Pagi itu, rumah Leo dan Naya lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara tawa Lara yang memanggil Papa dari ranjang, atau pekikan kecil Lino yang biasanya bangun duluan dan memukul-mukul kasur seperti drummer profesional. Mereka masih tidur, damai, pipi bulat mereka menempel pada bantal kecil bermotif awan. Naya berdiri di depan lemari sambil mengancingkan kemeja putih kerjanya. Sudah lama ia tidak memakai pakaian formal; rasanya aneh sekaligus menggetarkan. Hari ini adalah hari pertama ia kembali mengajar setelah cuti panjang—dan kebetulan bersamaan dengan ujian semester di sekolah. Sementara itu Leo berdiri di sampingnya, memakai kemeja biru muda sambil merapikan dasi. Wajahnya sedikit tegang. “Sayang…” Naya menatap suaminya lewat cermin. “Aku nervous.” Leo mendekat, tangan besarnya m

