Bab 14 Bertemu Ibu Kandung Madiya

1602 Words
Madiya sedang berada di dalam mobil bersama dengan Robi yang diperintahkan oleh Richard untuk mengantarnya ke Sumedang. Mereka sudah melewati tol dan Robi berusaha untuk mengingat alamatnya. Tadi Richard sudah mengirim alamatnya, Robi mencari letak rumahnya. "Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Madiya yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu kandungnya. "Kalau aku lihat di Google map sih sekitar dua puluh menitan lagi kita akan sampai." Madiya mengangguk paham karena artinya mereka sudah dekat, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan ibunya. Madiya juga ingin menanyakan kebenaran tentang adiknya yang sudah tidak ada. Dia hanya ingin memastikan saja. Kalau memang benar adiknya sudah tidak ada, itu artinya orang yang mengirimkan pesan untuk Madiya adalah orang yang sama dengan pembunuhan adiknya. Robi melihat kearah Madiya yang sedang melamun seperti memikirkan sesuatu. "Apa yang sedang ada di dalam pikiran Bu Madiya?' "Tidak usah formal begitu denganku, panggil namaku saja Robi." "Baiklah Bu Madiya." "Aku tidak sedang melamun, hanya saja aku merasa gugup ketika akan bertemu dengan ibuku karena sudah lama kita tidak bertemu," terang Madiya memberitahunya. "Iya, baiklah." Robi juga tidak ingin banyak bertanya karena dia tidak mau membuat Madiya nanti malah jadi risih. Tugas Robi hanya mengantarkan Madia untuk sampai di tempat tujuannya. Tentu saja dia akan sangat senang jika sudah seperti itu. Apalagi memang Richad tidak mau datang ke sini karena takut semuanya terbongkar dan membuat Madiya semakin marah padanya. Hingga tak lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat kediaman rumah ibunya Madiya. Dia keluar dan memastikan kalau saat ini tidak salah alamat. "Apa ini rumahnya?" tanya Madiya pada Robi. "Iya ini adalah rumahnya, aku akan menunggu di sini saja." Madiya mengerti dan dia berjalan untuk mengetuk pintu rumah itu sendiri. Terlihat memang rumah yang sederhana. Dia mencoba untuk mengetuk pintu rumah itu dengan sopan. "Permisi._ Madiya berharap kalau di dalam akan ada orang. Dia mengintip dari jendela karena penasaran. Dia melihat rumah ini bersih dan berarti ada penghuninya di dalam. Hingga tak lama kemudian, muncul suara dari dalam. "iya sebentar." Madiya mendengar suara tersebut dan dia merasa lega. Dia tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Sampai orang yang ada di dalam membuka pintunya. Dia terkejut ketika melihat wanita yang ada harapannya. Madiya langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya itu dengan erat. "Bunda." Ratih merasa gugup sekaligus bahagia ketika dia bisa kembali melihat anaknya. Dia kira dia tidak akan bertemu dengan anaknya lagi karena mantan suaminya selalu menghalangi dirinya untuk bertemu. "Apa kabar kamu, nak? Kamu sehat kan?" Ratih mencekal pipi Madiya dan memastikan wanita itu baik-baik saja saat ini. Apalagi setelah dia mengetahui kalau mantan suaminya sudah menikah lagi. Ratih sedikit khawatir karena takut Madiya akan disiksa oleh ibu tirinya. "Aku baik-baik saja. Bunda lihat sendiri bukan? Aku sudah tumbuh menjadi wanita dewasa sekarang." Madiya menjawabnya sambil tersenyum, lalu Ratih mengajak anaknya untuk masuk ke dalam rumahnya. Madiya ikut duduk di dalam sambil melihat kearah ibunya yang kini terlihat kurus. Lalu dia melihat foto adiknya yang terpajang di sana. "Apa dia adikku Bun?" tanya Madiya sambil melirik foto seorang wanita yang sangat cantik. Apalagi wanita tersebut hampir mirip dengan dirinya. Raut muka Ratih kembali suram ketika Madiya menanyakan tentang adiknya itu. Lalu Madiya teringat akan pesan orang yang meneror dirinya itu. "Aku minta maaf Bun. Aku belum sempat melihat adikku," kali ini Madiya yang berkaca-kaca seolah merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh ibunya. Dia langsung memeluk ibunya lagi dengan erat. "Kamu sudah tau kalau adikmu sudah meninggal?" tanya Ratih kepada anaknya. Ini fakta yang menyakitkan untuk dirinya, Ratih tidak akan lupa dengan kejadian yang sudah menimpa anaknya selama ini. "Ada yang mengirimkan aku pesan ini, dia mengatakan kalau adikku sudah meninggal." Madiya tidak mengatakan kalau orang itu adalah orang yang meneror dirinya. Dia hanya tidak ingin nanti masalah ini malah akan jadi rumit. "Semuanya gara-gara kekasihnya itu. Pria itu yang sudah membuat adikmu meninggal dunia. Kalau bukan karena pria itu semuanya mungkin tidak akan terjadi." Madiya belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Ratih. Memangnya siapa kekasih dari adiknya tersebut? Madiya bersumpah tidak akan memaafkan pria itu dan dia pasti akan menjebloskan pria itu ke penjara. "Kalau boleh tau, siapa namanya? Aku ingin menyelidikinya dan aku pasti akan menjebloskan pria itu ke dalam penjara," ujar Madiya dengan percaya diri. Apalagi sekarang ada Richard yang menjadi penopang dirinya. Jelas pria itu pasti akan membantu dirinya untuk menjebloskan kekasih dari adiknya. Madiya tidak akan bisa membiarkan orang itu hidup tenang. Madiya sekarang malah merasa curiga, jangan-jangan orang yang sudah meneror dirinya juga adalah kekasih Madiya. "Namanya adalah Ri..." Belum sempat Ratih mengatakan semuanya, Robi sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah itu. Dia mendengar semua pembicaraan tadi dan seketika langsung panik. Jelas sekali dia tidak ingin rahasianya terbongkar. "Ada apa Robi?" tanya Madiya ketika Robi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini. Beruntung sekali Robi datang cepat datang ke sini. Ratih yang akan menyebutkan nama Richard pun akhirnya tidak jadi. Dia melihat kearah orang yang datang ke dalam rumahnya. Dia orang yang tadi datang dari kota bersama dengan anaknya. Tetapi orang tersebut tidak berani masuk ke dalam rumahnya. "Ini ada telepon dari suamimu," ujar Robi. Madiya menaikan sebelah alisnya dengan heran, tidak biasanya Richad mau menghubunginya ketika dalam jam kantor seperti ini. Lalu dia menerimanya saja karena memang penasaran. "Kamu sudah punya suami?" tanya Ratih yang merasa terkejut. Apalagi Madiya memang tidak mengundang dirinya di acara pernikahan wanita tersenyum. Tetapi walaupun begitu, Ratih hanya berharap kalau Madiya bisa menemukan pria yang cocok dan baik untuk dirinya. "Iya bunda. Aku sudah punya suami, maaf yah bunda aku gak undang bunda saat menikah karena memang pernikahannya dadakan dan hanya mengundang berbeda orang saja," sesal Madiya menjelaskan semuanya. Ratih menghela nafasnya sesaat lalu beralih pada ponsel yang diberikan oleh Robi tadi. "lebih baik kamu berbicara dengan suamimu dulu. Siapa tau memang dia ingin berbicara penting," ujar Ratih. Madiya hanya tersenyum tipis saja sambil mengangguk. Mustahil jika Richad ingin berbicara penting padanya. "Kalau begitu aku ijin ke belakang dulu yah bunda." Ratih hanya mengangguk, lalu Madiya berjalan ke ruangan belakang dan dia kini menghubungi Richad. Bahkan dia heran sendiri dengan Richard yang menelpon secara mendadak itu. Bahkan Vani belum sempat mendengar nama dari kekasih adiknya. "Hallo Richard? Kenapa kamu menghubungiku?" tanya Madiya kepada Richard yang tiba-tiba menghubungi dirinya. "Akhirnya kamu mau berbicara denganku Madiya." "Aku tidak ingin basa basi Richard. Aku sudah bertemu dengan ibuku sekarang. Aku sedang mengobati rinduku ke sini." Madiya mengatakan itu karena memang dia merasa sedikit kesal karena Richad yang malah mengabaikan dirinya. Entah kenapa dia malah merasa kalau ini memang tidak adil untuk dirinya. "Aku tau, aku harap kamu tidak melupakan janjimu itu Madiya. Kamu akan menuruti apapun yang aku perintahkan setelah kamu bertemu dengan ibumu," cakap Richard. "Iya aku ingat. Tidak usah kamu ingatkan juga aku sudah tau. Lalu ada apa lagi kamu menghubungiku?" kesal Madiya. "Kamu tidak boleh menginap di sana dan langsung pulang." Richard hanya berpesan seperti itu karena dia tidak mau Madiya terus berada di sana. "Aku rindu dengan bundaku. Jadi boleh jika aku berada di sini lebih lama yah. Aku mohon," pinta Madiya agar ibunya mau menuruti keinginan dirinya. "Pokok nya kamu harus pulang titik!" ujar Richard secara paksa. Apalagi dia khawatir kalau sampai Madiya lama-lama tinggal di sana maka, semua rahasia yang selama ini Richard sembunyikan akan ketahuan. "Kok kamu maksa!" Madiya kini terlihat kesal dengan Richard yang malah seenaknya mengatur dirinya saja. Dia tidak suka dipaksa seperti ini. "Jangan banyak membantah Madiya. Kamu tidak lupa kalau aku sudah menyewa mu untuk menjadi istriku. Jadi turuti semua keinginanku," kata Richard dengan nada sedikit penuh penekanan kepada Madiya. Madiya mengerucutkan bibirnya kesal. Dia tidak mau kalah dengan Richad saat ini. Mentang-mentang dia sudah jadi suaminya jadi main semena-mena terhadap dirinya. "Kamu bukan suami sungguhan ku, jadi jangan berharap kamu bisa mengaturku!" ketus Madiya yang berusaha untuk membantahnya. "Liat saja nanti, aku akan memberikan kamu hukum baby," terdengar suara iblis dari Richard dan Madiya langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia tidak peduli dengan Richard dan kini dia berjalan menuju ke ruang tamu di mana ada bundanya yang sedang mengobrol dengan Robi. "Ini ponselmu," ujar Madiya memberikan ponsel itu pada Robi dengan nada sedikit kesal. Apalagi Richard main seenaknya saja terhadap dirinya. Lalu Madiya ikut duduk kembali bersama dengan ibunya. "Suamimu memperlakukan kamu dengan baik kan nak?" tanya Ratih pada Madiya. Apalagi Ratih merasa khawatir kalau Madiya mempunyai suami yang kasar atau yang memerlukan dirinya tidak baik. Dia merasa khawatir sekarang ini, bahkan dia tidak tahu harus berbuat apalagi. Madiya tau kenapa bundanya berkata seperti itu padanya. Bagaimanapun bundanya dulu pernah gagal dan pasti dia tidak mau anaknya terjadi sesuatu. "Iya Bunda. Dia memperlakukan Madiya dengan baik kok. Malah aku merasa bahagia karena berkat dia pula aku bisa menemukan keberadaan bunda di sini. Tapi sayang dia sibuk di kantor, jadi gak bisa ke sini." Madiya masih membela Richad walaupun dia sedang kesal sebenarnya dengan pria itu. "Wah kapan-kapan bawa dia ke sini yah." "Iya, pasti," ujar Madiya sambil tersenyum tipis. Dia mungkin nanti akan memperkenalkan ibunya kepada Richard. Robi mendengarkan pembicaraan antara dua wanita itu. Lalu dia bergumam dalam hatinya. "Bu Ratih tau saja siapa suami Madiya yang sebenarnya. Kalau tau, pasti Bu Ratih benci sekali karena Richad yang sudah membuat Sabrina meninggal dunia." "Jaga Madiya baik-baik yah," ujar Ratih kepada Robi. "Bu Ratih tenang saja, saya pasti akan menjaga anak anda sampai selamat ke tangan suaminya," jawab Robi sambil tersenyum dan akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Disusul dengan Madiya yang sudah memeluk ibunya, lalu dia akhirnya ikut masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya kearah Ratih. "Aku pamit, jaga diri ibu baik-baik." BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD