Bab 8. Keputusan Sulit

1069 Words
Setibanya di rumah Anggun, Anna tidak langsung turun dari mobil. Wanita itu mencoba menguatkan driri, menyiapkan mental sebelum bertemu sang bunda. Apa yang akan Anna katakan nanti pasti akan menyakitkan, terutama untuk Anggun. Tapi mau bagaimana lagi, memang jalan ini yang harus dia ambil demi menyelamatkan mental dan hatinya. Sebelum turun Anna kembali menatap foto USG-nya dengan mata berkaca-kaca. Siapa sangka, setelah empat tahun penantian, pada akhirnya Tuhan memberi kepercayaan padanya. Anna menyeka air matanya, lalu dia memasukan foto USG itu ke dalam tas. Setelah itu, barulah Anna turun dari dalam mobil. Di halaman hanya ada mobil Anggun, tidak ada mobil Dito—Papanya. Sepertinya Anna memang baru siap cerita kepada Anggun saja. “Anna? Kok diam aja sih di depan? Ayo sini masuk.” Anna tersentak kaget. Dia menatap Anggun yang entah sejak kapan tetapi kini ada dihadapannya. Anna tersenyum kikuk, lalu dia mendekat dan memeluk tubuh Anggun dengan erat. Di dalam pelukan Anggun, Anna tak bisa menyembunyikan tangisannya. Wanita itu terisak, membuat Anggun kebingungan. “Kamu kenapa, An? Kamu baik-baik aja? Atau kamu sakit? Apa yang sakit? Perlu Bunda antar ke rumah sakit?” tanya Anggun dengan beruntut. Tentu dia panik mendengar anaknya tiba-tiba saja menangis. “Gapapa, Bun. Aku juga udah dari rumah sakit kok.” Kening Anggun mengerut. Ternyata benar, putrinya benar-benar sedang sakit. Anggun menarik tubuh Anna, melepaskan pelukannya. Dengan begini dia bisa menatap Anna dengan leluasa. Wajah putrinya sudah memerah, air matanya terus mengalir. Dengan penuh kesabaran Anggun menyeka air mat aitu dengan tangannya. “Kamu sakit apa, An? Kenapa ngga diantar sama Adam? Adam kerja, ya?” tebak Anggun. “Kalau gitu kita duduk dulu, kita bicara di rung tamu,” lanjutnya. Anna tidak menolak, dia mengikuti Anggun ke ruang tamu. Sungguh, hati Anna sangat berat mau mengatakan semuanya kepada sang bunda. Setibanya di ruang tamu, Anggun mendudukan Anna di sofa. Sedangkan dirinya ke dapur untuk mengambil air minum. Segelas air putih sudah Anggun bawa, lalu dia kembali ke ruang tamu. Sebelum bertanya lebih lanjut, Anggun membantu Anna untuk minum lebih dulu. Satu tegukan Anna minum, lalu dia menaruh gelas itu ke atas meja. “Jadi, kamu sakit apa? Kenapa ngga periksa sama Adam?” “Mas Adam pagi ini udah punya urusan sendiri, Bun.” “Kerjaan?” Anna menggelengkan kepalanya. “Lalu apa kalau bukan kerjaan?” Dalam-dalam Anna menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Anna menatap Anggun yang kini tengah kebingungan. “Aku … aku mau kasih tau Bunda sesuatu.” “Apa, An? Kamu jangan bikin Bunda penasaran gini dong. Apa kamu ada masalah sama Adam? Iya?” “Aku mau cerai sama mas Adam, Bun.” “Apa? kamu bilang apa barusan?” “Aku mau cerai, Bun.” Bak tersambar petir di siang bolong, tentu Anggun sangat kaget denganpernyataan sang anak. Ini sangat tiba-tiba, bahkan sebelumnya rumah tangga Anna dan Adam baik-baik saja tidak ada masalah apapun. kenapa sekarang ingin cerai? Anggun menatap tak percaya anak bungsunya itu. “Anna? Ada apa sama kamu dan Adam sampai kamu ingin bercerai? An, jangan main-main sama perceraian.” Anna menggelengkan kepalanya lemah. “Aku ngga main-main, aku serius, aku benar-benar mau gugat mas Adam. Bun, mas Adam … selingkuh.” “Astagfirullah, Anna, kamu serius? Kamu ngga lagi main-main sama Bunda, ‘kan?” Lagi dan lagi Anna menggelengkan kepalanya. Anggun bersandar ke sofa, dia menatap tak percaya anaknya yang kini sedang menangis sesegukan. Dilihat dari reaksi anaknya, tidak mungkin kalau Anna berbohong. Tapi kalau itu semua benar, apa mungkin Adam sejahat itu menyelingkuhi putrinya? “Mas Adam izin mau nikah lagi, Bun. Dan itu minggu depan. Aku ngga bisa dan ngga siap untuk dimadu, apalagi wanita itu … Aira.” “APA?! Aira?” “Iya, wanita pilihan mas Adam adalah Aira. Selain itu Aira sedang hamil, Bun, hamil anaknya mas Adam. Maka dari itu mas Adam mau bertanggung jawab.” Anggun tidak bisa berkata apa-apa, dia sangat syok dengan ini semua. Anggun menarik tubuh Anna ke dalam dekapannya. Anggun tahu, saat ini anaknya pasti sangat hancur. Bagaimana tidak hancur, rumah tangga yang sudah berjalan empat tahun harus kandas di tengah jalan. “Karna aku ngga bisa kasih mas Adam keturunan, dia selingkuhin aku. Aku ngga mau dimadu, Bun, aku lebih baik mundur dan relain mas Adam buat Aira. Padahal …. Padahal saat ini aku sedang hamil anaknya mas Adam.” Suara Anna memelan, dia memeluk erat Anggun. Refleks Anggun menarik Anna dari pelukannya. “Apa, An? Kamu hamil?! Kenapa kamu ngga kasih tau Adam? Mungkin dengan Adam tau, dia ngga akan melanjutkan rencananya. Kal—” “Engga, Bun. Keputusan dia sama mama udah bulat. Bahkan aku disuruh cerai kalau emang ngga mau terima Aira sebagai istri mudanya mas Adam. Sekalipun mas Adam tau, mas Adam akan tetap tanggung jawab kepada Aira, dan aku ngga bisa hidup bertiga sama mereka. Biar aku yang mundur, Bun, aku ikhlas. Yang terpenting mas Adam ngga perlu tau soal kehamilan aku.” “Anna,” panggil Anggun lembut. Hati ibu mana yang tidak teriris melihat anaknya disakiti seperti ini? Apalagi kenyataannya sang anak tengah mengandung. “Adam sama keluarganya harus tau, Anna. Kalau kamu ngga siap bilang, biar Bunda yang kasih tau mereka,” sambungnya. Anna menggeleng di dalam pelukan Anggun. Bagi Anna semua sudah sangat terlambat, sudah tidak bisa diperbaiki lagi kekacauan yang ada. Anna juga sudah tidak bisa memaafkan suaminya yang telah berselingkuh. Lebih dari itu, Anna sudah melihat sendiri bagaimana perhatian Adam kepada Aira semalam. Saking perhatiannya, pria itu sampai tak pindah ke kamar utama. Sangat memiriskan bukan? Masih ada istri sah, tetapi suaminya memilih tidur dengan wanita lain. Wanita yang belum disahkan menjadi istri. “An, tapi gimana dengan kamu kedepannya?” “Setelah resmi bercerai, aku mau pindah dari Jakarta, Bun. Aku ingin ke Bali buat mulai hidup baru di sana,” jawab Anna sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. “Aku akan rawat dan jaga anak ini sendirian tanpa bantuan siapapun termasuk mas Adam. Aku mampu sendiri,” lanjutnya. Hancur hati Anggun. Menantu yang sejak dulu dia bangga-banggakan, ternyata tega menyakiti anaknya sampai segininya. Yang lebih menyakitkan, Anna akan bercerai dalam keadaan hamil. Seharusnya kehamilan Anna menjadi kabar bahagia untuk semua orang, bukan seperti ini. Anna menatap Anggun seraya berkata, “Bunda mau janji sama aku, ‘kan? Bunda ngga akan bilang mas Adam atau mama, ‘kan? Tolong rahasiain ini semua demi aku, Bun.” Berat, namun pada akhirnya Anggun menganggukan kepalanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD