Madiya terus saja memikirkan perkataan Richard di dalam mobil barusan, bisa-bisanya pria itu malah membuat dia jadi kesal. Padahal dalam kesepakatan mereka, hanya menikah secara pura-pura saja. Walaupun dia disewa menjadi istrinya, tetap saja beda.
"Pria itu menyebalkan," gerutu Madiya.
Sampai mereka berdua sudah berada di sebuah apartemen milik Richard. Beruntung sekali Madiya ingat password milik Richard jadi dia bisa masuk duluan. Dia perlu mengistirahatkan otaknya sekarang.
"Tidak usah mengerut kaya gitu," ujar Richard.
"Terserah, aku mau istirahat!"
Madiya mengatakan itu dengan ketus, lalu dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Richard hanya tersenyum ketika melihat tingkah Madiya yang menurut dirinya sedikit menggemaskan.
Wanita itu rupanya bisa merajuk juga kepada dirinya seperti ini. Dia sama sekali tidak menyangka.
Sampai Richard merasakan getaran dalam ponselnya, dia langsung melihat siapa orang yang menghubunginya, sebelum akhirnya dia mengangkat telepon tersebut.
"Hallo Bos, sepertinya ada hal yang ingin saya bicarakan."
"Katakan saja."
"Tidak untuk sekarang bos, besok kita akan membahasnya di kantor," ujar Robi.
"Baiklah Robi, besok datang ke kantor pagi-pagi!" perintah Richard.
"Baik bos."
Richard langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia sudah mengira kalau bisa sana Robi sudah menemukan apa yang dia cari sekarang. Kalau memang benar seperti itu, maka dia akan sedikit merasa senang.
Akhirnya Richard memutuskan untuk berjalan ke kamarnya dan melepaskan baju yang digunakan oleh dirinya. Dia akan mengganti baju yang dia gunakan sekarang.
***
Pagi hari yang begitu sangat cerah, Madiya sudah bangun dari tidurnya dan tentu saja dia sudah membersihkan mukanya. Dia berjalan menuju kearah dapur dan dia memutuskan untuk membuat sarapan.
Baru juga dia akan membuka lemari pendingin dan sayuran, matanya malah melihat sebuah note tulisan dari Richard.
[Hari ini aku berangkat ke kantor lagi. Kamu tidak perlu repot-repot membuatkan sarapan].
Madiya membacanya dengan sekilas, dia tersenyum karena memang masih malas bertemu dengan Richard. Syukurlah dia bisa membuat sarapan untuk dirinya sendiri saja. Jadi tidak usah ribet dengan Richard yang selalu minta membuatkan dirinya aneh-aneh.
Madiya membuka lemari pendingin dan menemukan s**u dan juga sereal. Dia langsung mengambilnya dan menaruhnya ke dalam mangkuk.
"Apa pria itu tidak pernah masak? Masa sayuran saja tidak ada, hanya ada telur saja," gerutu Madiya setelah dia memperlihatkan semua yang ada di dalamnya.
Madiya sendiri akhirnya memutuskan untuk memakan sereal itu. Hingga terdengar suara bell apartemen. Siapa tamu yang akan datang ke sini di saat Richard tidak ada?
"Aku merasa ragu untuk membukanya," gumam Madiya.
Madiya berjalan menuju kearah pintu dan dia melihat lorong kecil itu, siapa orang yang datang. Ketika melihat siapa orang itu dia langsung panik sekarang.
"Kenapa ibunya Richard datang ke sini?" panik Madiya ketika mengetahui kalau orang yang ada di depan itu adalah ibunya Richard. Bagaimana kalau dia ketahuan tinggal di sini bersama dengan Richard?
"Gawat, apa yang harus aku lakukan," batin Madiya sambil mondar-mandir.
Madiya berpikir antara membuka pintu tersebut atas jangan, ini sedikit membahayakan untuk dirinya juga. Bagaimana kalau Ibunya Richard semakin curiga.
Tidak ada pilihan lain sekarang, Madiya memejamkan matanya dan akhirnya dia memutuskan untuk membuka pintu tersebut.
Setelah dia membuka pintu. Madiya tersenyum dengan ramah dan dia menyambut Ana.
"Selamat datang Tante Ana."
Madiya dengan ramah menyambut wanita yang akan menjadi mertuanya itu. Tapi, Ana mengabaikan ucapan dari Madiya dan wanita itu langsung masuk dengan begitu saja.
"Kenapa kamu yang muncul? Di mana Richard?" tanya Ana sambil melihat kesekeliling ruangan ini mencari keberadaan anaknya.
Madiya jadi kebingungan untuk menjawab semuanya, dia menggigit bibir bawahnya ketika Ana kembali menatap kearah Madiya dengan tajam.
"JAWAB!"
"Richard saat ini sedang ada di kantor."
"Kamu pasti berbohong, bahkan ini masih pagi, tidak mungkin kalau dia sudah pergi ke kantor pada saat pagi seperti ini," maki Ana yang memang sangat tahu kebiasaan anaknya.
"Saya juga tidak tahu, dia bilang kalau ada utusan mendadak tadi," jawab Madiya dengan sopan.
Ana menatap sinis kearah Richard, entah benar atau salah perkataannya itu.
"Terus ngapain kamu di apartemen milik anak saya?" tanya Ana.
Madiya terlihat tidak bisa menjawab sekarang. apalagi dia melihat tatapan sinis dari Dina yang membuat dia malah merasa marah. Apa yang harus dia lakukan? Bukannya wajar jika seorang calon istri itu ada di apartemen milik kekasihnya.
"Aku..."
Bingung adalah hal yang dirasakan oleh Madiya saat ini. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya kalau dia tinggal bersama dengan Richard. Terlebih ibunya Richard memang terlihat tidak menyukai dirinya. Dia akan semakin direndahkan oleh mertuanya itu saat ini.
Kenapa juga Richard pergi di saat ibunya mau datang ke sini. Sekarang dia yang bingung sendiri harus memberikan alasan apa pada mertuanya itu.
"Kenapa gugup? Jangan bilang kamu sengaja menggoda anak saya yah dengan tinggal di sini. Sehingga dia mau menikah dengan kamu? Asal kamu tau yah, Richard itu sudah saya jodohkan dengan seseorang yang lebih modis daripada kamu. Kalau mau sih gak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu!" hina Ana kepada Madiya dengan sinis. Agar wanita itu lebih tahu diri dengan posisinya. Lebih syukur kalau Madiya jauh dari anaknya. Ini akan membuat dia senang.
Madiya mengepalkan tangannya, kalau bukan karena Richard. Dia tidak mau berurusan dengan wanita seperti itu. Madiya jadi penasaran dengan wanita yang katanya cantik itu.
"Dia cantik seperti apa?"
Madiya dengan bodohnya malah bertanya seperti itu. Sebagai seorang wanita dia merasa insecure, apalagi Madiya belum melihat wanita yang disukai oleh ibunya Richard.
"Oh kamu penasaran juga." Ana langsung mengeluarkan sebuah foto dan memberikan itu pada Madiya.
Madiya membulatkan matanya ketika dia yang memang kenal dengan seseorang yang ada di foto itu. Jadi ini wanita yang akan dijodohkan dengan Richard.
"Dia orang yang akan Tante jodohkan dengan Richard?" tanya Madiya sedikit terkejut.
Ana melihat ekspresi wajah dari Madiya barusan, dia berpikir kalau Madiya sekarang pasti merasa tidak ada bandingannya dengan wanita seperti itu.
"Kenapa? Dia cantik bukan? Kamu tidak akan bisa menandingi dia karena dia berasal dari keluarga terpandang dan bukan seperti kamu dari keluarga yang tidak jelas asal usulnya!" ketus Ana yang menghina Madiya, lalu dia berjalan menuju kearah pintu karena hendak akan pergi.
"Jika kamu merasa kalah, sebaiknya kamu mundur dan jangan menikah dengan anak saya."
Madiya melihat kearah Ana yang hendak akan pergi. Dia meremas foto yang diberikan oleh Ana padanya. Dia jadi berubah pikiran untuk tetap menikah dengan Richard dan tidak akan mundur.
Tiba-tiba Madiya mempunyai dendam dengan orang yang ada di foto itu. Karena wanita itu yang sudah membuat dia keluar dari rumahnya bersama dengan ibunya.
"Tante salah jika mengancam ku seperti itu. Aku tidak akan mundur dengan begitu saja. Kita lihat saja nanti," gumam Madiya dengan senyuman penuh arti.
Ana merasa kesal karena wanita itu bisa-bisanya malah menatap dirinya begitu. Lihat saja nanti yang akan dia lakukan. Rupanya wanita bernama Madiya itu tidak mudah untuk dia gertak sekarang.
"Kurang ajar. Awas saja yah. Aku pasti akan menemukan aibmu nanti dan mencaritahu siapa keluarga mu yang sebenarnya untuk mempermalukan kamu."
"Silahkan Tante. Aku tidak takut sama sekali dengan ancaman Tante," ujar Madiya dengan penuh keberanian.
Ana mengepalkan tangannya, wanita seperti Madiya rupanya sulit untuk digertak seperti itu, malah sekarang semakin berani melawan dirinya. Dia langsung pergi begitu saja karena kesal.
Pada saat yang bersamaan, Richard tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua. Dia sedikit terkejut karena ibunya tiba-tiba ada di sini. Bahkan Madiya juga tidak menghubunginya dan mengatakan kalau ibunya datang kesini.
"Mamah bilang apa padamu?" tanya Richard sambil berbisik pada Madiya.
"Kamu dari mana saja," kesal Madiya karena harus meladeni ibunya Richard tadi ketika pria itu malah tidak ada.
"Bukannya aku sudah mengirimkan kamu note kalau aku akan pergi ke kantor hari ini. Aku langsung datang ke sini ketika resepsionis depan bilang kalau mamah datang ke apartemen. Aku panik karena takut mamah malah akan melakukan sesuatu padamu."
Richard menjelaskan semuanya padanya. Bahkan Richard membatalkan meeting hanya karena dia takut nanti ibu malah berkata yang aneh-aneh pada Madiya.
"Dia hanya mengancam ku saja. Dia juga memberikan foto orang yang dijodohkan denganmu."
Richard terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Madiya barusan. "kamu sudah tau orangnya?"
Madiya langsung melirik kearah Richard. Kalau Richard bertanya seperti itu artinya dia sudah tau semuanya. Sejak kapan dia tahu juga? Atau memang dari awal Richard sudah tahu dengan hal ini, makanya pria itu mengajak dirinya menikah.
"Kalau iya kenapa? Ekspresi mu mengatakan kalau kamu tau semuanya Richard!" ketus Madiya dengan sinis.
"Maaf aku baru tau juga. Kamu tidak pernah menceritakan semua tentang keluargamu itu. Ketika melihat wajah ibumu dalam foto itu, aku langsung tau siapa keluargamu."
Deg
Madiya menoleh kearah Richard, jadi pria itu tahu tentang keluarganya setelah melihat foto ibunya. Apa itu juga alasan pria itu mengajak dia menikah resmi bukan hanya pura-pura saja. Memang ini sedikit konyol untuk dirinya. Bodoh karena dia baru menyadarinya sekarang.
"Lalu apa hubungannya dengan ibumu yang menjodohkan mu dengan saudara tiriku hah. Apa ini juga rencana kamu menjadikan aku sebagai istri sewaanmu?"
Madiya menatap tajam kearah Richard. Menunggu pria itu yang akan menjawab semua pertanyaannya.
"Aku tau kalau dia wanita licik, aku tidak mau dijodohkan dengannya. Aku juga tidak tau kalau kamu adalah saudara tirinya. Dan aku juga tidak tau alasan ibuku menjodohkan aku dengan saudara tirimu itu. Aku hanya mencari wanita sewaan agar bisa lepas dari perjodohan itu," jelas Richard menceritakan semuanya kepada Madiya agar wanita itu tidak salah paham.
Jadi foto wanita yang diberikan oleh ibunya Richard adalah foto saudara tirinya. Ini memang sedikit konyol karena dia baru mengetahui fakta ini.
Madiya menatap kearah Richard dengan senyuman penuh arti. Ini akan sangat menguntungkan untuk mereka berdua.
"Bagaimana kalau kita berdua kerjasama?" tawar Madiya dengan senyuman penuh arti.
BERSAMBUNG