Aurel memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan napasnya yang sejak tadi kacau. Tatapan Samuel yang merayap perlahan ke wajahnya masih menempel kuat di benaknya—tatapan yang membuat tengkuknya meremang, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang tidak berani ia namai. Ruangan itu terasa lebih sempit daripada sebelumnya. Seolah udara ikut berkomplot untuk membuatnya semakin bingung menghadapi pria yang kini secara sah menjadi suaminya, meski hanya dalam kontrak setahun. Samuel berdiri tak jauh darinya, satu tangan bersandar di meja, tubuhnya tegak, diam, tetapi intensitasnya seperti menyala tanpa suara. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi Aurel bisa merasakan pikirannya bekerja. Itu justru lebih menegangkan daripada jika pria itu marah atau mengomel. Diamnya Samuel terlalu tajam, terla

