Suara gaduh serta teriakan masih terdengar jelas di ruang Rafa. Cakra dan Mira saja sampai saling beradu pandang, merasa heran dengan sikap Rafa yang hampir tidak pernah seperti itu. Jika marah, ya marah saja dengan meninggikan intonasi suaranya tapi tidak sebrutal ini. Cakra yang semula berniat ingin menemui bosnya jadi urungkan niatnya, dan melangkah mundur, akan tetapi ia harus tetap menemui Rafa karena ada kabar baik yang ingin ia sampaikan, dan tidak bisa ditunda karena harus segera konfirmasi ulang. “Pak Cakra kok malah diam aja, ayo dong masuk ... dicek Pak Rafa-nya. Saya mau minta tanda tangan nih, tapi takut masuk ke ruangannya,” pinta Mira memelas sembari mengguncang lengan Cakra. Sejenak pria itu menoleh. “Sabar Mir, saya juga nunggu redaan dulu keadaannya. Kalau saya tiba-ti