Pagi itu, suara langkah kecil dan gelak tawa membangunkan Naya sebelum alarm berbunyi. Ia membuka mata perlahan, merasakan tubuhnya sedikit pegal setelah begadang membaca laporan sekolah. “Leo, suamiku…” gumamnya pelan. “Kamu dengar itu?” Leo yang masih setengah sadar menggerakkan tangan, meraih pinggang Naya sambil memejamkan mata. “Dengar… tapi pura-pura nggak dengar dulu lima menit boleh nggak?” Naya cekikikan kecil. “Kembar dua itu kalau dibiarkan lima menit, rumah kita bisa chaos.” Leo mengerjap akhirnya bangun, menahan tawa saat mendengar suara kursi digeser, lalu suara sesuatu jatuh. “Oke, oke… Papa datang!” Ia turun dari ranjang, rambutnya awut-awutan, kausnya kusut—tapi tetap tampak seperti ayah muda paling hangat di dunia bagi Naya. Naya menyusul pelan sambil melongok ke ara

