"Apa-apaan ini? Apa yang Alan maksud?" Evelyn bergumam pelan setelah sambungan telepon terputus.
Dengan cepat dia segera berbalik badan untuk kembali ke tempat tidur. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat sosok Rayyan berdiri di ambang pintu balkon. Tubuhnya disandarkan pada kusen pintu, kedua lengannya terlipat di depan d**a. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi tatapan matanya begitu tajam, menusuk Evelyn hingga ke tulang.
"Ma-Mas," lirihnya.
"Kenapa belum tidur, Lyn?" suaranya terdengar tenang, tetapi ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat Evelyn merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah Rayyan mendengar sesuatu? Apakah dia melihatnya berbicara di telepon?
Evelyn berusaha mengendalikan dirinya. Ia menggigit bibirnya sesaat sebelum memaksa senyum kecil. "Aku hanya ... merasa sedikit gerah, Mas."
Rayyan tetap diam sejenak, lalu berjalan mendekat. Evelyn menahan napas saat suaminya akhirnya berdiri tepat di hadapannya dan menatapnya lekat-lekat.
Rayyan mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Evelyn. "Kamu sakit, Sayang?"
Evelyn tersentak kecil. Sentuhan hangat itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuatnya semakin gugup. Ia tak boleh terlihat ragu, tak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun.
"Nggak, Mas," jawabnya cepat. "Aku hanya memikirkan bayi kita." Evelyn menundukkan kepala, menempelkan tangannya ke perutnya yang masih rata. "Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan baik. Tapi Oma ...."
Rayyan tersenyum kecil, meski sorot matanya masih menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. "Kita akan baik-baik saja," katanya pelan. "Untuk Oma, aku yakin dia juga bahagia."
"Mas, Oma meragukanku. Oma seolah nggak percaya kalau aku bisa hamil, Mas," sanggah Evelyn.
"Evelyn, tidak ada yang meragukanmu. Mungkin saja ... Oma hanya merasa terkejut," sahut Rayyan.
Rayyan menarik tubuh Evelyn agar lebih dekat dengannya, kemudian mengecup kening Evelyn perlahan. "Aku tidak ingin kamu terlalu banyak berpikir, oke? Istirahatlah. Jangan sampai stres, itu nggak baik untuk bayi kita."
Evelyn mengangguk pelan. Ia mengikuti Rayyan masuk ke dalam kamar, tetapi pikirannya masih tertinggal di luar sana—tepatnya pada Alan.
Saat ia sempat menoleh ke balkon sekali lagi, matanya mencari sosok yang tadi berdiri di dekat pagar. Akan tetapi Alan sudah menghilang. Setidaknya dengan perlakuan manis Rayyan, Evelyn tahu jika Rayyan tidak mendengar atau merasa curiga atas apa yang baru saja dilakukanya barusan.
--
"Bagaimana kalau kita coba untuk pergi ke dokter hari ini, Lyn?" tanya Rayyan tiba-tiba pada pagi itu.
Uhuk!
Evelyn yang sedang meneguk segelas air terperanjat. Ia tersedak, hampir saja air itu keluar dari mulutnya. "Hari ini, Mas?" suaranya serak karena terkejut.
"Iya, Lyn. Aku pikir kita nggak perlu menunda lagi. Kalau kamu memang merasa nggak enak badan, lebih baik kita cek ke dokter kandungan, kan?"
Evelyn menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Tapi, Mas ... hari ini 'kan aku agak sibuk," jawabnya, berusaha menyembunyikan kecemasan yang mulai menguasai pikirannya. "Aku masih merasa sedikit lelah, mungkin lebih baik kalau kita jadwalkan besok saja."
Rayyan menatapnya dengan tatapan tajam, seolah sedang membaca ekspresi wajahnya. "Kenapa harus menunggu besok? Bukannya lebih cepat akan lebih baik, Lyn. Aku nggak mau menunda-nunda."
Evelyn merasakan jantungnya berdegup kencang. Bagaimana dia bisa menghindari ajakan Rayyan untuk pergi ke dokter? Dirinya tahu jika Rayyan terus mendesak, maka dia tidak akan bisa menolaknya begitu saja. Namun, jika ia pergi ke dokter sekarang, ada kemungkinan kebenaran yang ia sembunyikan akan terbongkar.
"A-aku ... masih merasa sedikit lelah, Mas," Evelyn akhirnya berkata dengan suara pelan, berusaha tetap tenang. "Kemarin malam aku susah tidur, jadi... aku rasa lebih baik jika kita pergi besok saja."
Rayyan menatapnya dengan pandangan meneliti. Ia terlihat ragu, tetapi akhirnya menghela napas. "Kalau begitu, kita pergi besok, ya? Aku nggak mau menunda terlalu lama. Aku ingin memastikan kamu dan bayi kita baik-baik saja."
Evelyn mengangguk pelan, tapi dalam hatinya ia gelisah. Bagaimana jika Rayyan tahu? Bagaimana jika rahasianya terbongkar? Ia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Lyn," panggil Rayyan, suaranya lebih lembut. "Kamu yakin nggak ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Evelyn langsung menegang. Ia meneguk ludah, mencoba menjaga ekspresinya tetap wajar. "Kenapa Mas tanya begitu?"
Rayyan menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Nggak, cuma ingin memastikan. Kamu kelihatan sedikit berbeda hari ini."
Evelyn berusaha tersenyum, meski senyumnya terasa kaku dan dipaksakan. "Aku baik-baik saja, Mas. Mungkin cuma kecapekan," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke piring kosong di hadapannya, seolah mencari alasan lain untuk menghindari percakapan yang semakin dalam ini.
Rayyan tidak langsung menjawab. Ia tetap diam beberapa detik. Setelah beberapa saat, Rayyan akhirnya mengangguk pelan. "Kalau gitu, kita pergi besok, ya?"
Evelyn mengangguk cepat, merasa sedikit lega. Meskipun begitu, ia tahu ia hanya menunda-nunda waktu. Hari esok tetap datang, dan ia tahu, semakin lama ia bersembunyi maka semakin besar pula risikonya.
Rayyan mengusap pelan punggung Evelyn, seolah memberi dukungan dan ketenangan. "Setelah sarapan, kamu istirahat saja di kamar. Aku ada meeting di kantor."
"Iya, Mas," jawab Evelyn.
Rayyan pergi meninggalkan meja makan, dan Evelyn merasa seolah-olah dunia berputar semakin cepat. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar tidur. Namun, hatinya masih bergejolak dengan kecemasan yang belum mereda.
Evelyn duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam ponselnya. Tangan itu gemetar sedikit saat ia membuka layar ponsel dan melihat pesan yang masuk.
Andre: Lyn, kapan kita ketemu? Aku rindu.
Evelyn menatap pesan itu dengan wajah pucat. "Kenapa semua ini harus begitu rumit?" gumamnya dalam hati, sebelum menghapus pesan tersebut dengan cepat.
Andre duduk di ruang kerjanya, menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk. Sudah beberapa menit berlalu sejak ia mengirimkan pesan pada Evelyn, namun belum ada balasan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa Evelyn mungkin hanya sibuk, tetapi perasaan terabaikan semakin menguasai dirinya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
Akhirnya, Andre memutuskan untuk menulis sebuah pesan lagi.
Andre: Kenapa kamu nggak balas pesan aku, Lyn?
Andre: Kamu tahu jika aku harus bekerja.
Andre: Apakah aku harus bertanya pada Rayyan nanti? Mungkin kita bisa bicara lebih banyak setelah itu.
Dia menatap pesan tersebut beberapa detik sebelum menekan tombol kirim. Begitu pesan itu terkirim, Andre mengembuskan napas panjang dan memiringkan kepalanya ke belakang.
Evelyn, di sisi lain, duduk dengan tangan gemetar di atas ponselnya. Pesan Andre baru saja masuk dan ia seolah merasakan sebuah tamparan yang keras. Ia sudah cukup khawatir dengan situasi yang dihadapinya bersama Rayyan, dan sekarang Andre justru memberi tekanan lebih pada dirinya.
Evelyn: Apa yang kamu mau?
Andre: Aku ingin bertemu.
Evelyn: Tidak sekarang!
Andre: Tentu saja tidak sekarang, Sayang. Karena sekarang aku harus menemani Rayyan. Dan nanti, menemani istrinya."
Evelyn hanya bisa menarik napas panjang dengan semua tekanan Andre. "Kurang ajar!" gumamnya.