bc

SUAMI INTERNASIONAL

book_age18+
11
FOLLOW
1K
READ
HE
sweet
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Opie 31 tahun, wanita karier sukses di kota metropolitan, akhirnya harus menghadapi juga permasalahan yang mungkin di alami wanita lajang kebanyakan di kota besar. Apalagi kalo bukan pertanyaan kapan nikah?, mana calonnya?. Dan segala pertanyaan terkait statusnya yang masih single di usianya yang dewasa.

Bukan Opie tidak mau menikah, hanya dia selalu merasa tidak percaya diri pada bentuk tubuhnya yang tidak ideal di sudut pandang banyak orang. Opie berbody semok dan jauh sekali dari kesan wanita cantik. Itu yang membuatnya memilih fokus pada pekerjaan dan kariernya di dunia pertelevisian. Menurut Opie, kalo dia tidak cantik, berarti dia mesti jadi wanita pintar dan beruang supaya keberadaan dan eksistensinya tetap di akui banyak orang.

Sampai dia ada di satu titik pemikiran, kalo hanya pria asing atau bule saja yang mungkin menghargai perempuan bukan hanya berdasarkan tampilang fisik, mengacu seringnya Opie melihat gimana perempuan lokal yang jauh dari kata cantik tapi bisa menikah dengan pria asing atau bule.

Lalu bagaimana perjuangan Opie mendapatkan calon suami internasional yang dia cita citakan?, Kalo saat akhirnya dia jatuh cinta pada pria asing lewat sebuah online dating, berujung dengan dirinya yang harus berada di keadaan dilematis, antara mengikuti intuisinya, atau prinsip yang selama ini dia yakini benar?. Yuk ikuti kisahnya?, Sambil kita belajar mengenal etitude pria pria asing yang berhasil Opie ajak berkenalan.

chap-preview
Free preview
1.Perawan Tua
Kalian akan sesantai aku gak sih?, seandainya kalian perempuan berusia menjelang 31 tahun, dan belum menikah?. Iya belum MENIKAH!!!. Baca dengan terang kalo aku belum menikah di usiaku yang hampir 31 tahun. Pasti kalian tanya kenapa aku bisa bersikap santai dengan usia yang sudah jauh sekali melewati quarter life crisis perempuan, di usia 25 tahun seperti yang banyak di gembor gemborkan banyak majalah wanita cosmopolitan yang sering aku baca. Yakan majalah majalah yang banyak beredar di kota kota besar macam Jakarta, tentu mendukung sekali wanita wanita yang memilih karier pada bidang pekerjaan tertentu di urutan pertama tujuan hidup mereka dan menikah tentu ada di urutan bawahnya, bawah lagi atau paling terbawah dalam daftar. Anggap aku akhirnya ikutan terdoktrin seperti banyak perempuan di kota besar yang memilih mengejar karierku di banding menikah. Kenalkan, aku Novi Surahman, tapi biasa di panggil Opie supaya terkesan kekinian. Bukan aku tidak bersyukur dan menghargai nama pemberian orang tuaku di ikuti nama belakang bapakku, tapi semua karena nama Novi itu banyak sekali, seperti nama Siti, Budi, Ahmad, Muhamad, atau nama nama yang kebanyakan di pakai orang tua zaman dulu dalam menamai anak mereka. Dulu sewaktu SD saja, nama Novi ada 4 orang dalam kelasku. Walaupun di ikuti nama lain, tetap aja di panggilnya Novi, atau Nov. Yakan kalo tidak ada pembeda, begitu ada yang panggil Novi, tentu ke empat empunya nama Novi dalam kelas akan menengok semua. Itulah alasan kenapa akhirnya aku memutuskan nama panggilanku Opie semenjak aku SD. Ya izin dulu dong pada bapak ibuku sebelum akhirnya aku memakai nama itu secara resmi sebagai nama panggilanku. Terserah 3 Novi lain, yang penting aku tidak perlu nengok lagi seandainya nama Novi yang di sebut, karena semua sudah sepakat kalo panggil aku itu Opie. Lalu apa pekerjaanku?. Aku seorang creative director TV di sebuah stasiun TV swasta ternama di negeri ini. Yang pekerjaannya jadi pimpinan tim creative yang ada di stasiun TV. Intinya aku yang mempimpin orang orang yang membuat sebuah program acara di TV tempat aku bekerja. Sebuah jabatan cukup penting dan krusial, karena kalo tidak ada tim kreatif tidak mungkin ada program acara di TV tersebut. Sebagai sebuah stasiun TV tentu di tuntut untuk membuat sebuah program acara menarik untuk menarik minat penonton untuk menonton di sebuah channel TV. Kalo tidak ada penonton, lalu dari mana sebuah stasiun TV dapatkan pemasukan kalo tidak ada produsen sebuah produk memasang iklan?. Iklan jelas pemasukan utama sebuah stasiun TV swasta. Program acara yang aku buat bersama tim, tentu beragam. Mulai dari acara berita, infotainment, sinetron, talk show, acara ajang pencarian bakat, sampai program khusus anak atau acara religi. Lalu setelah semua program siap, aku juga yang bertugas menyampaikan susunan program itu pada pemilik stasiun TV yang kebetulan suami dari sahabatku semenjak SMA. Hei, jangan berpikir aku dapat dengan mudah ada di titik pencapaian ini, tanpa aku perlu bekerja keras. Justru kesempatan yang di berikan suami sahabatku dulu, seperti sebuah tantangan untukku membuktikan kemampuanku sebagai mahasiswa lulusan ilmu komunikasi jurusan broadcasting. Panjang deh kalo aku ceritakan awal karierku, karena semua di mulai dari tenaga freelance tim creative TV tempatku bekerja jug. Butuh waktu hampir 10 tahun untuk aku ada di posisi ini, setelah beberapa program acara yang aku rancang akhirnya mencapai rating tinggi dan menarik banyak produsen produk untuk memasang iklan. Mulailah aku menerima promosi jabatan selama rentan waktu itu. Itu belum termasuk dengan pekerjaanku di yayasan milik sahabatku juga. Sebuah yayasan yang konsen pada kegiatan pertukaran budaya negara kita ke banyak negara di dunia agar orang di luar negeri, bisa lebih mengenal seni budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Dengan cara mengirim pelajar dan mahasiswa yang berbakat dalam bidang seni tari, paduan suara sampai pengrajin kain, keramik sampai patung ke luar negeri. Seru sebenarnya pekerjaan di yayasan tuh, dan memberikan aku kesempatan untuk keliling hampir di seluruh negara di dunia. Tapi pada akhirnya pekerjaan itu harus aku lepaskan juga, karena konsen di pekerjaanku sebagai creative director tadi itu. Tentu aku butuh focus untuk jadi pemimpin sekumpulan orang creative dan ahli dalam bidang media pertelevisian. Salah salah perusahaan bisa merugi, kalo konsep suatu acara tidak matang di olah oleh tim creative. Jelas butuh mencapai rating share tinggi agar banyak yang memasang iklan bukan?. Okey, sudah jelas dong ya, soal pekerjaanku yang akhirnya membuatku mencapai titik kemapanan di usiaku sekarang, sampai aku merasa tidak butuh lelaki lagi dalam keseharianku. Aku pikir untuk apa lagi?. Uang aku punya, walaupun tidak banyak dan mengalahkan dua sahabatku semenjak SMA yang memang udah di takdirkan jadi orang kaya, bahkan saat mereka belum di lahirkan. Kenal dong Nadine Syahreza Smith, karena dia sudah menikah dengan bosku yang juga kaya raya, karena pewaris tunggal pemilik stasiun TV tempatku berkerja. Nadine sendiri sebelum menikah dengan bosku, merupakan putri bungsu konglomerat dalam bidang usaha kontruksi bangunan yang terkenal di negeri ini. Lalu satu lagi temanku, Pita Sumargo juga putri orang kaya yang ayahnya punya usaha travel agent terkenal dan punya banyak kantor cabang. Dan, menikah juga dengan putra seorang pengusaha distributor mobil mewah Lamborghini yang di kenal sebagai mobil para sultan atau crazy rich di negeri ini. Gimana tidak senang kehidupan kedua temanku?. Tapi aku tidak pernah merasa iri. Aku sadari benar setiap orang punya rezeki masing masing yang sudah di atur Tuhan. Rezekiku ya dengan di berikannya jalan untuk di posisiku sekarang. Cukup untukku punya gaji dua digit yang angkanya sedikit lagi mencapai tiga digit. Sampai aku cukup mampu untuk membeli satu unit apartman di kawasan perkantoran mewah tempat aku tinggal sekarang. Aku juga bisa menanggung hidup ibu dan bapakku yang sudah pensiun. Terkadang juga aku membantu abangku yang cukup sering kekurangan uang karena pekerjannya di sebuah perusahaan swasta tidak memberikannya gaji cukup. Abangku saja idealis jadi bertahan dengan cara bekerja sesuai bidang pendidikan yang dia pelajari dulu semasa kuliah. Padahal banyak orang yang bekerja tidak sesuai disiplin ilmu yang mereka pelajari saat kuliah. Lalu aku juga berhasil menyekolahkan adikku sampai lulus kuliah lalu aku serahkan tanggung jawab mengurus yayasan milik Nadine tadi di awasi Pita yang memaksa tetap bekerja walaupun sudah punya anak. Nadine juga masih membantu di yayasan terutama urusan keuangan yang selalu defisit karena sepinya donatur atau telatnya bantuan dari pemerintah. Over all aku bersyukur sekali dengan kehidupan yang aku jalani sekarang. Termasuk kenyataan kalo aku bukan bagian dari genk perempuan perempuan cantik yang di amini banyak orang. Tau dong kriteria perempuan cantik yang di setujui banyak orang?. Pertama, perempuan cantik itu harus kurus. Aku justru semok mendekati gendut. Tinggiku sekitar 160 dengan berat badan 75 kg. Aku gendut bukan?, dengan pipi chubby dan hidung yang hampir melesek ke dalam karena pipiku chubby tadi. Segala program diet sudah aku jalani, tapi hasilnya tetap saja aku tidak bisa kurus. Tidak perlu sekurus model, cukup bisa mencapai berat tubuh ideal untuk tinggi badanku yang hanya 160 cm aja susah kok, apalagi aku sekurus model. Jadi pada akhirnya aku pasrah. Yang penting tubuhku sehat untuk tetap bisa bekerja dan bertanggung jawab pada pekerjaanku yang kadang menggila dan membuatku stress. Tidak menarik sebenarnya cerita keseharianku yang hanya apartmen lalu kantor. Dulu aku masih bisa bersenang senang saat kedua temanku masih belum menikah. Semenjak mereka menikah tentu sudah beda dong. Dengan tidak mungkin sembarangan untuk mereka pergi pergi kemana saja yang mereka inginkan sekalipun mereka punya uang. Harus izin suami tentunya, dan tidak mungkin tega meninggalkan anak mereka dengan baby sitter. Jadi sekarang, aku cenderung sendirian trus, karena kami hanya akan berkomunikasi lewat telpon, chat atau video call sekali kali. Rasa kesepian itu juga yang membuatku cukup sering pulang ke rumah orang tuaku, yang akhirnya membuatku harus menghadapi masalah dengan orang tuaku sendiri terkait statusku yang masih lajang sampai usiaku saat ini. Sebenarnya orang tuaku masih bisa aku tangani, tapi mulut tetangga jelas tidak bisa aku tangani. Terkadang ada rasa kesal tiap kali statusku di usik. Memangnya kenapa kalo aku sampai saat ini belum menikah?. Toh aku tidak pernah merepotkan mereka. Lagipula kalo pun aku mencari lelaki untuk jadi suamiku, tentu tidak bisa sembarangan. Tentu aku harus pertimbangkan dengan baik bukan?, dan bukan asal menikah saja. Pertama, yang jadi dasar pertimbanganku, kemapanan lelaki yang akan aku pilih. Apa lebih mapan secara finansial dariku atau minimal samalah. Aku tentu tidak mau, kalo sampai akhirnya lelaki itu numpang hidup padaku. Bukan aku matre juga, tapi mana mungkinkan lelaki bergantung terus pada perempuan?, gak gitu konsep di ciptakannya lelaki dan perempuan ke dunia ini. Perempuan di ciptakan dari tulang rusuk lelaki bukan?, jadi perempuan ada untuk memberikan kasih sayang dan kesetiaannya pada lelaki. Dan bukan untuk menjadi tulang punggung lelaki yang jadi pasangannya. Secara harfiah aja, tulang punggung itu susunan tulangnya kuat dan cukup besar besar, sampai berfungsi untuk menopang tubuh kita secara keseluruhan. Jadi harusnya lelaki punya rasa kasihan pada perempuan seandainya harus jadi tulang punggung untuk kehidupannya. Lalu apa gunanya Tuhan memberika porsi kekuatan lebih besar pada lelaki, kalo akhirnya lelaki memilih berleha leha atau bersantai. Okeylah gak apa kalo secara finansial kurang atau di bawah aku. Asal punya sikap tanggung jawab dan tau malu, aku masih bisa menerima. Mau berapa pun penghasilanya dari pekerjaan yang dia kerjakan, tentu akan aku hargai dan aku tutup kekurangannya dari uangku. Masalahnya banyak aku dengar cerita dari banyak orang tentang sosok lelaki yang justru jauh dari sikap bertanggung jawab. Kebanyakan lelaki yang aku dengar ceritanya dari banyak orang, rata rata bersikap tidak sesuai isi kantong. Ya kalo misal lelaki yang hanya brprofesi jadi tukang ojek aja sudah belagu sampai punya selingkuhan atau istri lebih dari satu. Atau profesi lain yang kalo kita dengar buat kesal, yakan banyak oknum lelaki begitu. Dari mulai profesi supir sampai satpam aja banyak kok yang berlagak seperti banyak uang sampai niat sekali selingkuh atau poligami. Pastinya perempuan perempuan yang bersedia jadi selingkuhan apalagi pelakor tentu menjadikan uang sebagai tujuan utama mereka dari lelaki yang akhirnya terkena jerat racun mereka bukan?. Lalu darimana lelaki tidak punya akhlak itu mampu menghidupi dua dapur dan anak anaknya di istri pertama?. Kedua, yang jadi dasar pertimbanganku adalah usia di ikuti status pernikahan. Tidak mungkin juga aku mencari pasangan yang usianya lebih muda dari aku. Apalagi dengan tampilan fisikku yang jauh sekali dari kata cantik. Dan tentu saja pria pria muda di luar sana lebih memilih gadis gadis muda seumuran mereka dan bukan perempuan yang lebih pantas mereka panggil kakak atau tante bukan?. Aku cukup tau diri bagian ini. Kalo pun akhirnya ada lelaki yang lebih muda dariku mendekatiku, aku langsung curiga, kalo dia hanya akan menjadikan aku tante girang yang bisa mengcover biaya gaul mereka di Jakarata. Jadi aku pasti buru buru menjauh atau menjaga jarak aman. Lalu terkait status pernikahan, jelas aku tidak mungkin bersedia jadi pacar apalagi jadi istri pria yang sudah beristri. Gak deh, walaupun jelek mending milik sendiri, supaya tidak was was juga. Kalo tidak mau tiba tiba di jambak wanita lain di tengah keramaian atau malah di labrak di rumah. Malu pasti, sakit hati juga pasti. Lalu kalo pun aku di dekati duda, tetap saja aku punya pertimbangan sendiri. Kalo duda tidak punya anak masih mending. Kalo duda punya anak, apalagi status dudanya hasil cerai dengan istri sebelumnya, pasti aku harus kerja keras sekali menyakinkan calon anak sambungku, kalo aku bukan pelakor. Duda yang istrinya meninggal pun, tetap ada resiko anak bawaan si duda, akan merasa sakit hati kalo papanya berniat menikahiku. Pasti ada rasa kesal, sakit hati, dan merasa almarhum mamanya di duakan sekalipun sudah meninggal. Kadang aku merasa, aku terlalu over thingking. Tapi kalo aku abaikan rasa khawatirku yang kadang berlebih, tidak mungkin juga. Aku pun seperti kebanyakan orang yang tentu saja tidak mau merasa sakit hati. Atau memang aku terlalu banyak maunya sampai akhirnya belum juga dapat jodoh?, apalagi dengan segala kekurangan tampilanku secara fisik?. Tapikan aku rasa manusiawi bukan?, kalo aku ingin punya pendamping terbaik untuk hidupku. Walaupun tidak sepenuhnya sempurna, minimal memenuhi syarat yang jadi bahan pertimbanganku. Jadi kalo kalian punya bujang seumuran aku, atau di atas aku dan cukup mapan, bolehlah kenalkan padaku. Tapi penting untuk di pastikan dulu, kalo lelaki bujang itu bersedia jadi suamiku. Rasanya tidak mungkin ya?. Kalo ada bujang mapan dan berumur mau jadikan aku istri, kalo di luar sana dia bisa pilih deretan gadis cantik yang bersedia jadi istrinya. Apalah aku ini. Duda mungkin ya?. Tapi kalo bisa jangan yang punya anak, nanti ribet seperti yang aku khawatirkan di atas tadi. Malas juga aku dengan drama ibu tiri ala ala. Tapi memangnya ada duda tanpa anak?. Rata rata pria lokal pasti menuntut keturunan dalam sebuah pernikahan. Jadi pasti jarang sekali duda tanpa anak di Indonesia, kecuali mungkin dianya di vonis tidak bisa punya anak. Tapikan aku ingin punya keturunan dengan lelaki yang nanti jadi suamiku. Happy aja rasanya melihat kedua temanku yang menikmati sekali peran baru mereka yang jadi ibu. Lalu aku harus gimana sekarang?. Umur setiap hari bertambah. Mau bodo amat dengan urusan nikah atau tidak menikah, jelas tidak bisa. Ibuku hampir setiap saat mengajakku bertengkar soal ini. Sampai ibuku berniat membawaku ke orang pintar supaya aku dapat jodoh. Pada akhirnya, aku jadi berpikir, orang orang kenapa repot sekali ya dengan masalahku yang belum juga dapat jodoh. Mereka tuh macam tidak ada pekerjaan. Ya kecuali ibuku. Kalo ibuku, aku yakin dia begitu karena sayang aku, dan mau aku bahagia macam abangku yang sudah menikah dan punya anak. Ada tidak sih tempat di mana orang tidak perduli soal pernikahan, atau tidak perduli pada status belum menikah di KTP?. Di negara kita tentu tidak, karena pola pikir masyarakatnya, di mana menurut banyak orang, menikah adalah tujuan masa depan lain setelah lulus kuliah dan akhirnya bekerja. Lalu aku harus gimana dong?. Apa aku menikah aja dengan lelaki yang bisa aku bayar andai dia bersedia jadi suamiku?. Hadeh….kok kesannya aku putus aja sekali. Andai aku tinggal di luar negeri, tentu aku tidak sepening ini menghadapi masalah jodoh dan pernikahan. Atau karena aku tidak bisa tinggal di luar negeri, gimana kalo aku hunting pria asing supaya bersedia jadi suamiku di masa depan?. Ya begitu saja, kan kemungkinan besar kalo pria asing atau bule itu jadi suamiku, aku akan di ajak ke tinggal di negara asalnya. Jadi aku akan bebas dari mulut julid orang orang yang selalu kepo dengan setiap keputusan yang aku buat untuk masa depanku. Tapi adakah pria bule yang mau dengan ikan paus terdampar seperti aku?. Ada mungkin ya?, kan setauku pria bule itu lebih menghargai perempuan bukan hanya dari tampilan fisiknya saja. Hadeh…..Rasanya kepalaku semakin pening. Udah dulu deh, besok kita lanjut lagi. Aku akan cerita pada kalian semua, gimana perjuanganku untuk dapat suami internasional versiku.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
751.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
984.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook