"Oma, apa maksud Oma?" Rayyan yang terkejut atas pertanyaan Maria mempertahankan senyumnya yang mulai menipis.
Evelyn mencoba menutupi rasa kagetnya di depan Oma Maria. Tangannya mencengkeram erat jemari Rayyan yang masih menggenggamnya. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. Tapi tetap saja, mendengarnya langsung dari bibir sang Oma membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Maria menutup kotak beludru itu perlahan. Tatapannya tajam, menusuk Evelyn seolah berusaha menembus lapisan kebohongan—jika memang ada.
"Kamu pasti paham, Rayyan. Aku tidak akan menanyakan hal ini jika tidak punya alasan. Selama lima tahun, Evelyn divonis mandul. Lalu tiba-tiba dia hamil? Bukankah itu terlalu mencurigakan?"
"Curiga? Apanya yang harus dicurigai, Oma?" tanya Rayyan. "Oma ingin agar Rayyan memiliki anak, dan sekarang Rayyan berikan kabar baik buat Oma."
Evelyn menelan ludah. Ia menunduk, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara lain memecah ketegangan.
"Memangnya harus dipertanyakan lagi, Oma? Itu anak Rayyan, sudah jelas!"
Semua kepala serempak menoleh ke arah pintu. Sarah berdiri di sana, kedua lengannya terlipat di depan d**a. Ekspresinya tak kalah tajam dari Maria.
"Mami begitu ingin cicit, 'kan? Nah, sekarang Evelyn memberikannya.
Maria mendesah panjang, matanya masih menatap Evelyn. "Aku hanya ingin memastikan. Karena kalau sampai bayi ini bukan keturunan asli Permana, kau tahu sendiri akibatnya, Evelyn."
Evelyn menahan napas. Ancaman itu terdengar begitu jelas dan juga nyata di telinganya.
"Percayalah, Oma," Rayyan berusaha menengahi. "Aku sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ayah. Aku ingin semua orang di keluarga ini juga bahagia menyambut kabar baik ini."
Maria terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas berat. "Baiklah. Aku akan percaya ... untuk saat ini."
Rayyan tersenyum lega dan menggenggam tangan Evelyn lebih erat. Tapi, di balik ketenangan itu, Evelyn merasa kakinya mulai bergetar. Ia harus segera mengambil langkah berikutnya. Jika tidak, rahasianya bisa terbongkar kapan saja.
Alan berdiri di balik pintu, tubuhnya bersandar santai pada dinding yang dingin. Telinganya tajam menangkap setiap kata yang diucapkan di dalam ruangan. Senyum kecil terulas di sudut bibirnya.
"Kita akan bermain ...," pikirnya.
Mata Alan memancarkan ketertarikan. Selama ini, ia hanya diam, menjadi bayangan di rumah keluarga Permana. Namun, percakapan barusan seperti memberikan hiburan tersendiri. Bukan karena ia ingin melihat Rayyan jatuh. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin lebih daripada itu.
Alan melirik ke lorong di belakangnya. Sejauh mata memandang, rumah ini memang penuh intrik. Rahasia demi rahasia tertanam kuat di dalamnya, siap meledak kapan saja.
Ia pun lantas menyandarkan bahunya ke dinding, memasukkan satu tangan ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya memainkan ponselnya, berpikir apakah sebaiknya ia merekam sebagian percakapan itu. Tidak sekarang, tentu saja. Tapi mungkin nanti, ketika saat yang tepat tiba.
"Evelyn, Evelyn ...," gumamnya.
Di dalam ruangan, Maria masih menatap Evelyn dengan penuh selidik, seakan mencoba menguliti dirinya hanya dengan sebuah tatapan.
Sarah, yang barusan menyela pembicaraan, menatap tajam ke arah Maria. "Mami tidak bisa begitu saja menuduh Evelyn, tanpa bukti apa pun," katanya, suaranya tegas.
"Bukti? Kadang-kadang, perasaan seorang wanita lebih tajam dari bukti. Aku sudah hidup lebih lama darimu, Sarah. Aku tahu kapan seseorang menyembunyikan sesuatu."
Evelyn menahan napas, punggungnya menegang. Jika Maria terus menggali, cepat atau lambat, dia akan menemui sesuatu. Tapi ini bukan saatnya panik. Tidak.
"Maaf, Oma," Evelyn akhirnya membuka suara, suaranya terdengar begitu lembut, hampir gemetar. "Aku tahu berita ini mengejutkan. Aku sendiri masih sulit percaya, tetapi aku mengatakan yang sebenarnya, jika ... bayi ini adalah anak Mas Rayyan."
Maria mengamati mereka dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Semoga tidak akan ada kejutan lain setelah ini."
--
Malam semakin larut, tetapi Evelyn tak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam perutnya yang masih rata. Kepalanya penuh dengan pikiran-pikiran yang mengganggu, membuat dadanya terasa sesak.
Di sampingnya, Rayyan tertidur pulas. Napasnya teratur, sesekali menghela panjang dan tampak begitu damai. Evelyn menatap suaminya dalam diam, rasa bersalah menggumpal di dadanya. Ia ingin menyentuh wajah pria itu, ingin meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi kebenaran yang ia simpan terlalu besar, terlalu berbahaya.
Ponselnya bergetar di atas meja. Evelyn menoleh, jantungnya seketika berdebar lebih kencang saat melihat nama yang muncul di layar. Tidak mungkin!
Ia melirik Rayyan sekali lagi, memastikan pria itu masih terlelap sebelum akhirnya meraih ponsel dengan tangan gemetar. Tak ingin menimbulkan kecurigaan, Evelyn berjalan menjauh dari Rayyan. Kini, dirinya telah berdiri di balkon.
"Butuh waktu lama bagimu untuk mengangkatnya," suara di seberang terdengar dingin.
Evelyn menelan ludah. "Aku harus memastikan Rayyan tidak bangun."
"Tentu saja," jawab suara itu datar. "Jadi, apakah semua sudah seperti yang kita rencanakan?"
Evelyn menggigit bibirnya. "Iya. Semua orang percaya aku hamil anak Rayyan. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Oma Maria curiga," bisiknya, seakan takut seseorang di rumah ini bisa mendengar. "Dia tidak mudah ditipu. Jika mereka sampai meminta tes DNA, semuanya akan berantakan."
Suara tawa kecil terdengar dari seberang, membuat Evelyn semakin cemas. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sudah menyiapkan segalanya. Kamu hanya perlu tetap tenang dan berpura-pura seperti biasa."
Evelyn memejamkan mata, mencoba menenangkan napasnya yang mulai tidak beraturan. "Kita harus berhati-hati. Jika sampai Rayyan tahu bayi ini bukan miliknya—"
"Dia tidak akan tahu, Evelyn," suara Andre segera memotong. "Selama kamu tetap bermain sesuai dengan rencana."
Evelyn menggenggam ponselnya erat. Ia tahu dirinya sudah masuk terlalu jauh. Panggilan terputus, meninggalkan Evelyn dalam keheningan yang semakin menyesakkan. Ia menatap layar ponselnya yang kini gelap, seolah menatap jurang tak berdasar tempat ia berada sekarang.
Aku tidak boleh goyah. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.
Evelyn memejamkan mata dan menghirup udara banyak-banyak. Dirinya butuh ruang untuk berpikir.
Angin malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Evelyn merapatkan syal yang melingkari lehernya, lalu bersandar pada pagar balkon, menatap halaman rumah yang luas dan sepi.
Namun, saat matanya menjelajah ke arah gerbang depan, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Seseorang ada di sana.
Evelyn menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok yang berdiri di dekat pagar. Lalu, wajah itu terlihat lebih jelas di bawah redupnya lampu taman.
Alan!
Pria itu bersandar santai di dinding luar rumah, kedua tangannya diselipkan di saku celana. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menikmati udara malam. Tapi Evelyn tahu lebih baik dari itu. Alan bukan tipe pria yang hanya berdiri di luar rumah tanpa alasan.
Ponselnya kembali bergetar. Evelyn menoleh ke layar, dan matanya membulat saat melihat nama yang muncul.
Alan.
Tangannya gemetar saat mengangkat telepon. "Alan?"
Suara di seberang terdengar rendah, hampir seperti bisikan. "Malam yang dingin, bukan?"
Evelyn merasakan bulu kuduknya meremang. "Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Aku hanya menikmati pemandangan," jawab Alan santai. "Dan kebetulan, aku melihat seseorang berdiri di balkon, tampak gelisah. Kamu tidak bisa tidur, Kak?"
Evelyn menggigit bibirnya. "Itu bukan urusanmu."
Alan tertawa kecil. "Mungkin bukan. Tapi aku selalu tertarik pada hal-hal yang ...."
Evelyn semakin waspada. Nada suara Alan membuatnya tidak nyaman, seolah pria itu tahu sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan masuk," kata Evelyn, berusaha mengakhiri percakapan.
"Tentu," sahut Alan ringan. "Tapi, Kakak ipar ...."
Ia berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung.
"Aku harap kamu bisa menjaga dirimu baik-baik. Karena di rumah ini, rahasia tidak pernah bisa disimpan selamanya."