Bab 10. Calon Mami Michelle

1146 Words
“Jenderal itu baru meninggal beberapa minggu lalu dan dia sekarang tidak memiliki pekerjaan, hm ... tapi dia biasa bekerja sebagai petugas kebersihan juga. Orangnya apik, hm ...” “Ada apa, Ma?” tanya Michael yang heran karena mamanya menggantungkan ucapannya. “Nggak ada apa-apa.” Huda sebenarnya ingin mengatakan bahwa orang yang akan merawat suaminya itu masih muda dan cantik, apalagi anak laki-lakinya yang sopan dan berwajah tampan. Tapi dia tidak mau mengatakannya, khawatir Michael berbuat sesuka hati, dan menunda menikah. Dia tahu perangai buruk putra sulungnya ini, meskipun dia tidak pernah lagi mendengar isu-isu miring. “Dia punya anak kata Mama.” “Ya, laki-laki. Lucu sekali, Michael. Ah, Mama ingin sekali kamu segera menikah dan memiliki anak seperti Gabriel.” “Gabriel?” “Ya, nama anak itu.” “Oh.” Michael menoleh kembali ke tubuh papanya yang semakin renta dan dia yang tidak tega. “Aku akan mengurus tambang papa yang bermasalah di Potianak, Ma,” ujarnya kemudian. Huda mengangguk puas, dan dia lega saat melepas kepergian Michael dari rumahnya. *** Entahlah, kali ini Michael berpikir bahwa memang sudah saatnya menikah. Dia sudah mampu menahan diri dan tidak lagi “berulah”. Ketika hasrat menggebu, memuaskan diri sendiri sudah cukup baginya, dan dia pikir itu lebih baik karena tidak melibatkan pihak lain. Sepulang dari rumah orang tuanya, Michael menghubungi Freya dan dia yang ingin bertemu. “Aku masih bekerja, Michael.” “Oh, maaf kalo begitu, aku yang telah mengganggumu.” “Katakan saja ... ada apa.” Michael merasa tertantang, terkagum dengan sikap Freya yang menurutnya tidak manja. “Aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku.” “Oh.” “Aku ingin mempertemukan kamu dengan Michelle, anakku.” “Oh, Michael. Ini manis sekali.” “Bagaimana jika aku yang menjemput kamu malam ini?” “Aku harus bersiap, Michael. Maksudku ... aku nggak mau bertemu Michelle dan keadaanku yang kurang rapi. Kamu tahu maksudku.” “Ya, aku mengerti. Tapi besok malam aku sudah berada di Sangatta.” “Oh, baiklah.” Terdengar ada kepanikan di ujung sana dan Michael yang tersenyum membayangkan Freya yang panik, dan dia tahu Freya yang juga tidak sabar ingin bertemu dengan Michelle juga dengan dirinya. “Nggak ada apa-apa, Freya. Bisa lain kali ... lagi pula, aku nggak sepenuhnya berada di Sangatta selama tiga bulan penuh itu. Aku akan sesekali pulang dalam waktu tertentu.” “Nggak, Michael. Aku akan minta izin dengan atasanku. Aku pulang sekarang hm ... maaf, apa kamu bisa menjemput aku dari hotel sekarang. Aku akan bersiap-siap.” Michael mengangkat kedua bahunya, menjawab. “Oke," lalu mengakhiri panggilannya, dan menghubungi sopirnya. *** Bukannya terkagum akan sosok Freya yang sangat rapi dan cantik malam itu, Michelle justru mengernyitkan dahinya. “Michelle, ini Freya, calon mami kamu,” ujar Michael tanpa pikir panjang, padahal Michelle tampak sedang bingung dan terheran-heran. Mata Michelle awas saat mengamati sekujur tubuh calon maminya, dan dia menyalami tangan Freya tanpa ekspresi wajah yang berarti. “Hai, Michelle,” sapa Freya, dan dia yang mengerti sikap acuh tak acuh Michelle kepadanya, karena Michelle yang belum sepenuhnya mengenalinya. Michelle membalas sapaan Freya dengan anggukan pelan, dan dia tidak begitu peduli, memilih meneruskan mengerjakan tugas dari sekolah. Michael menoleh ke arah Freya dan memberi isyarat bahwa Freya yang harus lebih dulu mendekati Michelle. Freya mengangguk, dia yakin bisa mendekati Michelle. “Hai, lagi belajar mata pelajaran apa?” tegur Freya akhirnya. Dia duduk di kursi kecil di samping Michelle, dan saat itu Michael sudah pergi ke luar dari kamar Michelle. “Bahasa Indonesia, Tante.” “Oh, pasti mudah sekali.” “Nggak juga, aku sering membuat kesalahan dalam mata pelajaran ini.” “Oh ya? Jadi ini bukan pelajaran yang kamu suka atau bagaimana?” “Aku suka pelajaran ini, tapi aku sering mengalami kesusahan.” “Kamu nggak punya guru privat?” Michelle menggeleng. “Aku nggak mau, aku mau belajar sendiri saja.” Freya menghela napas panjang mendengar ucapan-ucapan dari mulut Michelle yang bernada kurang mengenakkan. Dia membenarkan kata-kata Michael mengenai anaknya yang sulit didekat. Namun, Freya tidak menyerah, dia terus berusaha mendekati Michelle. “Jadi Tante adalah calon mamiku?” tanya Michelle tiba-tiba. Freya cukup terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Michelle barusan. “Doakan saja.” Michelle berhenti mengerjakan tugas sekolah, memutar kursi belajarnya menghadap Freya, dan mengamatinya beberapa saat, lalu beralih ke tugas dari sekolahnya. Freya tersenyum hangat melihat sikap Michelle, dan dia memakluminya. Sudah mengetahui jati diri Michelle, anak hasil hubungan gelap dan bukan dari pernikahan yang sah, pasti sulit bagi Michelle dalam menjalani hidupnya, dan wajar sikap Michelle yang ketus dan mawas, terutama terhadap orang yang baru dia kenal. Freya mengamati apa yang sedang Michelle tulis, dan dia dengan sabar memberitahu. Michelle mulai tersenyum dan dia sedikit demi sedikit menunjukkan bahwa dia menyukai Freya. “Tante menginap di sini?” tanya Michelle setelah tugas sekolahnya sudah selesai. Freya menggeleng. “Nggak, Sayang. Tante harus pulang.” “Rumah Tante jauh?” Freya berpikir sejenak, “Dibilang jauh nggak juga, di bilang nggak juga.” Michelle tertawa mendengar jawaban Freya. “Hm ... Tante bekerja di hotel, dan Tante tinggal di hotel.” “Wow, pasti hotel besar?” Freya mengangguk. “Ya.” “Menginap saja di sini,” ajak Michelle lagi, dan dia yang tidak ketus lagi. Freya sebenarnya ingin menjawab dia akan menginap dan tinggal di rumah itu setelah dia menikah dengan papi Michelle. Tapi terlalu dini untuk diucapkan, karena dia yang belum tentu menikah dengan Michael. “Aku akan bilangin ke papi, Tante tidur di kamarku saja,” ajak Michelle lagi dengan senyum semangat. Freya terkekeh, melihat sepintas kamar luas Michelle yang dipenuhi pernak pernik lucu, dan dia yang langsung merasa kurang nyaman. “Michelle,” desah Freya sambil duduk bersimpuh di depan Michelle, seolah ingin memberitahu sesuatu hal. “Tante dan papimu belum menikah, kami berdua masih penjajakan.” “Penjajakan?” Michelle tidak mengerti kata yang satu ini. Freya berpikir keras, ingin menjelaskan makna penjajakan ke anak perempuan sembilan tahun. “Baru saling mengenal, ya ... seperti kita berdua. Tadi Michelle takut-takut sama Tante, tapi setelahnya ... Michelle kasih senyum sama Tante.” Michelle mendengus. “Jadi awalnya Tante takut-takut juga sama papi?” Freya mendadak tertawa lepas, dan Michelle yang terkesima. “Agak berbeda. Hm ... saling mengenal dulu, kalo cocok dan nggak ada masalah, dan kamu yang suka Tante, mungkin Tante akan menikah dengan papi Michelle, dan jadi mami Michelle.” Michelle mengerutkan bibirnya sambil mengamati wajah Freya dengan seksama. Dia mengakui dalam hati bahwa Freya sangat cantik dan baik. “Aku suka Tante Freya,” desahnya, dan dia tersenyum lebar. “Oh.” Freya terenyuh, lalu memeluk erat Michelle. Tiba-tiba Michael berdiri di pintu kamar Michelle, tersenyum melihat Michelle dan Freya berpelukan. “Papi?” delik Michelle, lalu tersenyum mengangguk. "Makan malam sudah siap," ujar Michael dan dia tersenyum puas. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD