Bab 8 Hal Yang Disembunyikan Richard

1191 Words
Richard menoleh kearah Madiya ketika wanita itu mengatakan untuk mengajak dirinya bekerjasama. Bukannya memang mereka sudah bekerja saja dari awal. "Kerjasama apa? Aku sudah menyewa dirimu Madiya. Jadi kamu hanya menuruti keinginanku saja. Aku tidak berkewajiban untuk menuruti keinginan kamu. Kecuali kalau kamu membayar ku." Madiya mencebikan bibirnya karena dia kesal dengan ucapan Richard barusan. Padahal dia hanya ingin Richard membantunya untuk balas dendam pada saudara tirinya yang sudah membuat dia diusir dari rumah. "Kamu terlalu perhitungan Richard, apa salahnya juga membantuku. Lagian kita akan saling menguntungkan satu sama lain. Walaupun aku hanya wanita yang kamu sewa saja," dengus Madiya. Richard tersenyum dengan seringai nakalnya. Apalagi melihat ekspresi wajah Madiya yang menurutnya sangat menggemaskan ketika sedang merajuk seperti ini. "Tentu saja kamu bisa membayar ku dengan tubuh itu. Dengan begitu aku bisa membantumu," ujar Richard dengan santai. Madiya membulatkan matanya mendengar permintaan dari Richard. Dia seperti w************n saja, sama aja itu harus membayarnya dengan tubuhnya. "Kamu memang berengsek Richard, aku tidak mau melakukan hal tersebut. Aku bukan w************n," tolak Madiya. Richard malah ingin tertawa mendengar perkataan dari Madiya barusan. Dia memojokkan Madiya di dekat tembok sambil menatap wanita itu dari atas. "Apa bedanya dengan kamu yang menerima tawaranku untuk menjadi wanita sewaanku? Bukannya itu sama saja?" ujar Richard membuat Madiya sedikit merasa kesal atas permintaannya itu. "Terserah kalau gak mau membantuku juga," ketus Madiya. Akhirnya Madiya memutuskan untuk pergi karena kesal dengan Richard. Dia memang sadar kalau dia wanita rendahan. Kenapa pula dia menerima tawaran dari Richard. Kalau bukan karena dia tidak punya uang untuk kehidupannya pasti dia tidak akan melakukan ini semuanya. Dia hanya terpaksa harus melakukan itu. Richard menyadari kesalahannya yang sudah mengatakan itu pada Madiya, wanita itu pasti tersinggung karena ucapannya. Akhirnya Richard mengejar Madiya. "Okeh aku mengaku salah, sorry karena tadi bilang seperti itu." Richard sudah menurunkan egonya karena tidak mau bertengkar seperti ini. "Kamu tidak usah meminta maaf. Apa yang kamu katakan memang benar." Madiya menyatakan itu dan dia berjalan menuju ke kamarnya. Richard malah bingung sekarang karena melihat tingkah Madiya. Kenapa juga wanita itu sampai marah. Richard jadi merasa tidak enak sekarang. *** Sampai pada malam hari, Richard terus memikirkan Madiya yang masih marah padanya. Bagaimana caranya agar wanita itu tidak lagi marah? Terlebih wanita itu sekarang belum juga keluar dari kamarnya. Rasa khawatir Richard akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju kearah wanita itu. Siapa tahu mereka bisa menemukan jalan yang terbaik sekarang. "Madiya," panggil Richard sambil mengetuk pintu kamar wanita itu. Tidak ada suara dari wanita itu, tetapi Richard tidak ingin menyerah begitu saja. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali mengeruk kamar wanita itu. "Madiya." Tidak ada jawaban dari wanita itu dan membuat Richard khawatir. Dia takut terjadi sesuatu dengan wanita itu sekarang. Apa yang harus dia lakukan? Lebih baik Richard yang akan melakukan semuanya sendiri sekarang.. Dia akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Madiya. Takut wanita itu kabur dari sini atau terjadi sesuatu. Bruk Sampai Richard berhasil membuka pintu kamar wanita itu, dia langsung masuk ke dalam mencari kebenaran Madiya. "Astaga Madiya." Betapa terkejutnya Richard ketika melihat Madiya yang tergeletak di lantai. Apa yang sudah terjadi dengan wanita itu?. Richard mengendong Madiya ke dalam kasur empuknya lalu dia menghubungi dokter pribadi miliknya untuk mengecek keadaan Madiya sekarang. Richard melihat kearah raut muka Madiya yang terlihat pucat. Dia langsung mengambil ponsel miliknya dan memutuskan untuk menghubungi dokter pribadinya. "Hallo Haris." "Kenapa Richard? Tumben sekali menghubungiku." "Aku butuh bantuanmu, datang ke apartemenku sekarang. Calon istriku pingsan di dalam kamarnya. Mukanya sangat pucat, aku khawatir terjadi sesuatu dengan dirinya," terang Richard menceritakan semuanya. "Loh, kok gak bilang kalau sudah punya calon istri. Aku kira kamu belum bisa move on dari..." Belum sempat Haris mengatakan semuanya, ucapannya itu sudah lebih dulu dipotong oleh Richard karena dia tidak mau Haris akan membahasnya lagi. "Jangan banyak bicara, cepat datang ke sini!" Richard langsung mematikan sambungan teleponnya. Apa semalam wanita itu tidak makan? Tiba-tiba Richard sadar kalau dia memang tidak menyiapkan bahan makanan. Dia selalu makan diluar jarang makan di rumah dan pasti Madiya kelaparan tidak ada makanan. Mengingat wanita itu juga tidak punya uang sama sekali. Tapi kenapa wanita itu tidak meminta saja padanya untuk dibelikan makan. "Sial! Aku lupa dia marah hanya karena aku menyinggung tentang harga diri. Pasti dia juga tidak minta dibelikan makanan padaku hanya karena ini." Richard terlihat frustasi sendiri sampai akhirnya dia memutuskan untuk bekerja menuju ke arah pintu depan. Dia membukakan pintu dengan penuh semangat sampai pada akhirnya ada Haris. "Di mana dia bro?" tanya Haris karena dia penasaran juga dengan wanita yang dikatakan sebagai calon istri dari temannya itu. Apa Richard sudah bisa move on sekarang? Haris berharap juga seperti itu agar nanti kelak istrinya Richard tidak merasa terbebani. "Dia ada di dalam, Ayo ikut," jawab Richard. Lalu Haris mengikuti Richard untuk masuk ke dalam sebuah kamar. Di sana ada seorang wanita berbaring lemah tidak berdaya. Haris melihat wanita itu dengan sedikit terkejut karena wajahnya hampir mirip dengan mantan kekasih Richard dulu. "Dia sangat mirip dengan Sabira." Haris menyebut nama itu karena memang dia tahu sesuatu. "Periksa dia, nanti aku jelaskan." Haris hanya mengangguk tanpa bertanya lebih pada Richard saat ini. Dia langsung memeriksanya pakai Stetoskop yang digunakan untuk mendengarkan suara yang terdapat di dalam tubuh. Seperti suara paru-paru, detak jantung, dan untuk memeriksa gangguan pada usus dan lambung. Richard memandang Madiya dengan wajah khawatir. "Bagaimana keadaannya?" "Dia mag saja, jangan sampe dia telat makan, lambungnya tidak baik." Richard hanya mengangguk saja dan dia paham sekarang. Dia tau letak kesalahannya sekarang. "Aku akan memberikan resep obatnya nanti. Dia harus makan dengan teratur dan jangan sampai telat lagi. Aku akan memberikan vitamin juga agar dia jadi napsu makan," jelas Haris. "Terimakasih banyak." "Kamu belum menceritakan tentang dia padaku." Haris seorang dokter yang kadang kepo dengan temannya. "Dia saudara Sabira." Richard mengatakan itu kepada Haris setelah dia melihat foto tersebut dan dia mengetahui semuanya. Satu hal yang baru dia ketahui setelah Robi memeriksakan identitas asli dari Madiya. "What? Sabira punya saudara? Aku kita hanya hanya tinggal bersama dengan ibunya saja. Pantas saja wajahnya mirip." "Aku pun baru tau setelah melihat foto ibunya. Sabira tinggal bersama dengan ibunya setelah bercerai. Sedangkan Madiya tinggal bersama dengan ayahnya. Aku pun baru tau, hubungan Madiya dengan ayahnya tidak baik setelah ayahnya menikah lagi dan dia memilih tinggal mandiri di kota besar ini." Richard menceritakan semuanya pada Haris tentang sesuatu sesuatu yang dia ketahui. Bagaimanapun Haris adalah temannya dulu waktu kuliah. Haris juga tau kalau dia mencintai Sabira hingga wanita itu sudah tidak ada sekarang. "Kamu yang sabar yah bro." Haris menepuk pundak Richard untuk membuat pria itu kuat. Apalagi selama ini memang Haris tau beban yang ditanggung oleh Richard sekarang. "Thanks yah." Richard hanya tersenyum melihat Haris yang hendak akan pergi. Lalu sebelum itu, Haris berkata apa Richard. "Sebaiknya kamu pertemukan dia dengan ibunya." Richard terdiam ketika mendengar ucapan dari Haris barusan. Apa dia sudah siapa jika harus bertemu dengan ibunya Madiya? Terlebih wanita itu membenci dirinya. "Maaf Madiya, aku belum bisa mempertemukan kamu dengan ibumu, walaupun aku tahu kamu juga pasti mencari kebenaran dia kan?" gumam Richard pelan. Belum saatnya dia untuk memberitahu tentang hal ini. Masih banyak sekali rahasia yang memang harus dia simpan sekarang. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD