Dekapan tangan Pramuja membuatku merasa nyaman, sementara ciuman bibirnya masih setia mempermainkan bibirku. Putra masih pingsan dan belum ada tanda-tanda akan siuman. "Semoga kau baik-baik saja," batinku cemas menatap matanya. "Dilarang melihat ke arah pria lain, cukup pandangi aku saja, Zahra." Kak Pramuja cemburu buta. "Mmpphh, sampai kapan kau akan berhenti menciumi bibirku seperti ini, kak Pram sayang?" tanyaku di sela-sela ciuman. "Sampai aku merasa puas nona manja," jawabnya santai. "Tapi kapan puasnya?" tanyaku semakin gemas dengan perlakuannya. "Entahlah, mungkin tahun depan," godanya membuatku tertawa. Aku memegangi wajahnya agar berhenti menciumi bibirku, aku menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Cukup sayang, kita bisa melakukannya lagi nanti, sekarang, mari kita urus m

