Mas Raka?
Pria yang selama ini ia kenal sebagai pecinta kucing, teman obrolan singkat di taman dan kafe, kini berdiri di dalam rumah megah ini. Pria itu bukan orang asing—ia adalah Raka Hanggono, saudara tiri Jonathan.
Mata Ayu melebar, rasa kaget dan bingung menyelimutinya. Tapi Raka hanya menanggapinya dengan senyum tipis, senyum yang penuh pengertian, seolah berkata: “Tenanglah, aku juga terkejut.”
Acara pun berlanjut. Dewi maju ke depan, berdiri di samping Jonathan, lalu mengetuk gelasnya perlahan untuk menarik perhatian.
“Malam ini, selain merayakan kelulusan putra saya, Jonathan, kami juga ingin berbagi kabar bahagia. Dalam waktu dekat, Jonathan akan bertunangan dengan Jessica, putri dari keluarga Wiguna.”
Tepuk tangan dan sorak riang menggema. Jessica melangkah maju dengan gaun indahnya, tersenyum penuh kemenangan, lalu berdiri anggun di sisi Jonathan. Jo tetap diam, wajahnya dingin, seolah pertunangan itu hanyalah formalitas bisnis.
Ayu menunduk, pura-pura sibuk dengan baki di tangannya. Tapi telinganya jelas mendengar bisikan para tamu di sekitarnya.
“Bagus sekali, pertunangan ini memperkuat kerja sama bisnis.” ucap mbak Sri
“Tapi lihat, anak dari istri keduanya itu juga hadir. Ah, Raka, anak haram yang disebut-sebut nyonya itu kan …” Bi Ijah menambahkan.
Kata-kata itu menancap di telinga Ayu. Ia mencuri pandang ke arah Raka yang tetap tenang. Pria itu menanggapi semua sapaan dengan senyum ramah, seolah-olah ejekan dunia tak pernah menyentuhnya.
Dalam hati, Ayu bergumam lirih, “Bagaimana mungkin mereka menyebutnya anak haram? Mas Raka … pria sebaik itu, yang selalu hangat dan penuh perhatian. Sedangkan anaknya sendiri, Jonathan, dingin dan kasar, tanpa sedikit pun senyum pada orang lain …”
****
Tamu-tamu mulai pulang satu per satu. Musik klasik mereda, lampu gantung berkilau redup, dan suasana pesta perlahan menenangkan diri. Ayu sibuk membereskan gelas dan piring di meja buffet ketika suara lembut memanggilnya.
“Ayu.”
Ayu menoleh. Di hadapannya berdiri Raka, masih dengan jas rapi, dasinya sedikit longgar. Senyum hangat itu lagi. Senyum yang berbeda dari semua wajah angkuh di rumah megah ini.
“Mas Raka …” Ayu sedikit tergagap, buru-buru menunduk.
“Boleh sebentar? Aku ingin bicara. Hanya sebentar saja.”
Ayu mengangguk pelan. Mereka melangkah keluar menuju taman belakang yang sunyi, jauh dari sisa keramaian pesta. Lampu taman remang-remang, semilir angin malam membuat dedaunan bergoyang. Oyen—kucing oranye kesayangan Ayu—entah dari mana muncul, berjalan pelan mendekat dan mengeong, seolah tahu pemiliknya sedang gugup.
Raka jongkok sebentar, mengelus kepala Oyen, lalu menatap Ayu.
“Jujur … aku kaget melihatmu di sini. Aku tidak pernah menyangka kamu bekerja di rumah keluarga ini.”
Ayu menunduk, meremas jemari tangannya. “Saya juga baru tahu malam ini … Mas Raka ternyata …” ia berhenti, takut salah bicara.
“Ternyata anak tiri dari keluarga ini?” Raka melanjutkan dengan senyum tipis. “Aku sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang.”
Suasana mendadak hening. Oyen kembali mengeong pelan, lalu melompat ke pangkuan Ayu, seakan ingin mencairkan kecanggungan di antara mereka. Ayu tersenyum kecil, sementara Raka hanya memperhatikannya dengan tatapan lembut.
Namun, tanpa mereka sadari … dari balkon lantai dua, sepasang mata mengawasi. Jonathan.
Wajahnya tetap dingin, ekspresi tanpa perubahan. Senyum tipis Jo muncul, tapi bukan senyum hangat—melainkan senyum penuh rasa tidak suka yang dingin dan samar. Jonathan berdiri kaku. Dari balik kaca jendela terbuka, wajahnya tanpa ekspresi, seolah patung yang membeku. Mata hitamnya menajam, menembus malam, terpaku pada sosok Ayu dan Raka di bawah sana.
Tangannya yang terlipat di d**a perlahan turun, lalu mengepal di sisi tubuh. Sendi jarinya menegang, rahangnya mengeras, otot di wajahnya tertarik menahan sesuatu yang tak terucap.
Jonathan berpaling sejenak, tapi matanya kembali, menatap lagi—lebih dalam, lebih dingin. Pandangan itu bukan sekadar tatapan seorang pengamat, melainkan tatapan pemilik yang merasa sesuatu telah diambil dari genggamannya.
Detik berikutnya, Jonathan menutup jendela dengan gerakan kasar, tirai sutra menjuntai menutup seluruh pemandangan. Suara hentakan langkah sepatunya terdengar di lantai kayu perpustakaan, berat dan penuh tekanan.
Tak ada kata. Tak ada suara.
Namun kesal itu terasa nyata—membekas di udara, seperti badai yang menunggu waktu untuk meledak.
****
“Apa kamu sudah mempersiapkan diri untuk ujian seleksi di yayasan?”, Tanya Raka
“Iya, tapi aku tidak yakin akan lolos”. Ayu menunduk pesimis.
“Kamu harus semangat, aku akan mengantarmu saat ujian, 2 hari lagi kan?”
“Ah … tidak usah repot-repot, mas Raka pasti sibuk”.
“Aku tidak sedang sibuk, kuliahku sebentar lagi selesai, hanya sedang menyusun tugas akhir”.
Rara tersenyum tipis, mengangguk perlahan tanda setuju.
****
Keesokan harinya
Pagi itu dapur besar keluarga Hanggono dipenuhi aroma roti panggang dan wangi kopi hitam.
Ayu dengan sigap membantu Bude Sri menata sarapan. Tangannya gemetar sedikit karena terburu-buru—ia tidak ingin membuat kesalahan di hadapan keluarga besar.
Di meja makan, Jonathan duduk dengan wajah dingin, seperti biasa. Matanya samar menatap Ayu yang berjalan membawa nampan berisi s**u segar dan beberapa piring kecil. Sekilas, tatapannya tidak mengatakan apa-apa. Tapi ada sesuatu yang gelap tersembunyi di balik sorotnya.
Ayu meletakkan gelas s**u di hadapan Jonathan dengan hati-hati. Namun detik berikutnya, suara “bruk!” terdengar. Gelas s**u itu, dengan sengaja Jonathan menyenggolnya, gelas itupun terguling, cairan putih tumpah ke meja, lalu mengalir deras jatuh ke lantai marmer.
Ayu sontak tersentak. “Ya ampun …” bisiknya panik, buru-buru meraih celemek yang melekat di tubuhnya untuk mengelap lantai.
Jonathan tak banyak bergerak. Ia hanya sedikit menggeser kursinya ke belakang, menatap tenang ke arah gadis itu. Tapi di matanya, ada kilatan dingin yang menekan.
Susu tumpah itu mengenai sepatu kulit Jonathan yang hitam mengilap, meninggalkan noda samar. Ia menunduk sebentar, lalu menegakkan tubuh, suaranya rendah, dingin, dan ketus—menerobos keheningan.
“Bersihkan.”
Ayu tertegun, wajahnya memucat. Tangannya bergetar saat ia meraih kain lap bersih. Ia merunduk lebih dalam, membersihkan lantai lalu beralih ke sepatu Jonathan yang ternoda. Ujung jarinya gemetar, rasa malu dan takut bercampur jadi satu.
Ayu menunduk makin dalam, suaranya hampir berbisik. “M-maaf, Tuan …”
Jonathan tidak menjawab. Ia hanya menarik kursinya kembali, Jonathan bersandar santai di kursinya. Satu kaki disilangkan, tubuh tegak, ekspresi nyaris tanpa perubahan.
Namun di balik tatapan dingin Jonathan ada kepuasan samar yang sulit disembunyikan. Sorot matanya menelusuri pemandangan di hadapannya—seorang gadis muda yang berlutut, sibuk menghapus noda dari sepatunya, seolah dunia ini menempatkan mereka di posisi yang sudah sepantasnya.
Ayu tak berani menatap. Kepalanya tertunduk begitu rendah hingga helaian rambutnya jatuh menutupi wajah. Setiap kali tangannya menyentuh sepatu Jonathan, ia bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat, malu, takut, tertekan dan terhina. Semua berbaur, membuat napasnya pendek-pendek.
Langkah tergesa terdengar dari arah dapur. Aroma tumisan yang masih mengepul ikut masuk bersama sosok Mbak Sri, dengan celemeknya yang sudah penuh noda bumbu. Ia membawa nampan berisi buah segar, tapi langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di hadapan.
Ayu—keponakannya—berlutut di lantai, dengan wajah pucat dan tangan gemetar, sibuk mengelap sepatu Jonathan yang ternodai s**u. Celemeknya sudah kusut, kain lap di tangannya basah, sementara Jonathan duduk tenang di kursinya, bersandar dengan angkuh, menatap ke bawah seolah itu hanyalah hal biasa.
Mbak Sri membeku. Nampan buah di tangannya bergetar, hampir saja ia menjatuhkannya. Hatinya teriris melihat Ayu, gadis yang lugu dan polos itu, kini diperlakukan begitu rendah. Namun lidahnya kelu. Ia tahu siapa Jonathan—tuan muda yang dingin, berwibawa, dan punya kuasa di rumah itu.
“Ayu …” suara Mbak Sri bergetar, berusaha tetap lembut. “Sudah … biar bude yang lanjut.”
Ayu menoleh cepat, wajahnya memerah menahan malu. “B-bukan, Bude … ini salahku. Aku yang harus membersihkannya.” Suaranya lirih, seolah takut kalau Jonathan akan tersinggung.
Jonathan hanya melirik sekilas, tatapannya menusuk,mTidak ada satu kata pun keluar, namun sikap diamnya sudah cukup membuat udara terasa mencekam.
Mbak Sri menelan ludah, mencoba menahan rasa iba. Ia ingin sekali menarik Ayu berdiri, memeluknya, dan menjauhkan dari pemandangan yang merendahkan itu. Tapi ia tahu, sedikit kesalahan bisa berarti bencana bagi keduanya. Akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya mendekat pelan, lalu berjongkok di samping Ayu, tangannya terulur membantu membersihkan sisa noda di lantai.
“Nanti sepatunya bude poles lagi,” katanya lirih, lebih kepada Ayu daripada Jonathan.
Ayu menunduk makin dalam, hampir tak berani bernapas. Jonathan tetap diam, tapi sorot matanya tajam—dingin, memaku mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan.