Bab 3

1309 Words
Naskala masih menahan tangan Naresya agar Naresya tak pergi dari sana. Tubuh Naresya mulai gemetar dan itu membuat Naskala panik. "Nares, please.... gue cuma mau bicara." ucap Naskala memohon. Naresya menepis tangan Naskala, tubuhnya bergetar hebat saat ini. Ternyata Naresya masih ketakutan saat bertemu dengan Naskala meskipun kejadian itu sudah sangat lama. Tak hanya Naskala yang merasa takut dengan pertemuan ini. Naresya ternyata juga mulai merasakannya. Raga yang sejak awal terus memperhatikan mereka merasa aneh. Tapi dia menahan diri untuk tak langsung menemui mereka berdua. Raga memberi kesempatan pada Naskala untuk meluruskan semuanya saat ini. Naresya terlihat berusaha mengendalikan dirinya. "Lo nggak bisa mengundurkan diri begitu saja, kontrak yang lo tanda tangani berlaku saat Lo menandatanganinya. Kalau lo mengundurkan diri sekarang Lo harus bayar ganti rugi sepuluh milyar!" Mata Naresya melotot, dia langsung berbalik ke arah Naskala. Tapi lebih terkejut lagi saat melihat Naskala pucat pasi. Bahkan terlihat kesakitan, dan itu membuat Naresya tak nyaman. "Naskala, Lo sakit?" tanya Naresya pelan. Dia berusaha untuk menahan rasa takutnya saat melihat Naskala seperti ini. Tapi mengingat semua yang di lakukan Naskala kepadanya dia tak peduli dengan itu. Naresya berusaha menepis tangan Naskala tapi terlalu erat Naskala memegangnya. Mata Naskala mulak berkunang, dan pandangannya mulai kabur. Bruk..... Naskala akhirnya jatuh ke lantai. Raga yang melihat itu langsung keluar dari ruangannya dan berlari ke ruangan Naskala. Sedangkan Naresya mematung di tempatnya bingung dengan apa yang terjadi. "Naskala..... bangun... ini papa." Raga berusaha membangunkan Naskala tapi tak kunjung mau membuka matanya. "Tolong ambilkan air putih." Raga mengangkat tubuh Naskala dan memindahkannya ke kamar pribadi. Awalnya Naresya ragu, tapi melihat Naskala seperti itu dia menepis semua pikiran itu dan membantu papanya Naskala. Naresya mendekati Raga yang masih berusaha membangunkan Naskala. Tapi Naskala masih menutup matanya dengan erat. "Ma-maaf, apa yang terjadi dengan Naskala?" tanya Naresya takut. Dia tak menyangka, Naskala yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Raga menoleh ke arah Naresya lalu tersenyum hangat. "Nanti kamu akan tahu, aku akan memanggil dokter untuk Naskala. Aku minta tolong jaga Naskala sebentar." Belum sempat Naresya menjawab, Raga sudah pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar itu. Naresya meremas kedua tangannya. Dia masih takut jika Naskala akan berbuat hal itu lagi kepadanya. Napasnya memburu, tapi melihat kondisi Naskala yang sekarang membuatnya berusaha sebisa mungkin untuk tak membuat masalah bertambah. Nares, Lo tenang. Lo tetap aman disini. Lo ingat, Lo kuat sekarang. Lo bukan Naresya yang lemah seperti dulu. Naresya berusaha mengingatkan dirinya jika dia sudah berbeda. Tak lama, Raga kembali bersama seorang dokter. Terlihat disana dokter itu memeriksa Naskala dengan teliti. "Naskala tidak apa apa, dia hanya tak bisa mengendalikan rasa takutnya kembali. Dan itu sedikit mengganggu pikirannya kembali. Kemungkinan pagi ini dia belum meminum obatnya." Alis Naresya mengkerut bingung. Dia melihat Naskala yang masih tampak pucat. "Apa dia sakit?" gumam Naresya pelan. Tak lama, dokter itu pergi tanpa meninggalkan obat untuk Naskala dan itu membuat Naresya semakin merasa aneh. "Bisa kita bicara di depan? Dan biarkan Naskala istirahat." Naresya mengangguk pelan, ekor matanya melirik Naskala yang masih tertidur. Naresya sedikit ragu saat melangkah mengikuti Raga ke ruangan depan. "Silahkan duduk, dan tolong jangan takut dengan ku." pinta Raga sopan. Naresya menjadi tak enak, dia kentara sekali jika sedang waspada kepada Raga. "Perkenalkan, aku papanya Naskala." Semakin bingung lah Naresya saat ini, seingat dia papanya Naskala bukan orang yang ada di depannya. "Papa? Tapi kenapa beda?" tanya Naresya tanpa sadar. Setelah sadar dengan kesalahannya barusan, Naresya langsung menundukkan kepalanya takut. Raga sendiri, hanya tersenyum tipis. "Tidak apa apa, aku tahu apa yang kamu pikirkan." Naresya meremas kedua tangannya karena tak nyaman. "Aku papa sambungnya Naskala." lanjut Raga lagi. Lalu Raga menceritakan beberapa bagian pada Naresya agar Naresya tak takut lagi kepadanya. Naresya sedikit terkejut saat mendengar perceraian orang tua Naskala. Di tambah dengan keadaan Naskala yang sempat depresi. "Dan dokter tadi, adalah dokter pribadi Naskala yang selama ini menangani Naskala. Kamu Naresya kan? Dia sangat senang bisa menemukanmu kembali. Dan sepertinya ada banyak hal yang harus kalian luruskan dari masa lalu." Naresya mengerutkan keningnya penasaran sekaligus bingung. Apa yang sebenarnya terjadi setelah itu, apa Naskala mencarinya atau ada hal lain yang dia tak tahu. Naresya terdiam, dia meremas baju yang dia pakai. Tak lama, Naskala siuman dengan kepala sedikit berdenyut. Raga yang sejak tadi terus mengawasi Naskala segere menghampiri Naskala segera memberi air minum untuk Naskala. "Kenapa obatmu nggak di minum Naskala?" tegur Raga lembut. "Maaf pa." jawab Naskala pelan. Naresya masih ada di ruangan depan karena dia bingung harus melakukan apa saat ini. Naskala yang baru selesai minum obatnya baru teringat dengan keberadaan Naresya. "Pa, apa Naresya pergi?" Raga menggeleng, dan itu membuat Naskala menghembuskan napas lega. Tapi dia ragu apa Naresya masih bisa dia ajak bicara setelah keadaan mereka seperti ini. "Kalau kamu ingin bicara, keluar dari kamar jangan disini. Takut jika Naresya menolak dan kabur." Naskala mengangguk, perlahan dia bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar pribadinya. Naskala melihat Naresya duduk dengan kepala yang menunduk. Naskala duduk di depan Naresya dengan wajah yang masih pucat. "Kalian bicara lah dengan baik, aku akan melihat dari ruanganku. Nares, om nggak minta kamu memaafkan Naskala begitu saja karena om tak membenarkan apa yang Naskala lakukan di masa lalu. Tapi om harap kalian bisa menyelesaikan semuanya dengan baik karena setelah ini kalian akan berkerja sebagai partner." Naresya mengambil napas panjang saat mengingat kontrak yang baru saja dia tanda tangani. Meskipun dia marah karena merasa di jebak tapi benefit yang di berikan sangat membantu hidupnya. Raga meninggalkan Naskala dan Naresya berdua tapi tetap dalam pengawasannya karena sepertinya Naresya juga mengalami hal yang sama dengan Naskala putranya. Raga juga sudah menyuruh asistennya untuk mencari tahu tentang Naresya sedetail mungkin. Naskala masih terdiam karena dia bingung dari mana harus mulai. "Nares, apa lo sampai hamil waktu itu?" Deg..... Tubuh Naresya membeku, dia tak menyangka jika Naskala akan langsung bertanya seperti itu kepadanya. Bruk.... Tanpa Naresya duga, Naskala langsung berlutut di depannya saat tak mendapat jawaban dari Naresya. "Apa yang lo lakuin?" pekik Naresya. "Jangan minta gue berdiri Nares, gue minta maaf untuk semua yang gue lakuin sama Lo waktu dulu." Lalu mengalir lah semua cerita Naskala tentang apa yang terjadi sebenarnya waktu itu. Kedua tangan Naresya mengepal kuat karena ada Gisel di balik semua kejadian yang menimpa nya. Dan ternyata hidup Naskala tak jauh berbeda dengan hidupnya selama ini. Naskala juga korban sama sepertinya. "Gue nggak hamil, " ucap Naresya lirih. Naskala mengangkat wajahnya terkejut. Tapi ada perasaan lega di wajahnya karena dia takut jika Naresya akan mengalami hal yang susah jika sampai Naresya hamil. Dan itu akan membuat Naskala menyesal seumur hidupnya. " Bangun Naskala, kita bicara baik baik. " Naresya mulai tak nyaman dengan posisi mereka dimana Naskala masih duduk di bawah sedangkan dia duduk di sofa. Naskala menggeleng, meskipun badannya masih lemas tapi dia ingin mendapatkan maaf dari Naresya meskipun itu tak mudah. "Naskala, kalau Lo nggak mau bangun, gue lebih baik pergi dari sini. Dan gue bakal cari uang buat bayar pinalti itu!" Mata Naskala membola, dia mulai panik. Akhirnya dia bangun tapi karena masih lemas tubuhnya limbung ke depan. Bruk.... Naskala jatuh di atas tubuh Naresya. Pandangan mereka berdua bertemu, detak jantung mereka mulai terdengar di telinga masing masing. Raga yang melihat adegan itu menaikan sebelah alisnya heran. "Apa mereka sebenarnya saling mencintai? " gumam Raga pelan. Naskala, masih memandangi wajah yang sangat dia rindukan. Tak ada yang berbeda, Naresya hanya tampak lebih dewasa. "Nas-naskala, bisa Lo bangun? Papa Lo lihat semua ini?" Naskala terburu buru bangun, dan duduk di sebelah Naresya dengan perasaan tak karuan. Begitu juga dengan Naresya. Meskipun ada rasa takut tapi kali ini dia merasa aman karena percaya jika Raga sedang memperhatikan mereka. "Jadi semua ini ulah Gisel?" Naskala mengangguk, dan itu membuat Naresya kembali marah. "Kenapa dia lakuin itu sama gue? Padahal gue nggak ada masalah sama dia." "Karena gue cinta sama Lo, Nares. Dan dia terobsesi sama gue!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD