Aurel tidak langsung menjawab. Ia berdiri menatap jendela kamar apartemen itu, lampu kota memantul sebagai garis-garis keemasan di kaca. Samuel masih berdiri di belakangnya, napasnya terdengar berat, seolah menahan sesuatu yang sudah lama ingin keluar. Aurel bisa merasakan tatapan pria itu menusuk punggungnya, menelusuri setiap gerakan kecil yang ia lakukan. Hatinya berdebar, entah karena gugup atau marah, ia pun tak yakin. Samuel mendekat selangkah, suaranya rendah. “Kamu masih marah?” Aurel menghela napas. “Aku nggak marah.” “Kamu jelas marah.” Aurel menoleh setengah. “Kalau aku marah, apa kamu bakal minta maaf?” Samuel tidak menjawab. Itulah masalahnya. Samuel selalu seperti itu—penuh kontrol, penuh kuasa; pria yang terbiasa melihat dunia patuh pada perintahnya. Tapi tidak dengan A

