KECEMBURUAN TUAN MUDA

1417 Words
Malam hari pun tiba, di sudut bangunan pelayan nampak sunyi. Lampu redup menyinari ranjang sederhana tempat Ayu duduk terisak. Ia memeluk lututnya erat-erat, bahunya berguncang, tangisnya teredam di antara lengan. Rasa malu dan sakit hati bercampur jadi satu. Bayangan dirinya yang berlutut di hadapan Jonathan terus berputar di kepalanya, menekan dadanya hingga terasa sesak. Pintu kamar berderit pelan. Mbak Sri masuk dengan langkah hati-hati, membawa secangkir teh hangat. Wajahnya muram, tapi matanya penuh kasih. “Ayu …” panggilnya lembut. Ayu buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, meski matanya tetap sembab. “Bude …” suaranya parau, pecah. Mbak Sri meletakkan cangkir di meja kecil, lalu duduk di samping Ayu. Tangan tuanya yang hangat mengelus rambut keponakannya, menenangkan seperti seorang ibu menenangkan anaknya. “Sudah, nduk … jangan kau simpan dalam hati kejadian pagi tadi,” ucapnya lirih. “Bude lihat tadi … hati bude juga ikut sakit. Tapi beginilah nasib kita, Yu. Hidup di rumah orang kaya, kita harus sabar. Kadang harga diri kita digilas … tapi bukan berarti kita rendahan.” Ayu menunduk, air matanya kembali jatuh. Mbak Sri langsung menarik Ayu ke dalam pelukannya, meremas bahunya dengan erat. Ayu terisak di pelukan Bude-nya, tapi rasa hangat itu perlahan menenangkan luka yang menganga di hatinya. Mbak Sri mengecup puncak kepala Ayu. “Sabar ya, Nduk. Sabar dan kuat. Bude selalu di sini untukmu.” **** KECEMBURUAN TUAN MUDA Pagi itu langit Jakarta berwarna biru pucat, cahaya matahari menimpa pelataran rumah Hanggono yang megah. Ayu melangkah tergesa dari pintu samping, seragamnya rapi, rambutnya terikat sederhana, wajahnya masih menyimpan gugup bercampur harapan. Hari itu adalah hari penting: ujian seleksi beasiswa yang mungkin bisa mengubah masa depannya. Di saat yang sama, dari pintu depan, Jonathan muncul dengan setelan jas gelap yang pas di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi, wajahnya dingin dan tegas, benar-benar mencerminkan aura seorang pewaris keluarga kaya raya. Ia berjalan tenang menuju mobilnya, langkahnya mantap, seolah dunia di sekitarnya tak pernah menyentuhnya. Hanya beberapa meter jarak mereka berpapasan. Ayu menunduk dalam-dalam, berusaha menyingkir dengan sopan. Jantungnya berdegup kencang, teringat betapa dinginnya perlakuan Jonathan beberapa hari terakhir. Ia tak berani mengangkat wajah, hanya lewat begitu saja. Sementara itu, Jonathan sempat menoleh sekilas. Sekilas saja, tapi cukup baginya menangkap bayangan gadis itu yang tampak begitu sederhana dan bersungguh-sungguh. Ada sesuatu yang sulit ia namai yang menyeruak, namun buru-buru ia tekan dalam-dalam di balik wajah datarnya. Begitu melewati gerbang, langkah Ayu terhenti. Di luar, seorang pria tampan sudah menunggu—Raka. Ia bersandar santai pada mobil sedan putihnya, tersenyum hangat begitu melihat Ayu. “Pagi, Ayu ....” sapa Raka ramah, tatapannya penuh perhatian. Ayu membalas dengan senyum kecil, matanya berbinar walau gugup. “Mas Raka … pagi.” Jonathan, yang sudah duduk di balik setir mobilnya, tak sengaja menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca. Pandangannya menajam. Senyum Raka. Tatapan lega Ayu. Cara mereka menyapa satu sama lain dengan hangat dan tulus—semua itu bagai duri menusuk dadanya. Raut wajah Jonathan berubah seketika. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam erat setir hingga buku-buku jarinya memutih. Sorot matanya dingin menusuk, seolah ingin membekukan ruang di sekitarnya. Mobil di bawah kendalinya belum bergerak, tapi ketegangan dari tubuhnya begitu jelas terasa. Tatapannya tak lepas dari Ayu dan Raka yang kini berjalan beriringan menuju mobil putih itu. Di balik kaca gelap, Jonathan tampak seperti bayangan hitam yang sedang menahan badai dalam diam. Saat akhirnya mesin mobil menyala, suara raungan mesin terdengar lebih keras dari biasanya—seolah mewakili amarah yang ditahan. Jonathan melajukan mobilnya perlahan, melewati gerbang dengan tatapan yang masih menusuk dari balik kaca, meninggalkan Ayu dan Raka dalam kebersamaan pagi itu. Namun di dalam mobil, udara seolah membeku. Dingin. Penuh bara yang tak tersulut. **** Sesampainya di kantor pusat, gedung pencakar langit keluarga Hanggono menjulang gagah. Logo perusahaan berkilau diterpa cahaya matahari. Hari itu adalah hari penting Jonathan—hari pertama ia resmi ditunjuk sebagai CEO salah satu anak perusahaan ayahnya. Sebuah langkah besar menuju ambisinya: mengalahkan Raka, merebut semua posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Jonathan melangkah memasuki ruang rapat utama. Ayahnya sudah menunggu, duduk di kursi besar, dikelilingi direksi. “Selamat datang, Jo,” suara berat sang ayah terdengar. “Mulai hari ini, kau memimpin cabang utama di Jakarta. Aku ingin lihat, apakah darah Hanggono benar-benar mengalir dalam dirimu.” Semua mata tertuju padanya. Jonathan membungkuk ringan, lalu duduk. Wajahnya tetap dingin, nyaris tanpa emosi. Ia mendengar sambutan, ucapan selamat, dan rencana kerja yang panjang dari para direktur. Ia mengangguk di tempat yang tepat, berbicara seperlunya dengan suara datar, penuh wibawa. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terbelah. Di ujung matanya, sesosok lain terbayang—Ayu. Gadis sederhana yang tadi tersenyum kepada Raka. Senyum yang seharusnya … tidak untuknya. Rahannya kembali mengeras. Untuk sesaat, Jonathan kehilangan fokus pada paparan direktur yang berbicara di depannya. Tapi segera ia menarik napas panjang, menegakkan bahu, menutup semua kelemahan itu dengan wajah dingin yang tak bisa ditembus siapapun. Hari pertamanya sebagai CEO dimulai. Dan di balik setiap keheningan yang ia tunjukkan, ada obsesi yang semakin menguat: mengalahkan Raka … dan memastikan Ayu tidak jatuh ke tangannya. **** Pintu ruang ujian berderit pelan saat Ayu melangkah keluar. Udara koridor yang dingin langsung menyambut wajahnya yang pucat. Ia menarik napas panjang, dadanya terasa sesak seolah membawa beban yang terlalu berat. Di tangannya, kertas catatan lusuh yang sejak pagi ia genggam kini hanya menjadi benda tak berguna. Langkahnya pelan, matanya kosong. “Aku pasti gagal … soal-soalnya terlalu sulit. Mana mungkin aku bisa bersaing dengan mereka yang jauh lebih pintar, lebih siap, lebih mampu …” batinnya terus berputar. Ada kilatan kecil di matanya, tapi segera padam oleh rasa pesimis yang menyesakkan d**a. “Ayu.” Suara lembut itu membuatnya menoleh. Di ujung lorong, Raka berdiri dengan senyum hangat, membawa botol air mineral di tangannya. Shiro, kucing putih kesayangannya, tak ikut kali ini—hanya Raka, dengan ketulusan yang membuat kehadirannya seolah lebih dari cukup. Ayu berusaha tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak tanpa cahaya di matanya. “Kayaknya aku nggak bakal lolos, mas …” ucapnya lirih, suaranya nyaris pecah. Raka melangkah mendekat, menatapnya penuh keyakinan. “Hei, jangan bilang gitu. Kamu sudah berjuang. Itu yang terpenting. Jangan remehkan dirimu sendiri.” Ayu menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Hatinya bergetar —ada kehangatan yang jarang ia rasakan dari siapapun. Raka menyodorkan botol air. “Minum dulu. Kamu butuh tenangin diri.” Dengan tangan bergetar, Ayu menerimanya. Hening sejenak menyelimuti mereka, hanya derap langkah peserta lain yang lewat di lorong. Dalam hati, Ayu berbisik lirih, “Andai saja dunia punya lebih banyak orang seperti mas Raka …” **** Malam mulai berpendar, udara dingin akibat bekas hujan sebentar mulai menyeruak. “Ayu, tolong bawakan makan malam ini ke ruang kerja Tuan Muda,” ucap Bude Sri lembut, meletakkan baki berisi makanan di meja dapur. Suaranya terdengar biasa, tapi matanya sempat menatap Ayu seolah memahami kegelisahan yang tak terucap. Ayu terdiam sejenak, jemarinya ragu menyentuh pegangan baki. “Ke … ruang kerja, Bude? Tuan tidak makan di meja makan malam ini?” Bude Sri menghela napas, lalu mengangguk kecil. “Sejak pulang dari kantornya sore tadi, dia langsung menuju ruang perpustakaan dan sepertinya melanjutkan bekerja. Jadi, dia minta makan malamnya di antarkan ke ruang kerjanya. Kau bawakan dengan hati-hati, ya.” Ada jeda hening. Ayu menunduk, merasakan jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya. Setiap kali berhadapan dengan Jonathan, tubuhnya selalu diliputi canggung dan takut. Bukan hanya karena sosoknya yang dingin, tapi juga karena sorot matanya yang sering kali menelanjangi perasaan terdalam tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. “Baik, Bude,” bisiknya akhirnya. Dengan langkah pelan, Ayu membawa baki itu melewati lorong panjang yang senyap. Pintu ruang kerja terbuka sedikit, cahaya lampu kuning keemasan mengalir ke luar. Ayu mengetuk perlahan, kemudian masuk setelah terdengar jawaban singkat dari dalam. Di balik meja besar, Jonathan duduk tegak, tubuhnya dibalut kemeja putih dan jas hitam yang masih rapi. Rambutnya sedikit berantakan, namun sorot matanya tetap tajam, menelusuri lembaran dokumen yang berserakan di depannya. Di sekitarnya, rak-rak penuh buku menjulang tinggi, menyelimuti ruangan dengan atmosfer berat dan dingin. Ayu melangkah mendekat, lututnya hampir goyah oleh ketegangan. Ia meletakkan baki perlahan di atas meja, berusaha agar tidak menimbulkan suara berisik. “Makan malamnya, Tuan …” suaranya lirih, nyaris tenggelam. Belum sempat ia mundur, suara Jonathan memecah hening, dalam dan menusuk. “Sejak kapan kau mengenal Raka?” Ayu terhenti di tempat, matanya melebar. Ia menoleh pelan, mendapati tatapan Jonathan yang kini tak lagi tertuju pada dokumen, melainkan menusuk tepat ke arahnya. Sorot mata itu dingin, seakan menuntut jawaban tanpa ampun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD