Samuel menggandeng tangan Aurel dengan erat saat mereka turun ke lobi hotel. Malam Tokyo masih ramai, lampu neon memantul di jalan basah, menciptakan bayangan yang bergerak mengikuti langkah mereka. Aurel menatap sekeliling, mencoba menenangkan pikirannya, tapi ketegangan yang dirasakannya sejak telepon ibunya masih menghantui. Ia sadar bahwa setiap langkah mereka bisa menjadi perhatian orang lain, setiap interaksi terlihat jelas bagi mata-mata yang mungkin mengintai kontrak mereka. “Kau baik-baik saja?” tanya Samuel tanpa melepas genggaman tangannya. Nada suaranya rendah, tegas, tapi ada kehangatan samar yang sulit diabaikan. Aurel mengangguk. “Aku… aku akan baik-baik saja. Hanya kaget dengan berita itu.” Samuel mengerutkan alis. “Kau nggak boleh sampai kaget, Aurel. Setiap informasi t

