Bab 62

1261 Words

Aurel masih berdiri terpaku ketika Samuel bergerak sedikit menjauh, seolah memberi jeda agar Aurel bisa mengatur napasnya. Tapi jeda itu terasa seperti jebakan lain, membuat Aurel justru semakin sadar pada denyut jantungnya sendiri yang berisik. Ia menyandarkan tubuh ke meja, mencoba menenangkan diri, tetapi ia sadar Samuel tidak pergi begitu saja. Lelaki itu tetap di sana, memandangnya seakan mempelajari setiap perubahan kecil pada wajahnya. Aurel berdehem pelan. “Kamu harus kerja, kan?” Samuel mengangguk, tetapi tidak bergerak. “Iya. Tapi aku belum mau pergi.” Aurel meremas apron yang ia pakai. “Kenapa?” Samuel mengangkat alis sedikit, lalu menjawab seolah itu jawaban paling sederhana di dunia. “Karena kamu masih gemetar.” Aurel hampir tersedak. “Aku enggak gemet—” Ia berhenti sendi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD