Semua kenangan masa lalu itu membuat Naskala selalu tak bisa tidur dengan tenang. Di tambah keadaannya yang waktu itu harus pergi dari rumah besar. Dan pada kenyataannya, Alfonso benar benar membuktikan semua perkataannya. Semua fasilitas Naskala di cabut. Dia dan mamanya hanya tinggal di kontrakan yang kecil. Terpaksa Naskala harus putus kuliah karena keterbatasan biaya. Tapi lambat laun karena memang otak Naskala yang encer dia bisa bangkit. Raga seorang duda tanpa anak yang di tinggal pergi oleh istrinya mengetahui semua kepintaran Naskala melalui lomba design game yang dia adakan. Selain itu Raga juga tertarik pada Kaila mamanya Naskala. Awalnya Naskala berat menerima Raga sebagai ayah sambungnya tapi melihat mamanya yang harus berjuang keras demi hidup mereka Naskala tak tega.
Naskala dan Kaila menerima Raga masuk ke dalam hidupnya. Dan sejak saat itu Naskala bisa kembali kuliah di luar negeri. Mengejar kembali semua cita citanya. Dan Raga adalah ayah sambung yang baik karena tak pernah sekalipun mengatur hidup Naskala. Bahkan masalah jodoh tak sedikit yang meminta Naskala menjadi menantu mereka tapi Raga menolak dengan halus. Raga tak ingin membuat Naskala terbebani atau menjadi semakin tak terkendali dan itu berhasil.
Apalagi Raga tahu masa lalu yang Naskala sembunyikan.
Pagi itu....
Naskala sudah berada di ruangannya, mengerjakan semua berkas penting yang harus selesai saat itu juga.
"Permisi Tuan Naskala, di depan ada tuan besar ingin bertemu dengan anda."
Naskala menghentikan pekerjaannya dan menyuruh sekertaris nya mengijinkan papanya masuk.
"Pa, kenapa harus minta ijin pada Naskala kalau papa ingin kemari? Ini kantor papa, jadi papa bebas keluar masuk kantor ini pa," protes Naskala.
Pasalnya Raga akan seperti tamu jika ingin mengunjungi Naskala di kantor.
Raga terkekeh melihat nada protes dari putranya itu.
"Tadi antar mama mu ke salon, karena lama nunggu akhirnya papa kesini. Mendingan nunggu di sini dari pada di salon. Takut di godain sama mas mas salon." ucap Raga setengah bercanda.
Naskala tertawa, dia paham apa yang di maksud mas mas salon oleh papanya itu.
"Naskala, kamu nggak mau nyari asisten pribadi buat kamu?" tanya Raga pada Naskala.
Naskala terdiam, pertanyaan yang kesekian kali dari papanya.
Sampai pada akhirnya Naskala menghela napas panjang.
"Mungkin awal bulan aja pa, sekalian. Kemarin pihak HRD bilang kalau mau ada perekrutan karyawan baru di beberapa bagian untuk menggantikan karyawan yang sudah pensiun."
Raga mengangguk mengerti dan dia setuju dengan semua yang di lakukan. Perusahan yang di kembangkan Naskala maju sangat pesan. Bahkan beberapa cabang pun memberikan pemasukan yang luar biasa.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sampai waktunya Raga menjemput Kaila.
*
Disisi lain.....
Naresya tengah beristirahat di kontrakan kecilnya. Dia keliling untuk mencari lowongan pekerjaan. Seminggu yang lalu dia baru saja di pecat dari perusahaan lamanya karena di fitnah seseorang yang notabene adalah sahabatnya sendiri.
"Ini kenapa ya susah banget dapat kerjaan."
Naresya melihat saldo rekeningnya yang mulai menipis meskipun dia sudah berhemat selama seminggu ini.
Dia merebahkan tubuhnya sejenak sambil scroll beberapa lowongan kerja. Sejenak dia memerhatikan beberapa perusahaan yang membuka lowongan kerja. Tapi matanya terpaku pada satu nama perusahaan yang membutuhkan seorang asisten pribadi dengan gaji yang lumayan besar. Di sana juga di sebutkan jika di terima akan mendapatkan fasilitas berupa apartemen/hunian pribadi selama dia menjadikan asisten pribadi.
"Wah, bisa di coba ini. Kalau ketrima kan lumayan ngirit sewa tempat tinggal juga. Dan gajinya lumayan gede."
Naresya segera menyiapkan semua berkas yang di perlukan. Dia siang ini memilih untuk beristirahat agar besok dia tak lelah saat melamar pekerjaan.
*
Pagi hari menyapa ....
Naresya sudah bersiap untuk berangkat, dengan harapan dia bisa di terima menjadi asisten pribadi.
Saat dia sampai di perusahaan, dia segera bertanya pada resepsionis di sana lalu di arahkan ke tempat di mana di adakan tes dan interview untuk para pelamar.
"Wah, banyak banget ini yang nglamar!"
Naresya menunggu sesuai nomer urut kedatangannya. Yang penting dia tak telat hari ini.
"Dengar dengar CEO yang sekarang masih muda, dan juga tampan."
"Ya, aku juga dengar itu. Tapi dia terkenal kejam dan arogan."
"Iya, selain itu katanya dia nggak doyan cewek Lo."
Banyak sekali gosip mengenai CEO di perusahaan yang Naresya datangi tapi bukan Nares namanya jika dia ikut bergosip. Karena tujuannya datang kemari adalah mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
#
Naskala sudah mendapatkan semua berkas pelamar di bagian asisten untuknya. Dan tepat saat berkas itu sampai pada berkas milik Naresya matanya membelalak tak percaya. Dia melihat semua berkas itu dengan teliti. Dan benar, itu berkas Naresya yang selama ini dia cari.
Tanpa pikir panjang lagi dia meminta HRD untuk memanggil Naresya dan meloloskan nya sebagai asisten pribadinya. Naskala meminta kontrak itu di buat sedemikan rupa.
Awalnya HRD menatap bingung pada Naskala tapi berhubung di sana juga ada Raga dan Raga yang juga memintanya akhirnya HRD pun menyetujuinya.
"Naskala, kamu yakin?" tanya Raga sedikit ragu.
"Aku yakin pa, ini kesempatan ku untuk menebus semua kesalahan ku pa. Kalau perlu aku akan langsung mengajaknya menikah," jawab Naskala yakin.
Raga memaklumi apa yang di rasakan Naskala, bertahun tahun juga dia dan Kaila menemani Naskala untuk berobat dan hasilnya terlihat sekarang meskipun terkadang Naskala masih sering bermimpi buruk. Tapi ternyata semesta memberi Naskala jalan melalui ini semua.
Selain itu, Raga meminta HRD itu untuk tutup mulut jika dia masih ingin bekerja di perusahaannya. Tak hanya itu, HRD itu harus mau menandatangani sebuah perjanjian dimana dia tak akan membongkar semuanya tentang Naresya dan Naskala.
Sang HRD mengangguk patuh, karena masuk ke perusahaan itu juga tak mudah. Dia tak akan ikut campur masalah atasannya karena yang terpenting dia bisa bekerja dengan baik di perusahaan itu untuk keluarganya.
*
Naresya yang langsung di panggil HRD pun bahagia, bahkan tanpa pikir panjang Naresya menandatangani kontrak kerjanya tanpa ingin membacanya terlebih dahulu. HRD sudah mengingatkan Naresya tapi Naresya yakin dengan keputusannya.
"Baiklah, Naresya, kamu akan aku antar ke ruangan CEO dan karena kamu sudah siap bekerja kamu bisa langsung masuk kerja hari ini juga."
Naresya tentu saja langsung semangat, dia tak sabar ingin langsung bekerja hari itu. Menjadi pengangguran selama seminggu ini membuatnya stres.
"Silahkan, tuan muda sudah menunggu!"
Naresya mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Gue pasti bisa!"
Naresya menyemangati dirinya sendiri sebelum benar benar masuk ke dalam ruangan itu.
Ceklek.....
Saat Naresya masuk ke dalam terlihat seorang laki laki yang berdiri di dekat jendela dan sedang menatap keluar. Dari pantulan kaca jendela Naskala memerhatikan Naresya dalam diam. Tubuhnya mulai bereaksi dan bergetar. Perasaan bersalah itu muncul kembali. Dia berusaha mengendalikannya. Naskala ingat apa yang Raga pesan kepadanya. Naskala harus bisa mengendalikan semua emosinya.
Semua ini terlalu tiba tiba dan itu membuat Naskala terkena serangan panik.
"Duduk....."
Deg...
Tubuh Naresya membeku di tempatnya berdiri. Suara yang amat sangat dia kenali. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak hatinya yang mulai merasuk kembali.
"Naskala....." gumam Naresya lirih.
Naresya berusaha mengenyahkan semua pikiran nya dan menepis semua yang ada di otaknya.
"Itu nggak mungkin dia..." gumam Naresya lagi.
Tapi jantungnya serasa berhenti berdetak saat laki laki di depannya berbalik.
Laki laki yang sama yang ingin dia lupakan tapi tak pernah bisa. Sekian tahun dia berhasil menghindari dan menjauh tapi hari ini malah dia bertemu dengan Naskala.
Naresya reflek ingin pergi dari sana tapi tangannya di cekal oleh Naskala.
"Tunggu Nares...."
Suara itu yang kembali terdengar, panggilan dari Naskala selama ini kepada dirinya. Naresya berusaha melepaskan diri dari Naskala tapi tetap saja dia kalah tenaga dengan Naskala.
"Lepasin gue Naskala!!" teriak Naresya.
Tapi Naskala semakin erat mencengkeram tangan Naresya.
"Naresya, gue mau bicara sama Lo!"
"Kita perlu bicara, Nares, aku mohon. Gue minta maaf."
Tubuh Naresya mematung, apa dia tak salah dengar setelah apa yang di katakan Naskala barusan.
Naresya bahkan merasakan jika tubuh Naskala bergetar hebat. Di sisi lain, Raga masih terus mengawasi putranya itu bersama Naresya. Dia tak akan tenang meninggalkan Naskala begitu saja.
"Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, gue mengundurkan diri." ucap Naresya datar.
Naskala memejamkan matanya erat, keringat dingin mulai bermunculan. Tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan diri.
to be continued