Jemari Lintang bergerak semakin cepat, menekan tombol demi tombol dengan ritme yang memburu seiring dengan degup jantungnya yang kian menggila. Adegan di layar laptopnya kini mencapai puncaknya—sebuah klimaks emosional di mana sang tokoh wanita akhirnya menyerah dan merasakan kuluman bibir dari tokoh pria yang begitu dalam, basah, dan menuntut. Namun, ada satu perbedaan besar yang sengaja Lintang tuangkan di sana. Tokoh wanita di dalam ceritanya tidak seperti dirinya di dunia nyata yang pengecut dan memilih jalur denial. Tokoh fiksi itu menerima sentuhan tersebut dengan berani, mengakui bahwa ia mendambakannya. KLIK! Lintang menekan tombol save dengan penekanan yang menggebu, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari mengembuskan napas lega yang amat panjang. "Akhirnyaaa

