Sebelum kita mulai petualanganku dalam mencari pria bule untuk jadi pacar atau calon suami impianku, aku mau cerita dulu tentang usaha ibuku dalam mencarikan aku jodoh, atau lebih tepatnya supaya aku dapat jodoh. Soalnya aku langsung menolak saat ibu mencoba menjodohkan aku dengan putra temannya atau siapa pun lelaki yang ibu rekomendasikan padaku sebagai calon pacar atau calon suami. Bapakku cukup santai menghadapi kenyataan putri semata goleknya belum juga punya pacar atau punya calon suami. Tapikan orang tua perempuan tentu tidak begitu. Selain doa tentu ibu berusaha sekali membantuku agar aku berhasil punya pacar atau calon suami tadi.
Caranya apalagi kalo bukan mengajakku ke orang pintar. Iya orang pintar, alias dukun, atau bahasa halusnya paranormal. Awalnya aku menolak, tapi ibu pantang menyerah sekali menyakinkan aku.
“Musyrik bu!!, dosa” kataku mengingatkan.
Ibu berdecak.
“Kalo ngepet atau persugihan baru musyrik, lah ini cuma minta tolong sama tuh orang supaya nerawang apa ada yang salah sama diri elo Pie, ya namanya kita orang biasa, pasti gak bisa lihat, tapikan orang pintar gitu punya ilmu, jadi bisa lihat apa yang gak bisa kita lihat. Nyereat, gak apa, bagian dari usaha” bantah ibu.
“Memangnya mesti banget ya bu, gak cukup dengan ibu doain aku aja, kan doa orang tua manjur” kataku.
‘Ya ibu trus doa juga Pie. Tapikan tetap mesti usaha. Sekarang apa kurangnya elo sih?. Pinter, pendidikan tinggi, karier bagus, kok ya laki anyep aja sama elo. Itu yang ibu heran” jawabnya.
Aku menghela nafas. Ibu masa tidak bisa melihat kekuranganku?. Jelas jelas kelihatan sekali, terpampang nyata kalo aku gak keceh dan bodyku gendut. Begitu aja ibu masih tanya kurangnya aku. Dan karena aku berusaha jadi anak yang menurut pada orang tua, jadi aku setujui juga permintaan ibu, toh keberadaan orang yang di sebut orang pintar itu, masih berada di Jakarta. Sempat mokal juga sih waktu aku berdua ibu menyusuri gang sempit di suatu daerah yang cukup padat penduduk. Keren juga ya orang pintar zaman sekarang bisa berbaur dengan masyarakat sekitar sampai mereka dengan gampang menunjukan di mana rumah orang pintar itu. Dan rumahnya gak banget. Pokoknya rumahnya itu yang paling biasa aja atau malah kumuh ya, kalo di banding rumah di kanan kirinya. Kalo dia orang pintar, kenapa tidak buat dirinya kaya dulu, baru bantu orang lain?. Itu hal pertama yang buat aku heran.
Okey kita masuk ke rumah itu, aku dan ibu maksudnya. Ternyata sudah ada beberapa orang yang datang ke rumah orang yang di sebut nyai Ageng. Ada yang datang berdua macam aku dan ibu, ada juga yang datang sendirian, dengan dandanan cukup hits dan handphone mahal. Setidaknya ada gambar apple somplak di bagian belakang handphonenya, dan aku tau itu keluaran terbaru.
“Penyanyi dangdut Pie” bisik ibu menjeda tatapku.
“Darimana ibu tau?” tanyaku balas berbisik karena wanita itu menatap sekilas padaku dan ibu.
“Bajunya mini banget, padahal yang pakai udah bukan anak kecil lagi” jawab ibu.
Astaga…aku ngakak dong. Bisa aja ibu. Tapi aku langsung diam saat semua orang yang bersama kami saat itu menatapku.
“Jaga etitude, elo mah Pie, gak di mana gak di mana demen banget ngakak” omel ibu.
Bukan diam, aku malah tertawa lagi. Sering banget ibu bicara soal etitude padaku, padahal ibu yang mulai duluan mengabaikan etitude dengan membicarakan orang diam diam di depan orangnya lagi. Lucukan ya jadinya. Mengingatkan orang untuk menjaga sikap di muka umum, tapi dirinya sendiri berkelakuan minus di muka umum. Kalo bukan ibuku sudah aku ceramahi ibu. Tapi ya sudahlah kelakuan orang zaman sekarang memang selalu memancing setiap orang berkomentar. Anehnya orang zaman sekarang malah cenderung suka kelakuan minusnya menarik perhatian dan komentar julid banyak orang. Bangga aja gitu, seakan semakin minus kelakuannya, lalu semakin banyak orang yang julid malah semakin bangga. Apalagi di medsos. Lihat deh, aku pernah melihat medsos pasangan ABG lesbian, yang PD aja gitu pajang kemesraan dan story life mereka di medsos sampai mesra mesraan juga.
Aku bukan julid soal mereka yang punya orientasi seksual menyimpang ya?, itu hak mereka, aku tidak mau menghakimi. Tapi bo ya kalo hal pribadi jangan di umbar sebebas itu di media sosial. Bukan untuk pasangan seperti mereka aja, untuk pasangan normal juga sebenarnya harus berlaku juga. Apalagi belum menikah. Gak ada manfaatnya menurutku pamer kehidupan pribadi di medsos tuh, jadi seperti menelanjangi diri kita sendiri. Apa aja orang jadi tau. Kita sedih orang tau, kita tidak punya uang orang tau, memangnya ada yang akan kasih kita uang, atau minimal bersedia jadi pendengar curhatan kita. Paling banter nulis komentar sabar, atau malah menyukuri kemalangan kita. Trus sekali pun kita share hal menyenangkan atau hal happy macam holiday kesana kemari, atau makan di restoran atau ngopi cantik di kafe elite, manfaatnya apa juga?. Mau pamer gitu?. Apa yang mesti di pamerkan kalo orang lain juga bisa melakukan hal sama kalo mereka punya uang. Dahlah kenapa malah aku julid juga ya?, kembali lagi ke pribadi masing masing orang, mereka jelas punya alasan untuk melakukan sesuatu bukan?.
Aku soalnya dengan ibu akhirnya di persilahkan menemui nyai Ageng tadi setelah dua antrian sebelumnya sudah masuk kamar praktek si nyai, kalo memang itu sebutannya, baru giliran aku dan ibu yang masuk. Kalo ibu sibuk cerita soal keluhannya pada si nyai, yang ternyata ibu ibu seumuran ibuku, atau sedikit lebih tua dari ibu. Penampilannya sederhana dan dia pegang sebuah handphone merek terkenal tapi tipe paling jadul. Aku malah sibuk menatap ruang praktek si nyai yang aku pikir merangkap kamar tidurnya, karena ada ranjang besi lengkap dengan kasur ukuran queen size. Sperainya berwarna merah motif bunga besar, dan ada 4 bantal tanpa guling, juga satu selimut belang khas rumah sakit yang sudah tidak putih benar. Sederhana mendekati lusuh. Lalu uang hasil dia praktek di kemanakan ya?, kalo keadaannya jauh dari kata layak. Kalo dia punya pasien sebanyak yang aku lihat hari ini, dan kontans setiap hari, harunya uangnya banyak dong ya?. Ini kok begini?. Aku sampai heran.
“Neng, sini mukanya nyai lihat” jeda si nyai.
Ibu langsung menepuk bahuku. Aku dan ibu memang duduk sila berderet di hadapan di nyai yang juga duduk sila dengan baju gamis dan kerudung panjang warna hitam. Supaya memperjelas kalo dia orang pintar mungkin ya?. Kamarnya pun pencahayaannya remang remang, dalam artian hanya ada lampu bohlam ukuran 10 watt kali ya, sebagai penerangan. Entah maksudnya apa, pokoknya suasananya persis seperti suasana setting lapak dukun yang di buat tim kreatif anak buahku.
“Mau apa nyai?” tanyaku.
Bukan jawab, dia malah sudah memegang daguku dan mengamati wajahku.
“Gak apa apa kok anak ibu, hanya auranya gak kebuka. Jadi surem aja di lihat orang” jawabnya tapi lebih ke pada ibu.
Mendadak aku langsung memegang wajahku saat si nyai melepas daguku. Jadi merasa sia sia gitu akunya melakukan perawatan totok wajah di salon ternama yang katanya berfungsi membuka aura wajahku. Aku juga mendadak merasa sia sia memakai skin care mahal atas saran kedua sahabatku supaya mukaku kelihatan glowing walaupun umurku sudah 30 tahun. Belum perawatan pengangkatan sel kulit mati dan menghilangkan bekas jerawat dan menghilangkan kerutan di wajahku, yang harga tretmentnya sampai jutaan. Terus jadi gak guna dong kalo si nyai bilang aura wajahku tidak bersinar?. Hadeh…aku jadi mesti komplen pada siapa?. Pada kedua sabahatku yang punya suami sultan atau dokter kecantikan yang melakukan treatment?. Yakan gak mungkin bawa si nyai ke hadapan mereka lengkap dengan testimoninya. Untung aku tidak termakan rayuan karyawan dokter kecantikan untuk filler hidung dan daguku supaya mancung dan lancip. Aku bagusnya menolak juga menanam benang di area tulang pipiku supaya pipiku tidak sechubby sekarang. Masih untung ternyata, atau sebenarnya aku sedang berusaha mencari pembenaran atas kesalahanku?. Entahlah.
“Jadi mesti gimana nyai?. Kasihan anak saya belum juga ketemu jodoh” kata ibu kemudian.
Aku meringis mendengarnya. Apa yang mesti di kasihani dari diriku?. Itu pertanyaan pentingnya. Aku cukup sukses dengan karierku dan aku cukup mapan untuk menghidupi diriku dan keluargaku, kok ibu masih bisa bilang kasihan aku?. Gimana kalo aku jadi pengangguran?.
“Ya mesti di buka auranya bu” jawab si nyai.
“Caranya?” tanyaku menjeda penasaran dengan treatment si Nyai.
Kalo sampai aku harus keluar uang sampai jutaan lagi, mending aku ajak ibu pulang. Tapikan gak ada alat apa pun di ruang praktek si nyai.
“Pasang susuk Neng, bisa berlian atau emas” jawabnya.
Hah!!, harusnya aku sudah tebak kalo dunia klenik pasti berujung pada pemasangan susuk untuk treatmentnya. Tapi tetap aja aku gagu.
“Berapa duit nyai kalo pasang begituan?” ibu malah tanya lagi.
Sontak aku langsung melotot ke arah ibu, eh ibu malah focus pada si Nyai.
“Murah bu, satu berlian cuma kena 1 juta. Pasang aja tiga, di jidat biar berwibawa, di atas bibir ameh ketawa atau kalo si eneng ngomong jadi menarik, sama di dagu. Cukup kok, tapi gak bisa sekarang, harus saya beli dulu. Tapi kalo emas saya ada stok, murah sepaket cuma 1 juta emas mah, tiga titik juga di pasangnya” jelas si nyai.
Aku baru tau, kalo susuk itu ada yang ready stok dan ada yang indent. Jadi mesti open PO dulu, apa open BO ya?.
“Susah gak kalo mau di lepas?” tanya ibu lagi.
Aku sudah memijat keningku. Mendadak aku mau sekali buru buru keluar kamar praktek si nyai. Hawanya mendadak panas. Jangan jangan si nyai mulai undang setan atau jin?. Hadeh…ibu kenapa mendorong diri masuk neraka sih?. Sudah tidak mau aku dengar lagi percakapan si nyai dengan ibu, malas aja, toh di paksa ibu pun aku tidak akan mau memasang susuk. Gila kali harusnya ibu bersyukur kalo aku menolak, dan ternyata ibu juga menolak. Tapi ujungnya aku harus minum air mineral berisi kertas bertuliskan huruf arab, yang entah apa fungsinya,
“Kalo airnya tinggal dikit tambahin air gallon aja ya Pie. Pokoknya elo minum trus, itu air doa dari si Nyai, kali fungsi walaupun si nyai bilang reaksinya lama. Gak ada dah Pie, daripada elo pasang susuk, nanti elo di ikutin kuntilanak, mana elo tinggal sendirian trus di aparteman elo. Yakan ibu ngeri juga kalo elo sampai kesurupan” kata ibu memberikan penjelasan padaku begitu kami pulang.
Aku iyakan saja, dan aku minum dua atau tiga kali deh, hanya untuk menyenangkan ibu. Sisanya aku buang. Aku soalnya tidak merasakan perubahan apa pun, biasa aja juga. Tidak tiba tiba aku merasa secantik talent artis yang aku sewa untuk acara TV yang aku produksi. Dan benar si nyai, reaksinya lama sekali, atau malah tidak bereaksi sama sekali kalo sampai tiga bulan kemudian, kalo aku tidak salah hitung, ternyata aku tetap jomblo. Rencana dan usaha ibu di nyatakan gagal atau FAILED.
Aku pikir selesai ya usaha ibu agar aku dapat jodoh, ternyata ibu masih usaha tuh. Kali ini mengajakku ke pedepokan tempat seorang habib berada. Dan kali ini di luar kota. Dan karena pemaksaan lagi, akhirnya aku setuju, sampai adik lelakiku Dikha di paksa ibu jadi supir karena takut aku kecapean menyetir pulang pergi ke luar kota, tepatnya ke daerah kulon. Entah namanya apa, pokoknya ibu berbekal sharelock lokasi dari temannya.
“Elo mau mauan aja sih kak, ngapain sih gini ginian, kaya elo gak sekolah tinggi aja” bisik adikku saat kami mengekor ibu begitu sampai lokasi yang areanya tak jauh dari pantai.
“Udah deh daripada ibu ngomel, walaupun gue deg degan juga mau di apain di sini” kataku.
Habisnya ramai sekali tempatnya dan kebanyakan wanita muda dengan orang tuanya yang datang ke sini tuh. Ada juga wanita wanita dewasa umuranku atau malah emak emak muda yang datang keroyokan. Mesti daftar dulu pula dan mesti bayar uang pendaftaran.
“Aku mau di apain sih bu di sini?” tanyaku setelah proses administrasi selesai.
“Mau di mandiin aja biar jauh dari mata jahat Pie. Kalo aura mah gak perlu kali, muka elo udah glowing” jawab ibu.
Boleh ketawa gak sih?, di mandiin dong, macam aku tidak bisa mandi sendiri. Lalu ibu sibuk cerita lagi pada anak buah si habib soal maksudnya datang ke tempat itu. Si habibnya hanya duduk mengawasi di dampingi dua anak buahnya yang berdoa trus seperti orang tahlilan. Tentu tidak terdengar kalo banyak sekali orang yang berniat berobat juga.
“Di sini tuh bisa buat orang lupa sama rasa sakit hati, gak tau sih ibu gimana caranya. Katanya di bakarin apa gitu. Ngencengin nenen, rapatin v****a sampai apa aja deh keluhan perempuan.
Waduh!!, mendadak aku takut dan adikku meringis mendengarnya.
“Eh elo mah gak usah gitu gituan, elo mah cukup di mandiin air kembang aja, biar badan elo bersih dari hal jahat” kata ibu seperti membaca ketakutanku.
“Itu sih kenapa gak beli kembang di pasar aja bu, ngapain jauh jauh datang ke sini” kata Dikha yang bentuk tubuhnya segembul aku.
Kami memang turuan bertubuh embul, hanya ibu yang tidak, tapi bapak perawakannya tinggi besar, jadi aku dan saudaraku bertubuh tambun juga.
“Elo kalo gak ngerti diam aja, gak usah ikutan ngomong. Memangnya mpo elo apaan mesti mandi kembang di rumah?” omel ibu.
Lah pada akhirnya aku mandi kembang juga kok, mandi berendam kembang tujuh rupa tepatnya bersama beberapa orang perempuan lain dan di bantu pekerja wanita si habib. Habib bukan sih?, kok ngumpulin orang buat kaya gini bukan mengumpulkan orang untuk mendengarkan ceramah atau belajar ngaji. Kadang kadang aku suka bingung soal ini.
Lalu ritual jauh jauh mandi kembang pun tidak membuahkan hasil apa apa. Aku ya tetap jomblo. Boro boro dapat calon suami, pacar aja tidak punya. Tapi tetap ibu tidak kapok. Masih aja membawaku ke orang pintar yang hasilnya buat aku syok.
“Ibu pernah jahat sama orang ya?” tanya orang pintar yang lain.
Aku dan ibu kompak saling tatap.
“Kenapa emang?” tanyaku penasaran dengan jawaban nih orang pintar.
Dia menghela nafas dengan mode dramatis.
“Saya lihat mbanya macam di gantung, kaki mba di ikat, tangan mba juga. Mba di nikahin sama tanah kuburan sama orang yang dendam sama ibu atau bapak mba” jawabnya.
“HAH!!!” jeritku tidak bisa menahan diri.
Ibu aja terlihat syok. Bukan karena takut aku rasa. Kami tidak pernah jahat sama orang, perasaan ya. Lagian kok ada orang yang iseng banget sampai nikahin aku dengan tanah kuburan. Kapan aku nikahnya?, walinya siapa?, kalo gak ada walinya, gak sah dong ya pernikahanku itu, sekalipun secara agama.
“Tenang aja mba, saya bisa bantu. Mba cukup siapkan kain batik motif burung warna coklat 3, kebaya warna putih, kain kafan….” dan seterusnya dan seterusnya sampai ujungnya uang sebagai mahar dan itu ada jutaannya.
Gak deh, langsung aku ajak ibu pamit pulang, dan di situlah bapak ngomel pada ibu.
“Kurang kerjaan!!” omel bapak memulai.
Ibu sudah diam dan aku juga sih, karena kalo bapak sudah angkat bicara, suka menyeramkan.
“Punya Tuhan malah minta tolong sama manusia yang kuasanya terbatas. Lagian soal jodoh di tangan Tuhan bu, bukan di tangan dukun. Kok ya bapak diamkan ibu bukan mikir malah makin menjadi. Memangnya Novi apaan sampai tuh orang pintar bisa ngomong anak kita di nikahin tanah kuburan?. Ibu gak tanya tanah kuburan mana yang jadi suami Novi?” omel bapak.
Aku jadi serba salah. Harusnya aku tolak usaha ibu ya?, jadikan bapak tidak ngomel besar seperti ini. Tapia da bagusnya bapak ngomel, jadi ibu berhenti dengan usaha jalur klenik supaya aku dapat jodoh.
Tapi aku tetap tidak juga di buat tenang oleh ibu setelah masalah urusan dengan orang pintar selesai, ibu malah buat aku semakin memutuskan tidak ambil pusing dengan urusan kejombloanku atau status pernikahanku. Mau jadi jomblo seumur hidupku atau tidak menikah, bodo amat!!!. Salah ibu, kenapa selalu membicarakan kebiasaan lelaki di sekeliling kami atau yang ibu kenal dari tetangga, teman atau dari medsos, yang pastinya minus dan jauh dari kesan lelaki baik. Ternyata belum selesai urusanku dengan ibu, aku mesti cerita lagi di next, gimana kelakuan ibu yang membuatku seperti itu dan kita belum masuk ke proses pencarianku pada sosok lelaki bule yang akan jadi calon suami internasionalku. Sabar ya, sambil aku ingat ingat proses awal aku bersinggungan dengan pria pria bule atau pria asing itu seperti apa.