Sesampainya di rumah, keheningan ruang tengah langsung pecah oleh kehebohan Linggar. Bocah gembul itu dengan cekatan membongkar kantong belanjaan besar oleh-oleh dari Jakarta yang baru saja diletakkan Lintang di atas karpet. Satu per satu isi kantong dikeluarkan dengan mata berbinar-binar. Ada gantungan kunci, kaos berlogo Jakarta, hingga beberapa camilan kemasan. Namun, begitu jemari gembulnya menarik keluar sebuah kotak roti dengan merek yang sangat familier di telinganya, gerakan Linggar langsung terhenti. Dahi bakpaonya mengkerut dalam, menatap kotak itu dengan ekspresi protes yang teramat kentara. "Lho, Mbak Lintang!" protes Linggar dengan suara cemprengnya yang khas, mengangkat kotak roti itu tinggi-tinggi ke hadapan kakaknya yang baru saja meluruskan kaki di sofa. "Iki jajan opo t

