"Di mana Rayyan? Kenapa dia belum sampai juga?" Sarah masih berjalan mondar-mandir saat anak yang sudah lama ditunggunya belum juga tiba.
Ia merasa gelisah karena putranya tak kunjung datang. Berkali-kali dia mengintip dari balik jendela, berharap melihat sosok Rayyan.
"Kak Rayyan pasti datang kok, Mam," ucap Alan.
"Dari mana kamu tahu?" sahut Sarah dengan nada dingin.
"Ya ... hanya perasaanku saja, Mam. Tapi biasanya aku nggak pernah salah," jawab Alan.
"Halah, kamu itu tahu apa, Alan? Diam saja! Anak haram tak memiliki hak untuk bicara, bernapas pun kamu tak berhak!" hardiknya.
Ya, Alan adalah adik Rayyan, anak hasil dari perselingkuhan sang suami saat masih hidup.
Awalnya, Sarah menolak keras saat suaminya mengajak Alan tinggal satu atap dengannya. Namun, karena penolakan itu, Sarah justru terancam akan diceraikan. Akhirnya, ia memilih bertahan, asalkan status Rayyan sebagai pewaris utama tetap aman.
Sarah tidak habis pikir, bagaimana bisa suaminya tiba-tiba saja mengakui perselingkuhannya. Padahal, Surya Permana—almarhum suaminya—adalah orang yang amat sayang pada keluarga.
Mendengar kata-kata kasar dari Sarah, Alan sudah tidak bisa berkata-kata. Ucapan menusuk yang Sarah lontarkan begitu tepat mengenai hatinya. Sakit hati? Tentu saja. Tapi Alan tak bisa melakukan apa pun selain bertahan, setidaknya sampai studinya selesai.
Tepat seperti yang dikatakan Alan sebelumnya, tak lama kemudian suara mobil Rayyan terdengar.
"Rayyan!" Sarah yang sejak tadi menunggu langsung berlari ke pintu depan.
Melihat betapa antusiasnya sang ibu mertua menyambut suaminya, terasa sangat menyesakkan d**a Evelyn. Saat Sarah menyapa Rayyan, sedikit pun wanita itu tak menoleh ke arahnya.
"Mami kaget sekali waktu kamu bilang mau datang, Rayyan," ucap Sarah.
"Maaf, Mam. Hari ini Rayyan membawa sesuatu yang spesial, jadi Rayyan buru-buru ingin kasih kabar ini ke Mami," jawab Rayyan seraya melirik ke arah Evelyn.
"Apanya yang spesial? Kalau Evelyn hamil, itu baru spesial," sahut Sarah cepat.
Evelyn tak bisa dan tak ingin berkata apa-apa. Dia sudah terbiasa mendengar ucapan menusuk dari keluarga suaminya, terutama dari sang ibu mertua. Bagi mereka, Evelyn mungkin hanyalah wanita matre yang beruntung karena bertemu dengan Rayyan. Bahkan, saat mereka menikah pun, tidak ada satu pun keluarga yang hadir, kecuali ... Alan.
"Dan apa yang Mami inginkan sekarang sudah Evelyn berikan, Mam," ucap Rayyan sambil menarik tangan ibunya.
"Maksud kamu apa, Rayyan?" tanyanya.
"Iya, Mam. Evelyn hamil."
"Kamu serius, Rayyan?" tanya Sarah dengan rasa tak percaya. "Baru saja Mami berpikir untuk mencarikan istri lain untuk kamu kalau Evelyn tidak kunjung hamil juga."
"Mami ...."
"Rayyan, Mami tidak sedang bercanda. Jika memang Evelyn mandul, Mami akan minta kamu untuk ceraikan saja istrimu itu. Jangan kamu biarkan nanti keturunan si anak haram itu yang melanjutkan bisnis kita!" Sarah berkata dengan melemparkan tatapan sinis ke arah Alan yang sesungguhnya masih berada di dalam rumah.
Rayyan hanya bisa menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering tiba-tiba. Dia paham betul kekhawatiran yang dirasakan oleh ibunya.
"Mam, stop panggil Alan anak haram. Bagaimanapun juga dia anak Papi, Mam!" protes Hans.
"Dia memang anak papimu, tapi bukan anak Mami. Dia lahir dari seorang wanita simpanan! Ingat itu baik-baik, Ray!" Sarah merasa kesal, jika ingat kembali bagaimana suaminya mengkhianati pernikahan mereka. Ingin sekali rasanya dia memuntahkan kekesalannya pada Alan.
Sarah pun dengan cepat menarik tangan Rayyan untuk lebih dekat dengannya. "Jika Evelyn hamil, terus laporan medis jika Evelyn mandul itu apa, Ray?"
Wajah Rayyan mulai gusar, ia tidak ingin di tengah kebahagiannya, sang ibu justru menanyakan hal-hal yang membuat istrinya merasa tertekan.
"Oma di mana, Mam?" Rayyan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oma sudah menunggu kamu di kamar. Dia senang sekali saat kamu bilang mau datang. Ah, sudahlah. Kalian segera temui Oma, Mami mau menenangkan diri dulu," ucap Sarah pada akhirnya.
"Iya, Mam," jawab Rayyan dan Evelyn hampir bersamaan.
Sebuah kamar dengan pintu besar nan megah menjadi tempat istirahat bagi ratu di rumah keluarga Permana, dialah Maria. Siapapun yang melihat isi di dalam kamarnya, sudah pasti akan terpana. Banyak sekali barang mewah yang ada di sana, menunjukkan sisi ketertarikan sang empunya pada nilai seni.
"Lyn ... Jangan tegang, biasa saja ... ada aku," ucap Rayyan mencoba menenangkan Evelyn. Tangan kanannya menggenggam tangan Evelyn, seolah memberikan kekuatan yang memang dibutuhkan Evelyn saat ini.
Evelyn mengangguk pelan. Toh, bukan kali pertama dia menghadapi situasi seperti itu—pikirnya. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka, seketika saja aroma wangi lavender yang menjadi kesukaan Maria menguar memenuhi rongga hidung mereka berdua.
"Oma," sapa Rayyan seraya menghampiri Oma Maria yang saat ini tengah duduk di sebuah kursi empuk nan mewah.
"Bagaimana kabarmu, Rayyan? Baik?" tanya Maria.
"Aku baik-baik saja, Oma sendiri bagaimana?" tanya Rayyan balik.
Maria menatap tajam ke arah Evelyn yang saat ini duduk di samping suaminya. "Tentu saja Oma baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu— "
"Tapi belum tentu besok atau lusa," potong Maria cepat.
Rayyan terbelalak mendengar ucapan oma-nya tersebut. "Jangan bilang begitu, Oma. Oma harus sehat, panjang umur, dan —."
"Panjang umur? Untuk apa, Rayyan?" sergah Maria lagi.
"Bukankah Oma bilang mau menyambut cicit penerus keluarga Permana? Jadi, tetaplah sehat," jawab Rayyan dengan ulasan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Sampai kapan kamu akan membuat Oma menunggu? Evelyn ... jawab Oma!" Pada akhirnya pertanyaan itu terlontar juga. Pertanyaan yang tak pernah Evelyn sukai, dan juga pertanyaan yang selalu Evelyn hindari.
Evelyn gemetar hebat saat tatapan tajam Maria tertuju padanya, tapi dia mencoba menenangkan dirinya sebisa mungkin. Nasi sudah menjadi bubur, dia rasa memang harus memakai ide gila yang sudah dia rencanakan bersama kekasihnya sebelum ini.
"Evelyn bisa memberikan Mas Rayyan keturunan, Oma," jawab Evelyn pada akhirnya.
"Lalu kapan? Ini sudah lima tahun, Evelyn. Sampai kapan kami harus menunggu kata 'bisa' darimu?" cecar Maria.
"Oma, lihatlah." Rayyan menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna biru pada Maria.
"Apa ini, Rayyan?" tanyanya.
"Bukalah, Oma."
Maria menatap kotak beludru berwarna biru itu dengan alis berkerut. Tangan tuanya gemetar saat menyentuhnya, sementara Rayyan dan Evelyn menahan napas, menunggu reaksi sang Oma. Perlahan, Maria membuka kotak itu, dan seketika matanya membelalak saat melihat isinya.
Sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah terang.
Maria mengangkat wajahnya, menatap Evelyn dengan ekspresi tak terbaca. Ruangan itu terasa sunyi sesaat, bahkan suara napas pun seakan tertahan.
"Ini ... benar?" suara Maria terdengar serak, antara kaget dan tak percaya.
Rayyan menggenggam tangan Evelyn erat. "Benar, Oma. Evelyn hamil. Oma akan segera memiliki cicit."
Maria masih memandangi alat itu, seolah memastikan dirinya tidak salah lihat. "Apakah anak ini benar-benar anakmu, Rayyan?"