebani, ya ... yang penting kucing ini bisa segera dirawat.” Ayu menunduk dalam, hatinya lega sekaligus malu. “Terima kasih … banyak.” Saat dokter hewan membawa Oyen ke ruang perawatan, Ayu menoleh lagi pada pria itu. “Mas … boleh saya minta kontak yang bisa dihubungi? Supaya nanti … kalau saya sudah punya uang, saya bisa mengembalikan pinjaman ini.” Pria itu tampak terkejut sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya, dengan gerakan tenang, ia menuliskan nomor di secarik kertas dan menyodorkannya pada Ayu. “Ini nomor saya, namaku Raka.” Ayu menerima kertas itu “Aku Ayu … sekali lagi terima kasih, Mas Raka, saya akan menghubungi anda nanti.” Raka hanya tersenyum singkat sambil mengangguk, kemudian beralih pada dokter yang sudah memanggil namanya untuk memeriksa kucing miliknya. Ayu berdiri di sudut ruangan, merasakan rasa lega, Oyen nya akan baik-baik saja. **** Dua minggu berlalu begitu cepat. Bagi Ayu, hari-hari itu terasa seperti bayangan singkat yang meninggalkan jejak samar. Ia tak pernah benar-benar berinteraksi dengan Jonathan, hanya beberapa kali berpapasan—di koridor, di taman, atau saat ia membantu budenya menyiapkan hidangan makan. Sosok tuan muda itu tetap dingin, tak banyak bicara, seolah keberadaannya adalah dinding batu yang tak bisa ditembus. Pagi itu, suasana rumah besar Hanggono terasa lebih sibuk dari biasanya. Koper-koper besar diturunkan oleh para asisten rumah tangga. Mobil hitam mewah sudah terparkir rapi di halaman depan. Nyonya Dewi memberi arahan pada Mang Asep, sementara Nyonya Ratna duduk di kursi rotan, menatap cucunya dengan tatapan bangga sekaligus berat hati, melepas cucunya kembali ke Amerika untuk menyelesaikan kuliahnya. Jonathan muncul dari pintu utama, dengan setelan kasual rapi, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ia menyalami neneknya, lalu mencium tangan ibunya dengan sopan namun hambar. Tak ada kata perpisahan panjang, hanya kalimat singkat, dingin seperti biasanya. “Aku akan kembali tahun depan, setelah kelulusan.” Ayu berdiri agak jauh, di samping budenya. Tangannya refleks menggenggam erat Oyen yang kini sudah sehat. Ada perasaan aneh di dadanya—bukan rindu, bukan juga kagum, hanya semacam kekosongan yang tak bisa ia jelaskan. Sosok tuan muda yang dingin itu, entah bagaimana, meninggalkan bekas dalam pikirannya. Ketika Jonathan berjalan menuju mobil, matanya sempat sekilas bertemu dengan Ayu, tatapan singkat, dingin, nyaris tanpa makna. Namun justru tatapan kosong itu membuat d**a Ayu berdebar, ia buru-buru menunduk. Pintu mobil tertutup, mesin menderu pelan. Dari balik kaca gelap, Jonathan hanya menutup matanya, membiarkan perjalanan dimulai tanpa satu pun kata pamit. Mobil itu pun melaju, meninggalkan rumah besar Hanggono dengan debu jalan yang berterbangan. Ayu masih berdiri memeluk Oyen erat, ada rasa hampa yang tak bisa ia ceritakan, seolah kepergian itu menyisakan ruang kosong yang sunyi di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD