Keesokan paginya, Richard memutuskan untuk tidak mengambil cuti setelah menikah, dia kembali bekerja di kantor miliknya. Berbeda dengan Madiya yang sekarang memutuskan untuk pergi ke sebuah mall. Wanita itu ingin berbelanja kebutuhan yang di apartemen mereka.
Madiya melihat kearah mall yang sudah dia lihat. Banyak sekali belanjaan yang membuat matanya senang.
"Astaga, banyak sekali barang-barangnya."
Madiya akhirnya memutuskan untu membeli bahan-bahan yang dia mau. Dia hanya menikmati uang yang diberikan oleh Richard kepada dirinya.
Ketika sedang asik berbelanja tiba-tiba Madiya tidak sengaja menabrak seseorang, hingga membuat dia hampir saja jatuh.
Madiya akan meminta maaf pada orang tersebut tapi, niatnya itu dia urungkan ketika melihat siapa orang yang sudah menabrak dirinya. Sudah sekian lama dia tidak bertemu dengan orang itu dan sekarang dia melihatnya lagi.
"Masih hidup ternyata kamu."
Madiya membereskan barang-barang yang dia beli tadi hampir saja berantakan. Lalu matanya melihat tajam kearah orang yang ada di hadapannya.
"Tidak menyangka kalau bisa bertemu lagi."
Wanita angkuh yang tidak punya perasaan itu menatap Madiya dengan sinis. Dia adalah Sukma, ibu tiri dari Madiya yang dulu membuat dia diusir dari rumah ayahnya.
Sukma melihat belanjaan Madiya yang terlihat begitu banyak. Padahal setahu Sukma bahwa Madiya hidup di satu kontrakan yang sempit. Bagaimana bisa wanita itu bisa berada di sebuah mall yang mewah.
"Wah belanjaan kamu banyak juga. Apa kamu sudah menjual tubuhmu itu pada p****************g?" sindir Sukma sambil merendahkan Madiya.
Madiya mengepalkan tangannya ketika mendengar sindiran dari Sukma barusan. Jelas sekali kalau wanita itu sengaja memancing dirinya agar terlihat emosi.
"Jaga ucapan anda yah Bu Sukma!" sinis Madiya dengan tatapan tajam. Dia tidak terima dengan ucapan tersebut karena kesal.
Madiya benar-benar marah ketika dia yang malah dikatai w************n. Sudah jelas wanita yang ada dihadapannya itu yang murahan sudah berani menggoda suami orang.
"Atau kamu sekarang bekerja sebagai seorang pembantu yah? Kasian sekali nasibmu," sindir Sukma.
"Aku tidak bekerja sebagai seorang pembantu. Jangan ikut campur dengan urusanku, kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi."
Madiya sengaja menyenggol lengan Sukma dengan kesal. Lalu dia pergi dengan begitu saja meninggalkan Sukma dan membuat wanita itu mengepalkan tangannya.
"Kurang ajar. Anak itu sudah berani sekarang padaku. Liat apa yang akan aku lakukan. Aku akan mencaritahu tentang dirinya, termasuk dari mana dia bisa membeli banyak seperti itu."
Sukma merasa curiga dengan perubahan Madiya sekarang. Tidak mungkin wanita itu bisa berubah menjadi orang kaya seperti itu. Apalagi sekarang anak itu sudah berani melawan dirinya.
"Lihat saja Madiya, aku pasti akan mencaritahu tentang dirimu yang sebenarnya. Setelah itu aku akan menghancurkan dirimu kembali," gumam Sukma dengan sinis.
***
Madiya tersenyum tenang ketika dia yang kini pulang naik taksi meninggalkan ibu tirinya yang dulu sudah mengusirnya dari rumah. Wanita itu pasti merasa heran dengan dirinya yang bisa beli bahan makanan banyak.
Rupanya menjadi istri dari seorang Richard membuat dirinya bahagia karena dia bisa membalaskan dendam kepada ibunya tirinya yang sudah membuat dirinya menderita.
"Mbak, kita sudah sampai sekarang."
Madiya tersenyum tipis ketika dia sudah sampai kembali, dia teringat kalau taksi tersebut juga yang mengantarkan dia dulu ketika pertama kali bertemu dengan Richard.
Madiya memberikan uang pada supir taksi tersebut lalu dia membawa belanjaannya itu yang banyak. Tidak lupa dia menyuruh orang untuk membawakan belanjaan.
"Tolong bantu saya bawakan ini ke depan apartemen."
"Baik."
Madiya benar-benar seperti nyonya sekarang. Dia sudah hidup bahagia dengan memiliki apa yang dia mau. Tinggal ada satu hal yang harus dia lakukan, yaitu menemukan di mana ibunya berada dan juga adiknya yang sudah lama tidak bertemu.
Kalau dia sudah punya uang, artinya dia akan lebih mudah mencari kebenaran ibunya dan adiknya. Dia sangat merindukan saudara itu dan juga ibunya. Walaupun Madiya tidak pernah melihat wajah adik kandungnya, karena ketika ibunya diusir dari rumahnya kala itu, ibunya sedang mengandung besar dan ayahnya malah menuduh ibunya itu selingkuh dan tidak mau mengakui adiknya.
"Aku merindukanmu," gumam Madiya tanpa sadar lalu dia masuk ke dalam apartemen milik Richard.
"Ini Bu belanjaannya."
"Terimakasih banyak."
Madiya memberikan uang lebih pada orang yang sudah membantunya itu. Tapi pria itu malah menolaknya dengan alasan karena dia sudah digaji oleh Richard untuk menjaga di depan.
"Tidak usah, kalau begitu saya permisi dulu."
Madiya hanya mengangguk sambil melihat kepergiannya saja. Dia bisa bernapas laga untuk hari ini sambil membawa belanjaannya itu masuk ke dalam.
Madiya mengambil bahan makan itu lalu dia memasukan semuanya pada lemari pendingin. Tentu saja dia melakukan semuanya sendiri karena di apartemen ini tidak ada pembantu dan kadang hanya ada cleaning service saja setiap dua minggu sekali.
Sampai suara deringan ponsel milik Madiya berdering. Madiya merasa heran sendiri, tetapi akhirnya dia mengangkat teleponnya juga.
"Hallo, Madiya."
"Iya, Richard. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Madiya menaikan sebelah alisnya.
"Kamu sudah belanjanya?" tanya Richard yang bisa mengetahui semuanya. Tentu saja pria itu tahu dari anak buahnya yang tadi membantu dirinya memasukan barang belanjaan ke depan apartemennya.
"Iya. Aku sudah membeli bahan masakan. Kenapa?" tanya Madiya yang memang merasa penasaran.
"Aku akan makan malam di rumah. Kamu masak yang enak," perkataan dari Richard bagai perintah untuk dirinya. Tapi Madiya sama sekali tidak keberatan jika memang hanya memasak saja. Itu bukan hal yang sulit karena memang dia sudah terbiasa masak sejak dulu.
"Baiklah tidak masalah jika aku akan masak. Tetapi aku tidak tahu tentang dirinya. Sukanya makan ada dan apa kamu mempunya alergi? Aku takut jika memasak sesuatu yang membahayakan untuk kesehatanmu," terang Madiya.
"Aku bukan pemilih makanan dan aku tidak punya alergi pada apapun, jadi kamu bisa masak apapun juga."
Madiya merasa lega karena artinya Richard tidak punya alergi apapun. Dia bisa memasak sesuai dengan kesukaan dirinya.
"Baiklah aku akan membuat ayam kecap, semoga kamu suka."
"Baiklah aku tunggu Madiya."
Richard mematikan sambungan teleponnya saja membuat Madiya sedikit kesal. Padahal dia ingin bercerita tentang dia yang ketemu dengan ibu tirinya. Tapi Madiya sadar kalau Richard pasti sedang sibuk.
"Dia kadang menyebalkan. Walaupun aku akui kalau dia memang tampan," gumam Madiya yang ingin marah tapi malah tidak jadi.
Dia langsung mengambil ayam dan memotongnya secara perlahan. Dia menyiapkan semua bumbu yang akan dia masak nanti. Lalu dia mengikat rambutnya agar tidak jatuh.
"Semoga dia akan suka."
Madiya menyalakan kompor dan dia lebih dulu nyimpan ayam dan membersihkan kembali dengan rata. Dia memang suka dengan makan tersebut sejak kecil. Dulu ibunya selalu membuat ini dengan dirinya.
Dia memasukan bumbunya dan tidak lupa memberikan kecap pada makannya. Madiya senang ketika menghirup bau dari masakan yang memang harum di hidungnya.
Madiya akan mandi nanti setelah dia masak, tentu saja dia akan makan bersama dengan Richard, dia berharap Richard akan menyukai apa yang dia masak.
"Aku seperti istri sungguhan kalau seperti ini," gumam Madiya tanpa sadar. Lalu dia menggelengkan kepalanya ketika menyadari kalau dia dibutuhkan hanya untuk disewa saja. Bukan untuk menjadi istri sungguhan dari Richard. Madiya menyadari posisinya untuk sekarang. Dia tidak boleh berharap lebih dari Richard.
"Kenapa gue malah berpikir begitu," gumam Madiya menyadarkan dirinya sendiri.
Dia tidak mungkin bisa bersama dengan Richard karena pria itu yang memang sulit sekali untuk dia gapai.
BERSAMBUNG