Bab 6 Richard Mencaritahu Identitas Madiya

1225 Words
Madiya melihat kearah cermin sambil memperhatikan gaun yang sedang dia pakai sekarang. Baju ini memang sangat cocok untuk dirinya. Tetapi apa dia pantas memakai gaun yang mahal seperti ini. Madiya sedikit kurang merasa percaya diri. "Lebih baik aku keluar sekarang," gumam Madiya pada dirinya sendiri sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar. "Wah luar biasa sekali Bu Madiya, anda terlihat sangat cantik dengan gaun tersebut," puji seorang desainer tersebut kepada Madiya. Madiya hanya tersenyum tipis karena dia merasa malu. Sampai dia menyadari kalau di sini tidak ada Richard sama sekali, ke mana perginya pria itu sekarang? "Ke mana Richard pergi?" tanya Madiya. "Pak Richard terlihat keluar tadi, mungkin saja ada hal yang ingin diselesaikan oleh beliau." Madiya sedikit kecewa dengan hal tersebut, padahal dia mengira kalau Richad akan memuji baju yang dia gunakan sekarang. "Mungkin saja benar seperti itu." Madiya berbalik arah lalu memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruang ganti. Tanpa Madiya ketahui, sebenarnya Richard berdiri tidak jauh dari sana. Hanya saja dia kembali tidak sanggup ketika melihat gaun yang digunakan oleh Madiya barusan. Tiba-tiba Richard teringat dengan seorang wanita dari masa lalunya, orang tersebut menginginkan guan seperti ini. Tetapi hal tersebut tidak bisa tercapai karena kesalahan. Robi yang memang teman dekat dari Richard pun, memahami keadaan pria tersebut. Dia tersenyum tipis ketika mengingat sesuatu. "Bukannya mereka sedikit mirip?" gumam Robi. Richard tidak bisa berbohong, memang Vani terlihat sedikit mirip dengan seseorang dari masa lalunya. "Aku yakin kalau mereka punya hubungan keluarga. Aku pernah melihat foto ibunya." Raut muka Robi berubah ketika mendengar penuturan dari Richard barusan. Bagaimana mungkin Richard berpikir seperti itu. "Kamu serius?" "Iya, aku serius. Tapi aku heran dengan dirinya yang hanya tinggal di kontrakan kecil." Robi teringat akan sesuatu, tadi dia meminta identitas asli dari Madiya. Robi langsung memberikan itu pada Richard karena semuanya sudah dia urus. "Apa itu juga alasannya mengapa kamu ingin menikah resmi dengan dia dan bukan pura-pura. Padahal sebelumnya kamu hanya akan menikah pura-pura saja," terang Robi. "Mungkin ini juga alasannya," jawab Richard. Robi hanya mengangguk paham, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana kanan atasnya. "Kamu harus melihat ini." Richard melihatnya dengan sekilas. Lalu dia dengan berani mengambilnya. Dia tau akan sesuatu yang harus dia ambil. Melihat identitas asli dari Madiya yang sebenarnya. Hati Richard mengatakan kalau dia harus mengetahui sesuatu tentang istri yang akan dia sewa itu. Richard langsung mengambilnya dan dia membacanya dengan sekilas. "Aku ingin tau apa yang terjadi dengan Madiya. Aku yakin ada alasan dibalik semuanya," bisik Richard pada Robi. "Jika itu yang kamu mau, aku akan mencoba untuk mencari identitas aslinya." Robi akhirnya memutuskan untuk pergi dari hadapan Richard setelah pria itu mengatakan semuanya kepada dirinya. Tentu saja dia akan mencari bukti tenang identitas Madiya yang sebenarnya. Richard melihat kepergian dari Robi, dia hanya tersenyum sekilas sambil melihat kearah jam tangannya kembali. Kebetulan dia masih punya janji ber dengan seseorang sekarang. "Hah, aku sedang merasa kesal," gerutu Madiya secara tiba-tiba. Membuat Richard malah menaikan sebelah alisnya. Kenapa wanita itu sampai menggerutu segala. Apa sudah terjadi sesuatu dengan wanita itu? "Kesal kenapa?" tanya Richard. Madiya menoleh kearah Richard sekilas, pria yang membuat dia kesal sekarang ada dihadapannya. Padahal tadi Madiya hanya berbicara asal saja karena memikirkan pria itu. "Kesal karena kamu main pergi saja tadi" ketus Madiya. Richard tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Madiya barusan. Jadi itu yang membuat wanita itu sampai menggerutu. Padahal dia sudah melihatnya langsung tadi. "Kamu langsung saja pergi tadi ketika aku sedang memakai gaun." "Apa kamu butuh pendapatku tentang gaun yang kamu gunakan tadi?" tanya Richard. Madiya memutar bola matanya jengah, pria yang dihadapannya itu malah tidak peka dengan dirinya. Bahkan dia merasa kesal sekarang ini. "Apa kamu tidak suka ketika aku menggunakan itu?" tanya Madiya. "Sepertinya sudah sore, lebih baik kita pulang sekarang. Besok kita akan ke sini lagi," ajak Richard yang kini mencekal tangan Madiya. Madiya merasa sedikit kesal karena secara tidak langsung pria itu seolah menghindar dari pertanyaan dirinya. Apa benar Richard tidak suka dengan gaun tersebut? Lalu mengapa pria itu seolah memberikan itu padanya? "Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" tuduh Madiya. Richard menyadari kalau sekarang Madiya tengah curiga kepada dirinya. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Tidak mungkin kalau dia bersembunyi begitu saja. Kalau begitu dia harus mencari cara lain agar Madiya tidak banyak pertanyaan padanya. "Lebih baik kamu masuk mobil, aku tidak menyembunyikan apapun. Kita menikah hanya untuk status saja, jangan usik urusan pribadiku nanti," ujar Richard seolah memberikan sebuah peringatan kepada Madiya kalau wanita itu tidak boleh mencampuri urusan dirinya. Madiya menghela napasnya dan dia menyadari posisinya. Kemudian dia melihat Richard yang kini menyalakan mesin mobilnya. Melaju dengan kecepatan sedang dan Madiya hanya menatapnya. "Apa kamu akan mengundang teman dekatmu nanti?" tanya Richard menatap kearah Madiya dengan pandangan sedikit penasaran. Madiya menundukkan kepalanya, dia sudah tidak punya teman semenjak saudara tirinya itu memfitnah dirinya dan membuat teman dekatnya malah menjauh dari dirinya. "Aku sudah lupa alamat mereka." cengir Madiya yang sebenarnya dia sendiri juga sudah tidak berkomunikasi lagi dengan para teman-teman itu. Richard belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Madiya, sepertinya memang wanita itu tidak ingin mengundang atau melibatkan orang lain di sini. "Kamu bisa menghubunginya lewat sosial media, sekarang kan sudah canggih." Madiya memang tidak punya hubungan baik dengan teman-temannya. Semuanya karena saudara tirinya yang memang tidak menginginkan dirinya dan malah membuat dia jauh dari semua orang. Sungguh kehidupan yang memang sia-sia bagi kehidupan dirinya. "Sebenarnya aku sudah tidak berkomunikasi dengan mereka dan aku juga tidak mempunyai hubungan baik dengan mereka semuanya," jawab Madiya. Ekspresi wajah Richard seketika langsung berubah, sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan wanita itu sehingga teman-temannya menjauhi dirinya. "Kenapa bisa seperti itu?" "Yah bisa lah. Aku sendiri juga sudah jauh dengan mereka sekarang. Memangnya, kenapa kamu menanyakan itu? Lagian kita menikah hanya pura-pura saja. Kamu menyewa ku jadi istrimu dan itu sudah lebih baik bukan?" Madiya sedikit kesal karena secara tidak langsung Richard malah seperti mengulik informasi tentang dirinya. Apalagi ini sangat pribadi. Bukannya pria itu yang bilang sendiri kalau dia tidak suka kalau mencampuri urusan pribadi. "Tidak usah baper begitu, aku hanya bertanya. Apa itu artinya kamu tidak punya teman?" "Apa itu penting sekarang, bukannya kamu sendiri yang bilang tidak ingin mencampuri urusan pribadi masing-masing. Yaudah gak usah tahu segala," ketus Madiya dengan sedikit kesal. Richard melihat ekspresi wajah dari Madiya yang memang sangat marah. Sepertinya wanita itu saat ini sedang merajuk padanya. Bukan tanpa alasan dia menanyakan tentang hal ini pada Madiya, Richard masih penasaran dengan kehidupan wanita itu. Tetapi yang dikatakan oleh Madiya memang ada benarnya, sayang sekali dia bilang tadi jangan mencampuri urusan masing-masing. "Ini akan sedikit mengejutkan kamu, aku berubah pikiran untuk hanya menikah pura-pura saja," gumam Richard. Madiya menoleh kearah Richard karena dia sedikit terkejut sekarang. "Jadi artinya kita tidak jadi menikah?" "Bukan itu, aku tidak jadi menikah pura-pura dan aku ingin kita menikah secara resmi." Richard sudah memikirkan semuanya dari awal, dia juga sudah memperkirakan alasan yang tepat agar Madiya juga tidak menolak ajakan dari dirinya. Tentu saja ini akan sangat menguntungkan untuk wanita itu. "APA? KAMU BECANDA?" Madiya membulatkan matanya karena mendengar satu fakta ini yang membuat dia tentu saja terkejut ketika mendengarnya. "Aku serius. Bukan tanpa alasan aku melakukan itu. Ibuku sudah mulai curiga dengan pernikahan kita." "Kau gila? Jadi nanti pasti akan ada dokumen nikahnya? Apa tidak ribet nanti kalau berpisah?" gumam Madiya sedikit kesal karena Richard main seenaknya sendiri saja. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD