Bab 13 Ada Yang Meneror Madiya

1330 Words
Madiya telah selesai makan bersama dengan Richard, dia sudah merasa bahagia karena sudah melakukan kesepakatan dengan Richard. Madiya membersihkan piring-piring yang tadi bekas dia makan bersama dengan Richard. Melihat Madiya yang sedang mencuci piring sendiri, akhirnya Madiya memutuskan untuk menghampiri wanita itu. "Ada yang bisa aku bantu?" tanya Richard. Madiya melirik kearah belakang ketika melihat Richard, mereka mereka saling bertemu satu sama lain. Sebelum sedetik kemudian, Madiya menjauhkan dirinya dari Richard. "Tidak usah. Sudah hampir selesai kok." Madiya mengatakan itu karena dia sedikit gugup, apalagi dengan jarak Richard yang dekat dengan dirinya. Begitu pun dengan Richard sekarang ini. "Yasudah kalau begitu." Richard hendak akan pergi tapi, Madiya malah memanggil pria itu. "Masakan buatan aku tadi enak kan?" Madiya masih penasaran dengan pria itu karena memang pria itu belum memberikan komentar pada masakan yang sudah dia buat sekarang. "Iya, masakan buatanmu memang enak." Madiya yang mendengar hal tersebut pun akhirnya ikut tersenyum tipis. Dia sedikit merasa bahagia karena artinya secara tidak langsung Richard menyukai masakan yang dia buat tersebut. Dia jadi lega sekarang ini. "Untuk besok, kamu akan makan apa? Biar nanti aku yang akan buatkan," ucap Madiya kepada Richard. Madiya tidak akan memasak sesuatu yang tidak disukai oleh Richard, dia akan mencoba sesuatu yang baru. Tentu saja dia akan melihat internet sebagai tutorial masaknya. Terlebih memang Madiya suka sekali ketika masak seperti ini. Richard diam-diam memperhatikan ekspresi wajah Madiya yang terlihat senang. Apalagi jika membahas tentang masakan. Tidak rugi Richard menikah dengan Madiya, rupanya wanita itu juga pandai dalam memasak. "Sudah aku bilang, apapun yang kamu masak. Aku akan memakannya. Tentu saja kamu harus mau menuruti keinginan diriku." "Baiklah kalau begitu." Padahal Madiya ingin Richard memberitahu dirinya agar dia punya ide untuk masak besok. Tetapi Richard malah menyerahkan semuanya padanya. Dia jadi tidak punya ide baru sekarang. Sedangkan Richard masuk kedalam kamarnya, tanpa menunggu Madiya yang saat ini sedang membersihkan piring kotornya. Richard mengunci pintu kamarnya dengan rapat lalu dia berjalan ke arah tepi ranjang. Makanan buatan Madiya hampir sama dengan adiknya. Itu yang membuat Richard malah tidak memberitahu Madiya tentang masakan kesukaan dirinya. Richard mengambil sebuah foto di mana itu adalah Sabira yang tersenyum manis. Dia tersenyum kecut ketika melihat foto tersebut. Andai saja semuanya tidak pernah terjadi, mungkin kehidupan dirinya akan lebih baik tidak seperti sekarang. "Aku merindukanmu," gumam Richard sambil mengelus foto Sabira, lalu dia menciumnya dengan hangat. Sabira adalah wanita yang disukai oleh Richard dan pria itu belum bisa melupakannya sampai sekarang. Seandainya kejadian tragis itu tidak menimpa dirinya dengan Sabira, mungkin saja wanita itu sampai sekarang masih ada di sisinya. Bukan malah kakaknya yang kini menjadi istri sewaannya. Permintaan dari Madiya tentang mencari kebenaran ibunya membuat Richard merasa bimbang. Bukan dia tidak mau membantunya, tetapi karena ibunya Madiya sudah mengenali dirinya dan sudah terlanjur salah paham padanya. "Maafkan aku," gumam Richard. Banyak sekali kenangan yang memang sudah dia lalui di sana dan dia tidak bisa melupakan dengan begitu saja. Apalagi tentang Sabira yang sudah mencuri hatinya. "Aku belum bisa melupakan kamu Sabira. Bahkan ketika aku bertemu dengan kakakmu dan menikah dengannya." Richad kembali menaruh foto itu dengan rapih. Alasan dia tidak mau satu kamar dengan Madiya juga karena takut foto yang dia miliki malah ketahuan. Akhirnya dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Robi untuk meminta bantuan dari pria itu. "Hallo Robi," panggil Richard pada ponselnya. "Kenapa Pak Bos?" tanya Robi dengan ucapan yang sedikit meledek pria itu. Tentu saja Richard tidak akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja. "Kamu bisa mengantar Madiya ke Sumedang?" pinta Richard karena dia sudah berjanji kepada Madiya untuk mempertemukan wanita itu dengan ibu kandungnya. Terapi sendiri tidak sanggup jika harus datang ke sana. Robi tiba-tiba teringat akan sesuatu, dia tahu kalau kota itu adalah kota tempat tinggal ibunya Madiya sekarang. Apa Richard akan mempertemukan anak dan ibu tersebut. "Kamu ingin aku mempertemukan mereka?" tanya Robi. Richard tersenyum karena Robi rupanya sangat pintar sekali karena sudah bisa menebak arah pikirannya sekarang. Dia memang ingin mempertemukan mereka. Apalagi dia merasa kasian dengan Madiya yang sudah lama tidak bertemu ibunya. "Iya, aku ingin kamu mengantar dia ke sana. Aku percaya padamu kalau kamu bisa mengantar dia." "Kenapa tidak Pak Bos saja yang mengantar dia?" tanya Robi. Padahal sangat bagus jika Richad sendiri yang menemui ibunya Madiya. "Kamu tahu sejak kejadian itu, Bu Ratih sangat membenciku dan menyalahkan aku sampai sekarang." Richard memang dulu pernah melakukan kesalahan pada Sabira, ini membuat kehidupan dirinya begitu rumit dan hancur. Sampai sekarang dia belum bisa menemukan dalang yang sudah membuat dirinya celaka bersama Sabira. "Okeh aku paham Bos. Lalu bagaimana dengan pekerjaanku di kantor?" tanya Robi mengingat dia adalah asisten bosnya itu. "Aku bisa handel sendiri nanti, kamu temani Madiya saja ke Sumedang." "Baiklah kalau begitu bos." Richard langsung menutup sambungan teleponnya. Sekarang dia tinggal memberitahu Madiya untuk menyuruhnya pergi ke sana. *** Pagi hari yang begitu sangat cerah, Madiya terlihat sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Begitu pun dengan Richard yang memutuskan untuk makan roti yang dibuat oleh Madiya. Sampai dia teringat akan percakapan dirinya dengan Robi semalam. Dia akan memberitahu Richard yang sudah terjadi sebenarnya sekarang ini. "Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kamu juga." Richad awalnya merasa heran dengan Madiya yang menghampiri dirinya. Tetapi matanya tertuju kepada rantang makanan yang sudah disiapkan oleh Madiya. Dia langsung membawanya sambil tersenyum manis. "Terimakasih banyak, karena kamu sudah menyiapkan ini." Madiya hanya tersenyum ketika Richard yang mengucapakan terimakasih padanya. Baru pertama kali Richard mengucapakan terima kasih kepada dirinya. Sampai dia teringat akan sesuatu, hampir saja tadi dia melupakannya. "Nanti Robi yang akan mengantar kamu bertemu dengan ibumu," ujar Richard memberitahu istrinya. Madiya yang mendengar itu terkejut. Dia sedikit merasa heran karena menurutnya Richard terlalu cepat. Padahal semalam dia baru meminta bantuan pada pria itu. "Hm... Kamu sudah menemukan keberadaan ibuku?" tanya Madiya yang sedikit terkejut. Padahal selama ini dia selalu mencarinya dan Richard begitu mudah menemukan kebenaran ibunya. Sepertinya Madiya percaya kalau orang yang mempunyai power itu lebih mudah untuk menemukan sesuatu yang dia cari. Richard tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau dia yang memang tau keberadaan ibunya. Bisa-bisa nanti Madiya akan semakin curiga padanya. "Iya, nanti Robi yang akan menemani kamu ke sana. Aku tidak akan ikut karena sibuk banyak pekerjaan," jawab Richard sedikit berbohong karena sebenarnya dia tidak mau bertemu dengan ibunya Madiya. "Aku bisa datang ke sini ke sana. Kamu kasih alamatnya saja padaku." Madiya lebih baik menemui ibunya sendiri tanpa ada orang dari Richard. "Kamu pikir aku percaya kalau kamu akan kabur setelah ini? Lagian ibumu itu ada di luar kota gak ada di sini!" Madiya terkejut ketika mendengar kalau ibunya ada di luar negeri. Dia kira ibunya ada di kota ini. Pantas saja dia selama ini sulit untuk menemukan ibunya. "Aku tidak akan kabur." ketus Madiya. "Yaudah, nanti hubungi aku kalau sudah sampai di sana," ujar Richard. Dia hanya takut kejadian beberapa tahun lalu akan terjadi lagi padanya. Yaitu kehilangan Sabira, bahkan sampai sekarang dia tidak tau siapa pelakunya. "Baiklah," jawab Madiya. Madiya akhirnya memutuskan untuk mengalah saja. Lagian percuma Richard bukan orang yang bisa dia berantakan. Dia tau apa yang ada di dalam dirinya saat ini. "Bagus, kalau begitu aku berangkat dulu. Kamu bisa siap-siap, nanti Robi akan datang ke sini untuk mengantarmu." Selepas mengatakan itu akhirnya Richard masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Madiya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dia akan bersiap-siap untuk bertemu dengan ibunya. Akhirnya dia bisa ingin bertemu dengan orang yang dia rindukan selama ini. "Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu," gumam Madiya yang memilih baju yang sopan. Lalu ponselnya tiba-tiba bergetar tanda ada sebuah notifikasi masuk dari ponselnya. Madiya membukanya dan dia membacanya. [KAMU PIKIR AKAN HIDUP BAHAGIA SETELAH MENIKAH DENGAN RICHARD, AIBMU AKAN AKU SEBARKAN]. Madiya membacanya pesan dari seseorang yang tidak dia kenal. Siapa orang iseng yang sudah mengirimkan ancaman ini padanya. Ada beberapa wanita yang tidak suka dengan dirinya memang. Yang pertama ibu tirinya, yang kedua adik tirinya. Yang terakhir adalah mertuanya. "Siapa orang jahat di sini?" batin Madiya. Dia tidak memberitahu Richad dulu tentang ancaman ini, walaupun dia merasa sedikit heran sendiri. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD