Aurel tertegun saat pintu kamar terbuka, menampilkan Samuel yang berdiri dengan kemeja setengah terlepas dan rambut sedikit berantakan, seolah ia baru saja menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum masuk. Tatapannya langsung mengunci ke arahnya, begitu intens sampai Aurel refleks menggenggam ujung selimut. “Kamu sudah makan?” tanya Samuel, suaranya rendah, nyaris datar, tapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang membuat perut Aurel menegang tanpa alasan yang jelas. “Aku… belum terlalu lapar,” jawab Aurel, mengalihkan pandangan. Samuel masuk sepenuhnya, menutup pintu dengan pelan namun tegas, lalu mendekat beberapa langkah. “Aurel, kamu butuh makan. Aku nggak mau kamu sakit lagi.” Aurel menggigit bibir. “Aku baik-baik saja.” “Kamu tidak terlihat baik-baik saja.” Kalimat itu

