Setahun kemudian ...
Pesawat Jonathan Hanggono baru saja mendarat di bandara internasional. Jonathan duduk di kursi belakang, jas biru gelap membungkus tubuhnya, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi meski ibunya, Dewi, tampak begitu bahagia menyambut kepulangannya.
“Setahun terakhir ini kau bekerja keras, Jo,” ucap Dewi sambil meraih tangan putranya. “Dan akhirnya… kau lulus tepat waktu, seperti yang mama harapkan.”
Jonathan hanya menoleh sebentar, matanya dalam namun datar.
“Itu memang sudah seharusnya,” jawabnya singkat.
Mobil melaju ke arah rumah besar keluarga Hanggono. Di sana, Ratna dan para pelayan sudah bersiap menyambut.
Bahkan Ayu, dengan seragam sekolahnya yang belum sempat berganti, ikut berdiri di teras sambil menunduk hormat, matanya tak sengaja menangkap sosok Jonathan yang baru turun dari mobil—ia terlihat lebih dewasa, lebih tegas, dan aura dinginnya semakin kuat.
Setelah masuk ke ruang tamu, Dewi langsung memulai pembicaraan.
“Kita akan mengadakan pesta kelulusanmu, Jo. Ayahmu sudah setuju, tamu-tamu penting dari dunia bisnis juga akan hadir.”
Jonathan menaruh koper kecilnya di samping sofa, lalu duduk dengan tenang.
“Pesta?” ulangnya datar.
“Ya,” sambung Dewi, dengan mata berbinar penuh ambisi. “Ini saat yang tepat. Kita bisa sekalian mengumumkan rencana pertunanganmu dengan Jessica. Itu akan membuat posisimu semakin kuat sebelum Raka menyelesaikan pendidikannya.”
Nama itu membuat mata Jonathan sedikit menyipit. Meski wajahnya tetap dingin, namun ada kilatan dingin di matanya.
“Raka,” gumamnya lirih, seakan mengulang nama yang sejak kecil selalu menjadi bayangan persaingan.
Dewi mencondongkan tubuh, suaranya lebih rendah namun penuh tekad.
“Kau harus selalu selangkah lebih maju, Jo, Ayahmu bisa saja memberi ruang lebih pada anak haram dari istri keduanya itu, kita tidak boleh membiarkan itu terjadi, pesta ini … awal dari segalanya.”
Jonathan terdiam lama, hanya bunyi detik jam dinding yang terdengar di ruangan besar itu. Kemudian, dengan suara dingin dan tanpa ekspresi, ia menjawab:
“Atur saja sesuai rencanamu.”
Dewi tersenyum puas.
“Bagus, aku tahu kau tidak akan mengecewakan mama.”
Dari sudut ruangan, Ayu yang sedang merapikan minuman di meja, bisa mendengar percakapan itu dengan jelas, ia menunduk lebih dalam, berusaha seolah-olah tidak mendengar, namun hatinya berdebar.
Malam itu, ia melihat sisi lain Jonathan—ambisinya yang beku, dingin, dan penuh obsesi untuk menang melawan saudara tirinya.
****
Sore itu taman kota terasa ramai, tapi ada sudut tenang di bawah pohon yang rimbun. Ayu sudah duduk di bangku kayu, di pangkuannya Oyen yang kini sudah tumbuh menjadi kucing dewasa dengan bulu oranye mengilat, sesekali Ayu membelai kepala Oyen, sambil menunggu seseorang.
Tak lama kemudian, langkah tegap seorang pria mendekat. Raka, dengan kaos putih sederhana, tersenyum hangat, di tangannya ia membawa carrier berisi seekor kucing persia putih berbulu lebat, Shiro nama kucing itu.
Ayu berdiri cepat, wajahnya terlihat gugup tapi senang.
“Mas Raka … terima kasih sudah mau ketemuan, Oyen juga kangen sama Shiro, ya, Yen?” katanya sambil mengangkat Oyen sedikit.
Raka terkekeh kecil, meletakkan pet carrier di bangku. Shiro mengintip keluar, matanya bulat jernih, membuat Oyen langsung turun dari pangkuan Ayu untuk menghampiri, kedua kucing itu saling mendekat.
Ayu menarik napas dalam, lalu mengeluarkan amplop kecil dari tasnya, ia menundukkan kepala saat menyodorkannya pada Raka.
“Ini Mas, uang perawatan Oyen waktu itu, maaf baru bisa melunasi setelah setahun.”
Raka memandang amplop itu lama, lalu menutup tangan Ayu dengan tangannya sendiri, menolak untuk menerima.
“Ayu, tidak perlu, anggap saja hadiah kecil dari sesama pecinta kucing, aku senang bisa membantu.” Ucap Raka.
Ayu menggeleng keras.
“Tidak Mas Raka, aku harus balas budi, kalau aku simpan terus, rasanya hatiku tidak tenang.”
Raka akhirnya menerima amplop itu, tapi senyumnya tipis, seakan lebih menghargai niat Ayu daripada uangnya, ia lalu menatap Ayu dengan sorot lembut.
“Kalau begitu … biarkan aku gantian memberi traktiran, aku dengar kamu baru lulus SMA, kan? Aku ingin merayakan kelulusanmu, jangan menolak.” Ucap Raka, nadanya memaksa.
Mata Ayu melebar, pipinya bersemu merah.
“Lho, Mas … ah, tidak usah repot-repot, aku lulus saja sudah cukup senang kok.”
Raka tertawa pelan, lalu berdiri dan mengulurkan tangan seolah mengajak.
“Kalau begitu, ayo kita jalan, aku tahu ada kafe dekat sini yang ramah hewan, kita bisa ajak Oyen dan Shiro juga, anggap saja pesta kelulusan kecil-kecilan.”
Ayu terdiam sebentar, memandang Oyen yang sedang bermain dengan Shiro di rerumputan. Ada sesuatu di dadanya yang hangat, perasaan nyaman yang berbeda, akhirnya, ia mengangguk kecil.
“Baiklah, Mas .…”
Raka tersenyum, menatap Ayu dengan tatapan teduh yang tak ia sadari.
“Tenang saja, yang penting kita rayakan bersama, Oyen dan Shiro juga pasti senang.” Ucap Raka.
Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan taman, dengan dua kucing yang menjadi alasan di setiap pertemuan mereka—tapi perlahan, tanpa disadari, sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan mulai tumbuh di antara mereka.
****
Kafe itu bernuansa hangat dengan aroma kopi bercampur roti panggang. Di sudut dekat jendela, Ayu duduk sambil memeluk Oyen yang tenang di pangkuannya.
Raka di depannya, dengan Shiro yang berbaring malas di kursi sebelah, mereka terlihat seperti pasangan muda dengan dua hewan kesayangan, walau hati Ayu masih canggung.
Pelayan meletakkan dua gelas minuman di meja: cokelat hangat untuk Ayu dan cappuccino untuk Raka.
Raka tersenyum ringan sambil mengaduk minumannya.
“Jadi, Ayu … setelah lulus SMA, mau kuliah di mana? Ambil jurusan apa?”
Pertanyaan itu membuat Ayu terdiam, ia menunduk, jemarinya sibuk mengelus kepala Oyen, senyum tipis muncul, tapi jelas ada keraguan di matanya.
Ayu menatap cangkirnya lama, lalu perlahan bersuara, kali ini dengan nada lebih serius.
“Kalau boleh jujur … aku ingin sekali masuk jurusan kedokteran, Soalnya … sebelum meninggal ibu sakit-sakitan, Aku nggak bisa ngapa-ngapain karena gak punya uang selain panik dan menangis ... aku ingin jadi dokter, biar suatu hari bisa bantu orang yang tidak bisa berobat karena biaya—ta-tapi itu gak mungkin, saya hanya berandai, kembalikan uang yang saya pinjam saja butuh satu tahun, apalagi kuliah kedokteran.” Ayu menyeringai kecil.
Keheningan sejenak mengisi meja itu, Raka meletakkan cangkirnya perlahan, menatap Ayu dengan serius, sorot matanya hangat tapi penuh keyakinan.
“Ayu, jangan cepat menyerah, Ibuku punya yayasan pendidikan, setiap tahun ada program beasiswa untuk anak-anak berprestasi yang kurang mampu, kamu mau coba? Syaratnya cuma satu, kamu harus lulus ujian seleksi yang diadakan yayasan.”
Ayu menoleh, terkejut.
“Beasiswa?”
Raka mengangguk. “Ya, aku yakin kamu bisa, aku dengar kamu juara kelas, kan? Kesempatan seperti ini jangan disia-siakan, aku janji, minggu depan aku bawakan formulir pendaftaran untukmu.”
Ayu mengerjap, matanya berkilat antara haru dan ragu.
“Tapi … Mas, aku masih belum yakin, kalau nanti aku gagal gimana? Kalau aku malah nyusahin mas Raka gimana?”
Raka tersenyum menenangkan, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Kalau gagal, itu urusan belakangan, yang penting kamu berani mencoba, aku percaya sama kamu, dan lagi … kamu nggak menyusahkanku sama sekali, Ayu ...justru aku senang bisa membantu.”
Pipi Ayu memerah, ia menunduk sambil menggenggam erat gelas cokelat hangatnya, dalam hati, ada secercah harapan baru yang muncul—sesuatu yang sebelumnya ia kira mustahil.
Di sisi lain, Raka menatapnya dalam diam, seakan menemukan alasan baru untuk terus berada di dekatnya.
Raka terdiam, ada kilatan tak terduga di matanya, semacam rasa tersentuh bercampur kenangan lama, ia menghela napas panjang sebelum menjawab.
“Jurusan kedokteran, ya … dulu aku juga sempat kuliah kedokteran, yu.”
Ayu spontan menoleh, matanya membesar.
“Mas Raka? Serius?”
Raka mengangguk pelan, menatap keluar jendela dengan senyum getir.
“Iya, aku dulu masuk fakultas kedokteran karena ingin jadi dokter kayak kamu, tapi hanya bertahan dua semester, ayahku punya rencana lain, dia ingin aku cepat terjun ke bisnis keluarga---- Jadi, aku terpaksa berhenti, pindah jurusan, dan ikut jalur yang beliau mau.”
Ayu terdiam, hatinya berdesir aneh, ia bisa merasakan beban yang pernah dipikul Raka.
“Mas Raka pasti kecewa, ya …?”
Raka menoleh lagi, kali ini menatapnya langsung, sorot matanya dalam, tapi tetap hangat.
“Awalnya iya, tapi aku sudah terbiasa hidup dengan pilihan orang lain.”
Pesta Kelulusan
Malam itu rumah keluarga Hanggono dipenuhi cahaya dan kemewahan. Lampu kristal berpendar di langit-langit, lantunan musik klasik mengisi udara, dan derap langkah para tamu berbalut jas serta gaun elegan bergema di aula besar.
Ayu berdiri di tepi ruangan, menunduk dengan baki minuman di tangannya. Sesekali matanya melirik ke tengah ruangan—ke arah Jonathan yang berdiri tegap di samping Jessica dan Dewi. Wajah Jonathan tetap dingin, nyaris tanpa senyum, meski setiap tamu menghampirinya dengan ucapan selamat.
Ayu menelan ludah, dadanya sesak oleh sosok Jessica di samping Jonathan, ia segera menunduk lagi, mencoba mengalihkan pikiran.
Pintu aula terbuka, langkah tegap seseorang membuatnya terhenti, seorang pria masuk dengan langkah percaya diri. Jas hitamnya sederhana namun berkelas, Ayu tersentak, sosok itu ia kenal----Mas Raka?
Ayu terperanjat, tubuhnya menegang, baki di tangannya hampir terguncang. Napasnya tercekat ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Raka dari kejauhan.
“Mas … Raka?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.