79

1398 Words

Natasha benar-benar tidak sanggup lagi menelan makanan yang ada di piringnya. Setiap kunyahan terasa hambar, tertelan bersama rasa malu yang menyumbat tenggorokannya. Menyaksikan bagaimana Mama Naomi sudah heboh merencanakan telepon ke vendor pernikahan besok pagi, ditambah tatapan mata abu-abu Dewa yang sama sekali tidak beralih dari Lintang, membuat Natasha sadar eksistensinya di ruangan ini sudah seperti hantu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Natasha dengan cekatan meletakkan sendok dan garpunya di atas piring marmer. Ia memaksakan sebuah senyuman, meski sudut bibirnya berkedut menahan pias. "Om, Tante... maaf banget, sepertinya Natasha harus pamit duluan," ujar Natasha, suaranya mendayu pelan, kehilangan nada centil dan manja yang ia pamerkan sejak sore tadi. Ia segera meraih tas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD