Bab 12 Kesepakatan Richard Dan Madiya

1243 Words
Richard tersenyum sendiri ketika dia sudah menghubungi Madiya dan menyuruh wanita itu untuk masak. Tentu saja Richard ingin mencoba masakan dari Madiya. Terakhir yang dia ingat itu, dia mencicipi nasi goreng buatan dari Madiya, Richard langsung tertarik ingin mencoba lagi masakan lain dari wanita itu. Richard juga memberikan bulanan kepada Madiya agar wanita itu bisa membeli bahan masakan sesuai dengan keinginan wanita itu. Dia tahu kalau Madiya pasti akan suka. Ketika Richard yang sedang melamun, tiba-tiba Robi datang ke dalam ruangan milik Richard, membuat pria itu malah jadi heran sendiri. "Ada apa Robi?" tanya Richard. "Saya sudah menyelesaikan semua berkas yang diinginkan," ujar Richard. "Sudah aku bilang kalau kita hanya berdua saja tidak usah formal begitu padaku," ujar Richard memperingati Robi. Apalagi Robi memang sahabat baiknya dari sejak mereka masih SMA. Robi tersenyum dengan tipis ketika melihat ekspresi wajah Richard yang cerah, berbeda dari biasanya. "Iya sengaja. Aku hanya ingin menggoda kamu saja." "Jijik kamu. Makanya nikah saja biar gak ngebucin sama sesama jenis," sergah Richard yang terlihat sedikit geli dengan ucapan Robi. "Malah menghinaku, Lagian aku juga normal kok. Jangan karena kamu sudah nikah sekarang, jadi nyuruh aku buat nikah juga," ujar Robi yang kesal dengan Richard. Richard tidak mau banyak berdebat saat ini. Dia melihat kearah jam tangannya. Dia sudah janji pada Madiya kalau dia akan makan malam bersama dengan wanita itu. "Terserah kamu saja Robi, aku juga malas berdebat denganmu. Lagian aku mau pulang sekarang." Robi menaikan sebelah alisnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Richard. Apalagi tidak biasanya Richard ingin pulang cepat seperti ini. Karena setahu dia Richard tipe orang yang workaholic. "Tumben sekali kamu mau pulang cepat sore begini. Biasanya juga pulangnya malam," ujar Robi yang memang sedikit tahu kebiasaan Richard. Berbeda dengan ekspresi wajah Richard sekarang, dia tersenyum tipis karena memang tahu akan sesuatu sekarang. "Iya karena aku akan makan malam bersama dengan istriku," ledek Rico sengaja pada Robi karena dia tau kalau Robi belum menikah sama sekali. Robi yang mendengar itu nampak tidak percaya dengan perkataan bosnya itu. Richard sudah mau pulang hanya karena istrinya. Luar biasa sekali perubahan pria itu. Padahal setahu Robi kalau Richard menganggap Madiya sebagai istri sewaannya saja. "Kamu pasti bercanda bro, tidak mungkin bukan hanya karena akan makan malam bersama dengan Madiya?" gumam Robi sama sekali tidak percaya dengan ucapan Richard. Bagaimana mungkin pria seperti Richard bisa berubah. "Aku tidak sedang bercanda Robi, Sudah yah aku pulang duluan." Richard berjalan keluar dari kantornya, membuat Robi malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Benar-benar tidak menyangka kalau Richard beneran akan berubah setelah menikah. Dia pulang hanya karena istrinya? Apa sekarang dia juga harus punya istri agar bisa pulang cepat dengan alasan itu. "Apa Richard sekarang sudah membuka hatinya untuk Madiya. Atau Richard menjadikan Madiya hanya untuk pelampiasan saja karena wajah Madiya dan Sabira hampir mirip." Robi malah berbicara sendiri sebelum akhirnya dia juga ikut keluar dari ruangan. Memikirkan hal tersebut membuat Robi jadi ikut penasaran juga. *** Madiya baru saja mandi dan membersihkan dirinya. Dia sudah memakai baju yang diberikan oleh Richard waktu itu. Kali ini dia merasa kembali ke dalam kehidupannya lagi. "Lebih baik aku keluar." Madiya baru saja membuka pintu kamarnya dan dia dikejutkan oleh Richard yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. "Kamu ngapain di depan pintu kamarku?" tanya Madiya yang merasa heran ketika melihat Richard ada di dalam. Richard memalingkan wajahnya ketika dia yang merasa malu. Padahal tadi dia ingin mengetuk pintu kamar Madiya. Tapi wanita itu sudah lebih dulu membuka pintu. Jangan sampai nanti Madiya mengira kalau dia habis mengintip. "Menurutmu?" Richard membalas balik bertanya pada Madiya. "Jadi benar, kamu mengintip aku mandi?” tuduh Madiya menunjuk pada Richard sambil meledek pria itu. "Sembarang kalau ngomong. Memangnya siapa yang mau mengintip kamu hah. Aku hanya akan memanggil kamu untuk makan bersama," ketus Richard yang kembali dingin. Mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya itu dari Madiya. "Biasa aja kalau gak usah ketus segala. Aku hanya nebak saja," sergah Madiya. Richard memutar bola matanya jengah. Dia malah malas untuk berdebat seperti ini. Rasanya memang dia yang malah merasa gugup sekarang. Membiarkan waktu yang akan membuktikan semuanya nanti. "Sudah. Tidak usah debat." Richard sudah lebih dulu berjalan menuju kearah meja makan. Dia duduk bersama dengan Madiya berdua di sini. Suasana kian menjadi canggung, apalagi ini pertama kalinya lagi Richard makan hanya berdua saja. Apalagi bersama dengan Madiya yang kini sudah bersama dengan istrinya. "Mau makan apa?" tanya Madiya yang memecahkan keheningan antara keduanya. Dia biasanya makan sendiri dan sekarang baru makan berdua lagi. "Apa saja, sepertinya enak semuanya." Madiya hanya mengangguk, lalu dia mengambilkan nasi bersama dengan ayam kecap yang dia buat tadi. Lalu dia mengambil sambal dan juga lalapan pada Richard. "Aku hanya berharap kalau kamu akan menyukai masakanku," gumam Madiya sambil tersenyum tipis. "Iya, selamat makan." Richard akhirnya memutuskan untuk mulai makan, dia menyuapkan nasi pada mulutnya. Dia merasa lega karena bisa merasakan sesuatu yang dia rasakan. Madiya diam-diam memperhatikan Richard yang sedang makan, tentu saja dia menunggu respon pria itu ketika sedang makan. Apa pria itu akan suka dengan makanan dirinya? "Kamu tidak makan?" tanya Richard ketika melihat Madiya yang tidak mengambil nasi. "Eh iya." Madiya jadi gugup ketika dia yang memang ketahuan memperhatikan pria itu akhirnya dia memutuskan untuk mengambil piring dan nasinya. Madiya akhirnya memakan apa yang dia masak. Padahal dia merasa penasaran dengan hal ini. Bahkan dia sama sekali tidak menyangka dengan yang dia rasakan. Madiya teringat dengan ibunya, siapa tau Richard bisa membantu dirinya untuk menemukan kebenaran ibunya. Dia sangat merindukan ibunya dan ingin tau keberadaannya. Apalagi Madiya tau kalau Richard adalah orang kaya, dia pasti memiliki beberapa koneksi untuk menemukan keberadaan ibunya itu. "Em Richard," panggil Madiya dengan pelan. "Kenapa?" tanya Richard yang kembali melihat kearah Madiya. "Aku boleh minta bantuan kamu?" tanya Madiya dengan hati-hati. Takut nanti Richard malah akan mengabaikan dirinya. Tetapi kalau dia tidak mencobanya belum tahu dia dengan yang terjadi sekarang. "Bantuan apa? Sepertinya serius sekali," ujar Richard yang masih menyuapkan makanan ke mulutnya. Madiya akhirnya memberanikan dirinya untuk meminta bantuan dari Richard. Semoga pria itu mau membantu dirinya untuk menemukan kebenaran adik dan ibu kandungnya. "Aku ingin kamu membantuku untuk mencari tau kebenaran ibuku." Richard langsung tersedak ketika mendengar mendengar permintaan dari Madiya barusan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Madiya akan meminta bantuan itu sekarang. Sedangkan dirinya sendiri belum siap untuk bertemu dengan ibunya Madiya. Bukan tanpa asalan dia tidak ingin menemuinya. Tetapi ibunya Madiya masih membenci dirinya. Madiya memberikan minum pada Richard karena dia tersedak. Dia sama sekali tidak menyangka dengan hal ini. "Makannya pelan-pelan kalau makan," ketus Madiya. Richard menerimanya dan dia meneguk minuman dengan pelan. Sebelum akhirnya dia kembali melirik kearah Madiya kembali. "Kamu menyuruhku untuk mencari ibumu? Lalu apa imbalan yang akan kamu berikan padaku jika aku membantumu?" tanya Richard dengan sekilas. Richard mengatakan itu dengan santai, sedangkan Madiya kini malah terlihat kesal. Dia lupa kalau Richard memang selalu minta imbalan, tidak bisa membantu secara cuma-cuma. "Aku akan melakukan apapun yang kamu mau," ujar Madiya yang tidak punya pilihan lain. Dia akan mengikuti semua keinginan Richard jika dia berhasil bertemu dengan ibunya. Richard tersenyum dengan seringainya ketika mendengar apa yang Madiya ucapkan. Dia mengulurkan tangannya itu dengan baik. "Deal?" "Deal. Madiya dan Richard akhirnya berjabat tangan ketika mereka melakukan kesempatan ini. Tentu saja Richard sudah memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Dia punya rencana yang lebih bagus untuk mendapatkan Madiya. "Jangan sampai melanggar nanti," ujar Richard. Madiya hanya mengangguk, dia tentu saja akan menepati janjinya. Walaupun dia tidak tahu yang diinginkan oleh Richard. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD