Bab 9. Calon Suami

1054 Words
“An, kamu udah bangun?” Anna yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap lurus ke balkon pun menoleh. Di ambang pintu, Anggun tengah berdiri. Tetapi wanita itu tidak sendirian, ada Dito di sampingnya. Senyum yang awalnya ingin merekah seketika redup kembali. Apa … Bundanya sudah menceritakan semua ke sang papa? Sejak pagi memang Anna masih berada di rumah orang tuanya, dia tak ada niat untuk pulang ke rumah. Anna takut kalau di rumahnya masih ada Aira. Padahal dirinya masih sangat berkuasa di sana. Mendahului sang istri, Dito masuk menghampiri Anna. Pria itu duduk tepat di sampingnya. Tangan Dito terulur, mengusap pucuk kepala sang putri dengan lembut. “Kalau kamu di sini sampai sore, itu artinya lagi ada masalah di rumah. Apa Papa benar?” Tebakan yang sangat tepat sasaran. Anna hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ah, ternyata Anggun belum menceritakan apapun. Tapi memang iya, sudah jadi kebiasaan Anna kalau ada masalah dia pasti menepi ke rumah orang tuanya sampai malam. Bahkan menginap kalau memungkinkan. “Daritadi Bunda juga kelihatan aneh, murung, sedih. Ternyata kamu jauh berantakan. Coba kasih tau Papa, kamu kenapa? Ada masalah apa?” tanya Dito dengan suara lembutnya. Tangan pria itu masih senantiasa mengusap kepala Anna. Seketika Anna termenung. Haruskah dia memberitahu rencananya pada Dito? Anna hanya takut kalau Papanya akan marah besar. Dan bisa saja kemarahan Dito akan memperburuk suasana. Saat ini Anna tidak menangis karena dia merasa air matanya telah habis terkuras. Perlahan Anna merebahkan kepalanya di pundak Dito, tatapan kosongnya masih tertuju ke balkon. “Anna? Kamu berantem sama Adam? Kalian berselisih paham lagi?” “Aku….” “Kenapa, An?” “Aku udah memutuskan mau bercerai dari mas Adam, Pah.” Mendengar jawaban Anna jantung Dito berdegup kencang. Apa katanya tadi? Bercerai? Anaknya ingin bercerai? Hati Dito seketika mencelos. Dia benar-benar tidak menyangka kata itu akan terucap dari mulut anak bungsunya. “Anna, kamu sadar sama apa yang kamu bilang tadi?” Di dalam pelukan Dito Anna menganggukan kepalanya. “Aku sadar, dan aku juga ngga dalam paksaan siapapun. Ini murni karna kemauan aku sendiri.” “Tapi kenapa? Apa yang membuat kamu memilih bercerai? Apa yang udah Adam lakuin ke kamu?” “Aira hamil, dan dia hamil anaknya mas Adam, Pah. Minggu depan mereka mau menikah, dan sebelum pernikahan itu terjadi, aku ingin gugat mas Adam kepengadilan. Mas Adam selingkuh, dan aku ngga bisa dimadu. Aku ngga bisa dan ngga mau. Maka dari itu aku memutuskan untuk mundur aja,” jawab Anna dengan lugas. Mendengar jawaban Anna yang menyakitkan Anggun tak kuasa menahan tangis. Tidak kuat mendengar lagi, wanita itu memilih pergi meninggalkan kamar Anna. Jadilah di kamar tersisa Anna bersama Dito. Pelukan Dito semakin erat. Tangan Dito terkepal kuat, sepertinya dia harus menemui Adam sekarang juga. Merasakan tubuh Papanya menegang Anna melepaskan pelukannya. Dia menatap Dito lekat, kepalanya menggeleng. Seolah dari gelengan itu Dito akan paham. “Papa ngga bisa diam aja, Anna, ngga bisa. Papa harus bicara sama Adam,” kata Dito tak terbantahkan. “Aku rasa ngga perlu, Pah. Aku takut yang ada masalah semakin panjang. Aku udah ikhlasin kok kalau memang mas Adam mau sama Aira. Lagipula memang Aira akan kasih mas Adam keturunan. Kan memang itu yang mas Adam harapkan.” Susah, tetapi Anna tetap memaksakan senyumannya. Dia mencoba terlihat baik-baik saja di depan sang papa. Ditto menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia benar-benar pening sekarang. “Ini sulit diterima akal sehat, Anna. Yang istri sah itu kamu, mau apapun alasannya, Adam harus mikirin perasaan kamu. Ini dia selingkuh, selingkuh sama sepupu istri sendiri? Gila!” Anna kembali memeluk Dito. Dia mencoba menenangkan Papanya yang sudah terbawa emosi. Sebetulnya wajar kalau Dito emosi. Orang tua mana yang tidak emosi mengetahui anaknya diselingkuhi? Tidak ada. “Di mana dia sekarang, An? Di rumah sakit? Atau di mana?” Rasanya tidak mungkin kalau Anna bilang suaminya sedang berada di rumah Aira untuk membahas pernikahan. Yang ada Papanya akan semakin murka. “Yang aku butuhin sekarang Cuma ketenangan, Pah. Selain itu aku ngga butuh apa-apa lagi. Jadi aku mohon, Papa ngga usah temuin dia sekarang. Yang terpenting sekarang aku udah lega karna udah cerita ke Papa dan Bunda. Makasihn ya udah bolehin aku tetap di rumah ini.” “Jangan sungkan, ini juga rumah kamu, Anna. Kalau butuh sesuatu panggil Papa. Dan malam ini, kamu nginap di sini. Papa ngga terima penolakan, pokoknya kamu nginap, jangan pulang. Papa ke bawah dulu.” *** Niat hati ingin ke rumah Aira untuk bertemu orang tuanya, tetapi sampai sore hari keadaan Aira tidak memungkinkan. Wanita itu sakit efek hujan-hujanan semalam. Selain itu perutnya juga terus kram. Alhasil rencana mereka harus tertunda hari ini. “Udah, Bi?” “Udah, Mas, ini.” Ica memberikan nampan berisi sop daging buatannya kepada Adam. Dengan cekatan Adam menerima lalu pergi meninggalkan dapur setelah mengucapkan terima kasih. Ica menatap kepergian Adam dalam diam. Keberadaan Aira, ketidak hadiran Anna, membuat perasaan Ica campur aduk. Dia memang tak mau ikut campur masalah majikannya, tetapi Ica tak mau munafik kalau dia kefikiran Anna. Bagaimana kalau Anna melihat kemesraan Adam dengan Aira sekarang? Apa wanita itu tidak akan sakit hati? Ica juga bingung, kenapa bisa tiba-tiba Aira ada di rumah ini. Entah sejak kapan wanita itu datang. Di dalam kamar, Adam duduk di tepi ranjang. Sebelum menyuapi, dia membantu Aira berubah posisi dari rebahan menjadi duduk. Aira tersenyum simpul, dia benar-benar merasa tak enak hati karena terus merepotkan Adam. “Mas, maaf ya kalau aku terus ngerepotin kamu,” ujar Aira dengan tidak enak. Kepala wanita itu menunduk, meremas kedua tangannya yang saling bertaut. “Ai, stop merasa ngga enak. Yang kamu repotin itu saya, calon suami kamu. Lagipula kamu lagi sakit, wajar kalau butuh bantuan saya. Sekarang makan dulu sup-nya mumpung masih hangat. Habis itu minum obat, terus istirahat lagi ya. Badan kamu masih panas.” Adam menyentuh kening Aira dengan punggung tangannya. “Mba Anna gimana, Mas? Apa dia udah pulang? Kalau iya, aku pengen ketemu sama dia. Aku mau minta maaf karna lagi-lagi pakai bajunya.” Adam menggelengkan kepalanya. Entah gelengan kepala itu untuk jawaban yang mana, Aira sendiri bingung. “Dia ngga akan marah, saya jaminannya. Udah, kamu makan dulu biar saya suapin.” Di luar, Ica yang tak sengaja lewat langsung membekap mulutnya rapat-rapat. Apa telinganya tidak salah mendengar? Aira calon istri Adam? Majikannya? Lalu bagaimana dengan Anna? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD