Samuel masih berdiri di ambang pintu kamar ketika kata-kata terakhir tadi menggantung begitu berat di udara, seolah-olah baru saja mereka mengubah arah hubungan yang selama ini mereka tahan-tahan. Cahaya lampu kamar yang lembut menimpa wajahnya, memahat garis rahangnya yang tegang, sorot matanya yang bahkan lebih gelap daripada biasanya. Ia tidak bergerak, seakan takut kalau satu langkah saja bisa membuat segalanya jatuh berantakan—atau justru membuat semua batas yang selama ini mereka jaga runtuh begitu saja. Sementara itu, di ujung ruangan, dia hanya bisa berdiri mematung. Nafasnya kacau. Entah karena gugup, atau karena Samuel baru saja menunjukkan sisi dirinya yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Samuel bukan hanya protektif—dia intens. Sangat intens. Dan semua itu kini diarahkan sep

