25

1558 Words

Baru saja lima menit meninggalkan pintu mobil, Linggar sudah mulai menunjukkan tanda-tanda "mogok kerja". Langkah kakinya yang pendek dan gembul itu mulai melambat, diseret paksa di atas aspal. Napasnya terdengar satu-satu, pipinya yang chubby mulai memerah karena hawa pagi Surabaya yang mulai menghangat. "Mbak... capek..." rintih Linggar sembari berhenti tepat di samping tiang listrik, tangannya bertumpu pada lutut. Lintang yang sedang asyik membetulkan letak kuncir rambutnya langsung menoleh. Ia berkacak pinggang, menatap adiknya dengan ekspresi antara ingin tertawa dan gemas yang tidak tertolong. "Kan, kan! Muesti wes (Sudah pasti begini). Wegah aku (Nggak mau aku)!" omel Lintang dengan nada gregetan. "Tadi di rumah katanya semangat Spiderman, sekarang baru jalan dari parkiran aja su

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD